KASUBSI Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas II Cilacap, Pitono memperlihatkan foto WNA yang dideportasi karena melanggar UU Keimigrasian, pelanggaran izin tinggal dengan modus menggunakan visa kunjungan, Rabu (6/12).SATELITPOST/RENI TANIA

CILACAP, SATLITPOST-Sejak Januari sampai awal Desember kemarin, Kantor Imigrasi Kelas II Cilacap mendeportasi sebanyak 18 warga negara asing (WNA) dari berbagai negara. Dikarenakan mereka melanggar administrasi keimigrasian. Kebanyakan para WNA melakukan pelanggaran izin tinggal dengan modus menggunakan visa kunjungan wisata.

WNA yang dideportasi ini di antaranya, empat orang dari Australia, satu orang dari Bangladesh, empat orang dari China, satu orang dari Hongkong, satu orang dari Irak, satu orang dari Kenya, empat orang dari Malaysia, satu orang dari Singapura, dan satu orang dari Vietnam. Delapan di antaranya WNA tersebut bekerja di Cilacap yang bekerja di industri, lainnya dari wilayah Purwokerto dan Kebumen.

“Terakhir, kemarin kami melakukan deportasi kepada WNA di satu service center ponsel di  Purwokerto. Setelah dilakukan pemeriksaan diduga kuat yang berangkutan melangar pasal 75 UU nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian,” kata Kepala Subseksi Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas II Cilacap, Pitono SH SE, Rabu (6/12) kemarin kepada wartawan.

Pitono mengatakan diketahuinya WNA dengan inisial ZL, karena dilakukan pemantauan oleh Tim Pengawasan Orang Asing (Pora) di Purwokerto. Karena disinyalir ada beberapa WNA yang bekerja di counter handphone merek tertentu yang ada di sana.

“Kami melakukan pemantauan selama satu hari, dan dua hari setelah pemantauan kita temukan yang bersangkutan. Lalu kita lakukan tindakan membawa ke kantor dan yang bersangkutan tidak bisa menunjukkan dokumen,” katanya.

Selain ZL tidak bisa menunjukan dokumen keimigrasian, serta yang bersangkutan diduga kuat melakukan aktivitas kerja yang tidak sesuai dengan visa, yakni kunjungan. ZL di deportasi ke negaranya pada Selasa (5/12) kemarin.

“Tindakan kepada yang bersangkutan kami deportasi dan nama yang bersangkutan diajukan untuk disangkal  masuk ke Indonesia dalam jangka waktu satu tahun,” ujarnya didampingi Riendy Lehardy Kasubsi Status Keimigrasian, Kustono Kasi Lalu Lintas Keimigrasian dan Sri Mulyani Kasi Informasi dan Sarana Komunikasi Keimigrasian.

Tidak berhenti sampai disitu, TimPora juga akan terus memantau WNA di Purwokerto lainnya, karena saat ini perkembangan di kota tersebut sudah sangat pesat. Banyak pusat perbelanjaan dan cabang dari perusahan tertentu yang ada di sana. Bahkan terbaru, akan adanya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) di Baturraden.

Jumlah WNA yang dideportasi selama satu tahun ini, lebih tinggi dibandingkan dengan WNA yang dideportasi pada tahun 2016 lalu, yakni hanya 10 orang. Satu di antaranya dilakukan pro yustisia. (ale_rafter@yahoo.co.id)

Komentar

komentar