KEPALA Bidang Propam Polda Jateng, AKBP Jamaludin Farti (kedua kiri) didampingi Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun SIK (kedua kanan) menunjukkan barang bukti tindak kekerasan yang terjadi pada wartawan Metro TV saat meliput kegiatan unjuk rasa beberapa waktu lalu di Mapolres Banyumas, Rabu (11/10).

PURWOKERTO, SATELITPOST-Kepolisian menetapkan empat orang oknum anggota kepolisian Banyumas sebagai tersangka atas penganiayaan dan pengeroyokan terhadap Wartawan Metro TV, Darbe Tyas, Rabu (11/10). Kekerasan pada wartawan Metro TV itu terjadi di tengah ricuh aksi tolak proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Senin (9/10) malam.

Empat orang tersangka tersebut rencananya akan dibawa ke Polda Jawa Tengah untuk menjalani sidang etik. Selain menetapkan empat orang dari oknum kepolisian, polisi juga memeriksa tiga orang dari oknum Satpol PP Kabupaten Banyumas, yang berpotensi sebagai tersangka.

Hasil penyelidikan kami empat orang diduga oknum polisi melakukan pemukulan terhadap saudara Darbe.

AKBP Jamaludin Farti
Kabid Propam Polda Jawa Tengah

Menurut Kabid Propam Polda Jawa Tengah, AKBP Jamaludin Farti, dirinya mengaku diutus langsung oleh Kapolda Jawa Tengah, untuk menangani kasus unjuk rasa, di mana wartawan Metro TV sempat menjadi korbannya. “Hasil penyelidikan kami empat orang diduga oknum polisi melakukan pemukulan terhadap saudara Darbe. Empat orang besok langsung kita bawa ke Polda, terkait proses kode etik. Karena dalam Perkap No 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri, diatur dalam pasal 7 huruf c, bahwa setiap anggota Polri dalam melaksanakan tugas harus secara profesional. Dari hasil penyelidikan empat oknum tersebut tidak profesional,” kata dia.

Menurut Jamaludin empat oknum polisi tersebut melanggar prosedur, sehingga sampai terjadi kasus penganiayaan. “Mereka dari satuan Sabhara. Mereka yang terlibat langsung dalam tindakan tersebut. Kalau kita (Propam, red) untuk menangani internalnya kode etik. Kalau untuk kode etik itu cukup berat ya, antara lain seperti dinyatakan perbuatan tercela, dilakukan pembinaan ulang, bisa demosi, bisa dimutasi, dan yang terakhir bisa pemberhentian tidak hormat,” ujarnya.

Sedangkan untuk persoalan pidana maupun undang-undang pers, hal tersebut diserahkan sepenuhnya kepada Polres Banyumas dan juga pemeriksaan terhadap oknum Satpol PP. “Dari empat orang tersebut juga masih kita dalami (terkait tambahan tersangka lainnya, red), ada kemungkinan. Empat orang yang sudah ditetapkan tersangka yakni Aiptu AS, Bripda GP, Bripda HD, dan Bripda Aya,” kata dia.

Sementara, menurut Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun SIK munculnya nama tiga orang dari oknum Satpol PP yang berpotensi jadi tersangka itu adalah hasil dari pra rekonstruksi antara pihak Polres Banyumas dan Satpol PP Kabupaten Banyumas. “Belum ada yang ditetapkan tersangka, kita masih periksa tiga orang itu hasil dari pra rekonstruksi yang mengerucut kepada tiga nama. Sedang kita dalami, kita punya waktu 1 x 24 jam untuk meningkatkan status dari oknum Satpol PP tersebut. Tiga orang tersebut memang berpotensi sebagai tersangka,” kata dia.

Untuk pasal yang dikenakan yakni pasal 170 junto 351 dimana sesuai dengan pelaporan Darbe Tyas. Sedangkan terkait UU Pers yang akan diterapkan kepada baik oknum Polisi maupun Satpol PP pihaknya masih menunggu perkembangan. “Sampai saat ini laporan yang kami terima hanya baru dari rekan wartawan Darbe Tyas. Untuk mahasiswa tadi saya sudah bicara dengan Rektor, mereka yang mengalami luka ataupun barang-barangnya rusak bisa membawa bukti-bukti dan melaporkan ke kami,” kata dia.

Kapolres berjanji akan menyelesaikan persoalan ini dengan cepat sehingga kasus tersebut bisa terselesaikan dengan cepat. Polisi juga menyita barang bukti berupa pakaian yang digunakan oleh Darbe Tyas dimana pada pakaian tersebut ada cap sepatu yang digunakan untuk menginjak Darbe. Selain itu juga ada kamera.

Hingga kemarin Darbe Tyas sempat diperiksa oleh pihak Sat Reskrim Polres Banyumas. Tak hanya Darbe, Dian Aprilia fotografer Suara Merdeka juga diperiksa untuk dimintai kesaksiannya terkait kasus tersebut.

Seperti diberitakan, kekerasan terjadi dalam aksi penolakan PLTPB di depan Pandapa Sipanji Purwokerto, Senin (9/10) malam. Kekerasan fisik dialami Darbe Tyas, wartawan Metro TV saat dia meliput aksi demonstrasi tersebut.

Tak hanya Darbe, sedikitnya ada empat wartawan lain yang mengalami intimidasi hingga disusul perampasan atribut dokumentasi. Keempat wartawan tersebut yakni Agus Wahyudi (Suara Merdeka), Aulia El Hakim (SatelitPost), Maulidin Wahyu (Radar Banyumas) dan Dian Aprilianingrum (Suara Merdeka).

Selain wartawan, kekerasan juga dialami oleh peserta aksi. “Ada 24 teman kami yang dibawa oleh anggota Polres Banyumas dengan cara yang tidak manusiawi. Diseret, diarak, dan dipukuli bersama-sama. Padahal kami sedang duduk-duduk dan aksinya damai. Tenda kesehatan kami juga dirusak total,” kata Riskianto, korlap aksi Aliansi Mahasiswa Purwokerto. Belakangan, pihak kepolisian membeberkan bahwa 24 peserta aksi itu sudah dilepaskan. (shandiyanuar@yahoo.com)

1. Kasatpol PP Akui Anggotanya Lakukan Penganiayaan

Kepala Satpol PP Pemkab Banyumas, Imam Pamungkas mengakui ada tindak kekerasan dan penganiyayaan dari Satpol PP. Dia menyatakan tidak akan melindungi anak buahnya yang sedang diperiksa oleh Polres Banyumas akibat melakukan penganiayaan terhadap wartawan saat meliput demonstrasi penolakan PLTPB Gunung Slamet.

“Saya tidak akan melindungi anak buah saya karena saya sebelumnya sudah ngomongi jangan sampai ada yang nyentuh dan mukul ke demonstran, apalagi ke wartawan. Perintah polisi waktu itu hanya diminta membongkar tenda, setelah itu mereka saya perintahkan masuk,” kata Imam Pamungkas, Rabu (11/10).

Ia mengatakan sedang dinas ke Jakarta, dan di kantornya sedang dilakukan pemeriksaan internal baik dari penyidik PNS dan Inspektorat. Sedang berjalan separo waktu, ada permintaan pemeriksaan dari Polres dan Polda, sehingga pemeriksaan internal dilanjutkan setelah pemeriksaan oleh kepolisian.

Menurutnya pihak wartawan dan pengunjuk rasa juga punya data-data yang menunjukkan fakta ada tindakan kekerasan. Khusus ke pekerja media, ia mengakui ada anak buahnya yang ikut bersuara dan bertindak menghalang-halangi sejumlah wartawan yang sedang meliput.

“Ini sudah tanggung jawab pribadi, karena saat kejadian yang saya lihat mereka minta wartawan yang meliput keluar, tapi kok tiba-tiba ada insiden keributan (penganiyaaan). Ini saya tidak tahu karena posisinya berada di luar gerbang kabupaten. Hasil pemeriksaan sementara, saya sudah ada gambaran siapa saja orangnya,” kata dia.

Sekretaris Satpol PP, Jarot mengatakan, saat bertugas dalam pengamanan unjuk rasa Senin lalu, ada 40 personel aparat Satpol yang diturunkan. “Yang diperiksa oleh PPNS kami, yang mendapat perintah ikut mengamankan demonya. Soal sanksi kalau pidana itu wilayah kepolisian, kalau secara kepegawaian belum bisa diketahui karena baru permulaan pemeriksaan,” kata dia yang menegaskan, sanksi tetap akan diberikan.

Sedangkan menurut anggota Komisi D DPRD Banyumas, Yoga Sugama, sanksi kepada pelaku oknum aparat Satpol PP harus diberikan, sebagai efek jera.

Yoga Menjelaskan, mereka menjalankan tugas tersebut juga atas perintah pimpinan, sehingga pimpinan tetap harus bertanggung jawab. Jangan hanya menjatuhkan sanksi kepada bawahan.

“Mestinya pimpinannya mulai komandan Satpol PP sampai bupati harus ikut bertanggungjawab. Aparat Satpol PP ini di bawah kewenangan pemerintah daerah dan pimpinan tertinggi adalah bupati. Ini untuk menunjukkan rasa keadilan dan  berjiwa besar merespon kasus tersebut,” kata dia. (aulia el hakim)

2. Satu Anggota Satpol PP Mengaku Tak Lakukan Kekerasan

OKNUM Satpol PP menjalani pemeriksaan terkait kekerasan yang terjadi pada wartawan Metro TV di Mapolres Banyumas,Rabu (11/10).

Seorang anggota Satpol PP Kabupaten Banyumas, yang terlihat dalam video kasus penganiayaan wartawan Metro TV, Darbe Tyas mengaku tidak melakukan tindakan kekerasan terhadap Darbe.

“Saya tidak tahu, saya tidak melakukan apa-apa,” ujar anggota Satpol PP berinisial I kepada SatelitPost, Rabu (11/10). Sebelumnya I terlihat dalam video terkait kekerasan yang muncul dalam berita di Metro TV.

Dia mengaku mengaku bertugas di sekitar lokasi Darbe Tyas dipukul. “Saya kan bertugas di situ, jadi saya ada di situ. Saya tidak tahu apa-apa. Permasalahan sebenarnya apa saja saya tidak tahu,” kata dia.

Sedangkan menurut seorang Satpol PP lainnya yang sepintas terekam dalam video, berinisial H mengaku dirinya hanya menampar kamera milik Darbe dan tidak melakukan tindakan apa-apa. “Seperti ada HP di muka saya, soalnya di depan muka saya jadi saya tampar kameranya. Tetapi saya tidak melakukan apa-apa habis itu, saya tidak tahu kalau ada persoalan itu,” ujarnya. (shandi yanuar)

Komentar

komentar