TELAGA Merdada mungkin tak memiliki sumber mata air sendiri. Seluruh air yang menggenangi danau teluas di Dataran Tinggi Dieng ini adalah tampungan air hujan. Meski demikian, telaga satu ini tetap menjadi sumber air utama bagi petani yang bercocok tanam di sekitar danau berlumpur tersebut.

Selain menjadi sumber air bagi petani, Merdada juga mampu menghidupi warga sekitar yang menggantungkan diri ke sektor pariwisata. Sejak 90an dulu, telaga ini menjadi satu destinasi wisata di Dataran Tinggi Dieng.

Belakangan, beriringan dengan semangat konservasi hutan sekitar telaga, muncul pula sebuah jenis wisata alam baru di telaga tersebut. Jenis terbaru suguhan wisata alam Dataran Tinggi Dieng ini adalah kayak.

Usaha penyewaan kayak yang dirintis seorang warga bernama Irham ini terbilang berbeda dengan layanan wisata alam sejenis di tempat lain. Jika wisata kayak di tempat lain biasa dilakukan di tempat terbuka yang relatif memiliki cuaca hangat, di Merdada, suasana yang disuguhkan jauh berbeda.

Setiap dayungan di telaga tersebut akan mengantar wisatawan ke dalam lautan kabut pekat lengkap dengan tiupan angin dingin khas Dataran Tinggi Dieng. Terlalu jauh mendayung ke tengah telaga pun akan membuat wisatawan tersesat di tengah serbuan kabut. Namun, hal ini bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Sebab, kemanapun wisatawan pergi, seorang pendamping akan terus mengawal dengan kayak lain.

Irham, pengelola kayak yang ditemui SatelitPost kemarin memberikan sedikit penjelasan. Untuk menikmati kayak dengan suasana sureal ini wisawatan hanya perlu mengeluarkan Rp 50 ribu. “Rp 50 ribu itu untuk sewa kayak selama satu jam penuh,” ujar dia.

Selain mendapatkan sensasi berkayak di tengah lautan kabut, wisatawan juga akan mendapatkan hal lainnya. Yakni, makanan tradisional yang diberikan pengelola lokasi wisata secara cuma-cuma. “Jadi lima puluh ribu itu, selain untuk kayak juga untuk makanan tradisional. Menu utamanya nasi jagung,” kata Irham lagi.

Menurutnya, wisawa alam terbaru Dataran Tinggi Dieng ini mulai dibuka sejak Agustus 2016 lalu. Meski demikian, saat itu, kayak hanya menjadi sebuah project pengenalan saja. Selain itu, pengenalan wisata alam ini juga dilakukan untuk mendukung langkah konservasi alam di sekitar telaga.

“Dulu, telaga itu penuh kebun kentang, sampai pinggiran. Sejak dua tahun lalu kita tumbuhkan lagi pepohonan besar. Kita berharap kayak bisa menjadi pendamping upaya konservasi yang sedang dilakukan warga Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara ini,” kata dia.(topan pramukti)

Komentar

komentar