PURBALINGGA, SATELITPOST-Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Purbalingga memvonis hukuman mati pada Amin Subechi dalam sidang, Senin (9/10). Amin dinilai terbukti melakukan pembunuhan sadis pada Hanani Sulma Mardiyah (24) dan neneknya Eti Sularti (65) pada Januari 2017.

Putusan ini sejalan dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Dalam sidang sebelumnya JPU menuntut Amin dengan hukuman mati. Atas vonis tersebut, penasihat hukum Amin, berencana akan melakukan banding.

“Menyatakan terdakwa Amin Subechi terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, melakukan pembunuhan berencana sebagaimana dakwaan jaksa penuntut umum. Oleh karena itu dijatuhi hukuman mati,” kata Ketua Majelis Hakim Ageng Priambodo SH, saat membacakan putusan di PN Purbalingga.

Dalam amar putusannya, majelis sependapat dengan dakwaan JPU yang menyebutkan terdakwa melanggar pasal 340 KUHP. Perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tergolong sadis, karena menghilangkan dua nyawa perempuan sekaligus.

Sesaat setelah membacakan vonis, Ketua Majelis Hakim Ageng Priambodo memberikan kesempatan kepada terdakwa berkonsultasi dengan penasihat hukum Imbar Sumisno. Saat itu juga, terdakwa dan penasihat hukumnya, menyampaikan akan mengajukan banding pada Pengadilan Tinggi.

Majelis hakim juga menanyakan tanggapan terhadap JPU atas putusan tersebut. Jaksa yang mengawal kasus ini menyatakan akan pikir-pikir atas putusan tersebut.

Sementara itu, sidang mendapatkan penjagaan ketat dari aparat kepolisian Polres Purbalingga. Pasalnya, pada sidang putusan ini, jumlah simpatisan korban mencapai ratusan orang. Selain dari keluarga korban, massa datang dari berbagai kelompok masyarakat.

Sebelum sidang dimulai, ratusan massa melakukan orasi di halaman PN Purbalingga, menuntut hukuman mati terhadap terdakwa. Selain membacakan puisi, juga memainkan aksi teaterikal pocong, yang menggambarkan Amin harus dihukum mati. Mereka juga membawa poster-poster yang menyatakan tuntutan mati terhadap terdakwa.

Ditemui usai sidang, Imbar Sumisno menuturkan, bahwa putusan yang diberikan itu dinilai memberatkan. Oleh karena itu, pihaknya menyampaikan akan naik banding. Setelah kami cermati, banyak fakta persidangan yang dinilai masih imajinatif.

“Menurut kami fakta di persidangan dan dakwaan-dakwaan jaksa masih bersifat imanjinasi. Putusan pidana mati yang jelas itu tidak manusiawi, karena tujuan pemidanaan tersebut itu bukan sebuah dendam, tidak mempertimbangkan keadilan pada terdakwa, tapi keadilan hanya pada pihak  koban,” kata dia.

Imbar menambahkan, pihaknya juga sangat menyesalkan dari majelis hakim tidak menyampaikan sama sekali adanya unsur yang meringankan. Menurutnya, seharusnya ada dan bisa untuk jadi pertimbangan keputusan.  “Tadi dalam pertimbangannya, tidak ada unsur yang meringankan dari terdakwa, dan harusnya itu ada,” ujarnya.

Lebih lanjut, Imbar menyampaikan akan tetap melakukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT). Dia cukup yakin pada PT nanti ada putusan yang lebih adil. Baik untuk pihak korban, terdakwa, juga adil untuk masyarakat.

Masih dari Imbar, terkait dakwaan bahwa Amin melakukan pembunuhan yang sudah direncanakan, ia masih tetap membantah. Karena, peralatan seperti pisau, palu, lakban, dan lainnya, itu merupakan alat yang biasa ia gunakan saat bekerja, di industri gula semut.

“Sedangkan motor yang diparkir tidak di halaman korban tapi di depan sebuah toko modern, itu karena paving di rumah korban sedang rusak, dan kalau kerja juga biasa parkir di situ (depan toko modern, red). Klien saya baru dua kali ke rumah korban,” kata dia.

Terkait dipatahkannya pendapat bahwa pembunuhan korban itu tidak direncanakan sebelumnya, pihaknya akan bertahan pada keyakinannya. Dia berpendapat bahwa  pembunuhan yang terdakwa lakukan itu tanpa direncanakan. Menurutnya, terdakwa membunuh Hanani dan Eti, lantaran munculnya emosi yang spontan karena ucapan korban Hanani.

“Saat itu klien saya sudah mau pulang, terus sama korban Hanani disuruh pamitan ke neneknya yang ada di dapur. Saat itu klien saya menanyakan lagi terkait hubungan ‘bener putus, nih? Nggak nyesel?’. Ucapan Amin ditanggapi ucapan pedas dan kasar oleh Hanani sembari masuk ke rumah. Saat itulah emosi Amin meledak dan menghabisi Hanani dan neneknya,” ujar Imbar.

Sementara, Kasi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Purbalingga, Masmudi SH MH yang hadir di pengadilan, mengaku puas dengan vonis hakim. Pihaknya sangat serius dan berhati-hati dalam menyusun dakwaan. “Itu sebabnya sidang pembacaan tuntutan dari pihak kami sampai tertunda dua kali,” ujarnya.

Terkait akan melakukan banding, Masmudi tidak mempersoalkannya. Langkah banding tersebut dinilai memang menjadi hak bagi pihak terdakwa.

Seperti diberitakan sebelumnya, Hanani Sulma Mardiyah  (23) dan neneknya Eti Sularti (70) ditemukan tewas dengan luka gorok di leher mereka, pada Rabu siang (11/1). Selang sehari, petugas Satuan Reskrim Polres Purbalingga menangkap Amin Subechi, tersangka pelaku yang kabur dan bersembunyi di Bogor.

Dari pemeriksaan terungkap motif pembunuhan itu berlatarbelakang asmara. Korban Hanani memutuskan hubungan mereka. Amin berusaha mendekati dan merayu korban agar hubungan nyambung kembali.

Pada Senin pagi (11/1), Amin mendatangi rumah korban di Kelurahan Kalikabong Kalimanah. Setelah sempat berbincang di teras rumah, Hanani kembali menegaskan hubungan mereka sudah habis. Hanani mengucapkan hal itu sembari masuk ke dalam rumah.

Amin yang kesal menyusul masuk dan mendorong korban hingga terjatuh di kamar korban. Mendengar suara gaduh, Eti Sularti yang tengah berada di dapur bergegas menuju ke kamar cucunya.

Di ruang depan, Eti dihadang oleh Amin yang langsung mendorong perempuan tua itu hingga jatuh telentang. Amin juga menginjak leher korban. Sesaat kemudian, Amin mengambil pisau dari tas ransel yang ditaruh di teras rumah. Dengan pisau itu, Amin menggorok leher Eti dan Hanani. (aminbellet@gmail.com)


1. Keluarga Korban Puas

Dua orang keluarga korban, yakni Sri Hastuti dan Tri Haryanto mengaku puas karena vonisnya sesuai dengan tuntutan. Menurut mereka, hukuman mati itu dinilai adil dengan apa yang telah dilakukan terdakwa. Selain itu, hanya vonis mati itu yang bisa mengurangi kepedihan keluarga korban.

“Kami mengapresiasi keputusan majelis hakim yang telah menjatuhkan vonis mati. Kami berharap hakim pengadilan tinggi akan menguatkan keputusan PN Purbalingga,” ujar Sri Hastuti

Ratusan simpatisan yang sejak pagi berorasi menuntut majelis hakim menghukum mati terdakwa juga meluapkan kegembiraannya dengan melantunkan salawat badar. Tidak sedikit yang berpelukan sambil meneteskan air mata. (amin wahyudi)


2. Tangis Amin Tak Terbendung

Selama di ruang sidang, terdakwa Amin yang mengenakan kemeja putih, celana hitam, serta peci, hanya duduk terdiam dengan kepala menunduk. Meskipun nampak ada kesedihan, tetapi tidak terlihat ada air mata dari terdakwa.

Tapi setelah dibawa kembali masuk ruang tahanan PN, tangisnya tidak terbendung. Laki-laki berusia 27 tahun itu menangis histeris, begitu juga dengan kakak kandung terdakwa yakni Setiyono (29).

Menurut Setiyono, hukuman seumur hidup saja itu dinilai terlalu berat, apalagi diputus hukuman mati. Dia sangat berharap, nantinya jika melakukan banding, putusan yang diberikan kepada adiknya bisa berubah.  “Seumur hidup saja masih terlalu berat, apalagi hukuman mati, itu berat sekali,” katanya sembari menangis.

Dia mengaku tidak kuat menerima kenyataan tersebut. Pasalnya, Amin dalam kesehariannya merupakan orang yang sikapnya biasa saja tanpa banyak ulah. Bahkan, dia juga menilai kalau Amin itu seorang yang alim.

“Dia itu paling alim di keluarga, termasuk alim lah di masyarakat. Dia tidak pernah berulah, termasuk kata-kata yang menyakitkan orang,” ujarnya.

Selama proses persidangan atas kasus yang dijalani adiknya, Setiyono selalu datang mengawal. Sedangkan keluarga lainnya hanya berdoa di rumah, mereka tidak kuat menyaksikan peristiwa tersebut.  “Selama persidangan hanya saya, keluarga lain di rumah, berdoa, mereka tidak kuat jika mengingat peristiwa seperti ini,” ujarnya. (amin wahyudi)

Komentar

komentar