PAGEDONGAN,SATELITPOST- Hafidin (10), bocah kelas V SDN 1 Kebutuhjurang Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara ini rela kehilangan masa bahagia dan bermain seperti teman-temannya pada umumnya. Hafidin harus mendapatkan uang tiap harinya, sedangkan ibunya, Biyah (40) dan sang Kakek, Sumedi (82) warga Desa Kebutuhjurang Kecamatan Pagedongan ini sudah tak mampu lagi bekerja.

Selesai sekolah, saya langsung pulang dan berharap ada orang yang menyuruh saya untuk beli sesuatu. Upahnya saya kasihkan ke ibu.

Hafidin
Bocah dari Pagedongan

Kepada SatelitPost, ibunda Hafidin, Biyah mengatakan, semenjak ayahanda Hafidin meninggal dunia 5 tahun lalu ditambah dengan sakit reumatik yang dideritanya menjadikan tak lagi ada orang yang akan bekerja mencari makan. “Kakek sudah sangat renta dan tak mampu lagi bekerja. Kami mengandalkan Hafidin mendapatkan upah jika disuruh-suruh orang,” katanya, Jumat (8/9).  Biyah mengatakan, jika tidak ada yang ‘mrentah‘ Hafidin, dirinya mengandalkan pemberian makan dari para saudara maupun tetangganya.

RUMAH Hafidin yang sudah rata dengan tanah di Desa Kebutuhjurang, Kecamatan Pagedongan,
Kabupaten Banjarnegara, Jumat (8/9).

Penderitaan keluarga tersebut seakan tidak ada akhirnya. Saat ini, keluarga tersebut menempati rumah milik saudaranya yang ditinggal merantau di Kalimantan. “Rumah kami sudah roboh sejak lama karena lapuk dan tak punya biaya untuk mendirikannya lagi. Kami tidak tahu akan tinggal di mana jika pemilik rumah datang,” katanya.

Beruntung, kata dia, usai Hari Raya Idulfitri lalu, dirinya banyak mendapat bantuan uang tunai dari banyak handaitaulan sehingga dapat melunasi tagihan LKS Agama kelas 5 sebesar Rp 8.000 serta uang seragam sekolah sebesar Rp 100.000.

HAFIDIN (tengah) bersama kakek dan ibunda di rumah saudaranya di Desa Kebutuhjurang, Kecamatan Pagedongan,
Kabupaten Banjarnegara yang ditempati sementara, Jumat (8/9).

Hafidin, saat ditanya apa cita-citanya hanya mengatakan ingin ibundanya sehat dan miliki rumah agar bisa cerita kepada teman-temannya bahwa dirinya punya rumah. “Selesai sekolah, saya langsung pulang dan berharap ada orang yang menyuruh saya untuk beli sesuatu. Upahnya saya kasihkan ke ibu,” katanya. (gatotgat@yahoo.com)

Mengingatkan Tasripin dan Indah

Indah

Kasus anak yang harus berjuang menjadi tulang punggung keluarga bukan hanya dialami oleh Hafidin. Kasus mirip juga pernah terjadi di eks Karesidenan Banyumas. Adalah Tasripin warga Cilongok yang jadi perhatian sampai level nasional.

Pada tahun 2013, Tasripin yang saat itu masih berusia 12 tahun harus mengurus tiga adiknya yang masih kecil. Adapun ayahnya saat itu merantau. Fakta itu kemudian sampai ke telingan Presiden Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan SBY pun secara khusus memberikan bantuan pada keluarga Tasripin.

Tasripin

Selain Tasripin, ada juga kasus serupa yang terjadi di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Di tahun 2013 juga, tiga gadis bersusah-payah menjadi tulang punggung keluarga. Adalah Indah yang saat itu berusia 17 tahun, Supriani Astuti yang saat itu berusia 15 tahun, dan Juliah yang kalah itu berusia 13 tahun harus menjadi buruh cuci pakaian dan pembuat bulu mata.

Ketiganya bahu-membahu menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi mereka masih memiliki adik yang saat itu masih berusia lima tahun yang bernama Sayang. Ibu mereka bernama Tarmini mengalami depresi berat. Sementara, sang ayah yang bernama Winarto sudah meninggal dunia. (lil)

Komentar

komentar