AL-IHYA Ulumaddin adalah pondok pesantren (pesantren) tertua di Kabupaten Cilacap. Pesantren seluas 4 hektare ini terletak di Desa Kesugihan Kidul, Kecamatan Kesugihan.

Pesantren Al-ihya Ulumaddin didirikan oleh KH Badawi Hanafi pada tahun 1343 H atau tahun 1924 M.

KH Badawi Hanafi lahir tahun 1885 M di Kabupaten Purworejo. Beliau adalah putra dari KH Fadil, seorang pedagang yang terkenal sangat religius. Konon sewaktu  berdagang di pasar beliau tidak pernah melepas tasbihnya.

KH Fadil dikenal sebagai seorang yang sangat ramah terhadap siapapun.  Beliau juga dikenal sebagai sosok yang suka menolong terhadap fakir miskin maupun kepada pedagang kecil dengan tidak menerima keuntungan sedikitpun dari pinjaman yang diberikan. Sifat inilah yang kemudian turun kepada KH Badawi Hanafi.

Semasa kecil KH Badawi Hanafi menimba ilmu di Pesantren Wonotulus Purworejo, sekitar 4 Km dari rumahnya. Melihat semangat puteranya dalam menimba ilmu, KH Fadil menitipkan KH Badawi Hanafi ke Pesantren Loning, Purworejo (tahun 1895-1901 M). Kemudian pada tahun 1901-1921 beliau melanjutkan menimba ilmu di Pesantren Bendo, Kediri yang diasuh oleh Syekh Khazin.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, KH Badawi Hanafi  bekerja sebagai tukang jam dan menjahit. Hasil dari pekerjaan tersebut tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan pribadinya selama mengaji, tapi juga ditabung  untuk kemudian dikirimkan ke rumah guna membantu orangtuanya.

KH Badawi Hanafi  termasuk santri kesayangan Syekh Khazin. Beliau sering ditunjuk untuk menjadi imam salat saat sang guru berhalangan. Setelah 20 tahun nyantri di pesantren ini, Syekh Khazin memerintahnya untuk pulang dan berdakwah di masyarakat.

Akan tetapi karena cintanya terhadap ilmu, KH Badawi Hanafi  tidak langsung menetap di rumah. Beliau mondok dulu di Pesantren Lirap Kebumen yang diasuh oleh KH Ibrahim selama tiga tahun.

Selain menuntut ilmu, beliau juga beriyadhoh (latihan penyempurnaan diri secara terus menerus melalui zikir) guna mencari tempat untuk berdakwah dan mendirikan pesantren. Beliau ingin mendapatkan petunjuk tentang lokasi di mana sebagiknya pesanteren tersebut berdiri.

KH Badawi Hanafi  mendapatkan ilham untuk membangun pesantren di Kuripan, Cilacap Kota, Sumur Gemuling, Sitinggil dan Kesugihan. Dari beberapa tempat tersebut, beliau mendapat petunjuk dari Allah untuk memilih Kesugihan yang tidak lain adalah tempat tinggal orang tuannya saat itu.

Perjuangan dakwah dimulai dari musala peninggalan ayahnya. Musala tersebut dikenal dengan nama Langgar Duwur.

Awalnya Pesantren Al-ihya Ulumaddin dikenal sebagai Pesantren Kesugihan. Pada tahun 1961 berubah nama menjadi Pendidikan Pengajaran Agama Islam/PPAI. Kemudian pada tahun 1983 namanya diubah kembali menjadi Pesantren Al-ihya Ulumaddin.

Perubahan nama ini dilakukan oleh KH Ahmad Mustolih Badawi, pengasuh ketiga sekaligus putera dari KH Badawi Hanafi. Perubahan itu dilakukan untuk mengenang ayahnya yang sangat mengagumi karya monumental Imam Ghozali, yakni kitab Ihya Ulumiddin.

Setelah KH Badawi Hanafi wafat, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh putra dan menantunya, yaitu KH Ahmad Mustolih Badawi dan KH. Muhson. Kepemimpinan Pesantren Al-ihya Ulumaddin berikutnya dipegang putra ke-7 KH Badawi Hanafi: KH Chasbulloh Badawi.

KH Chasbulloh Badawi biasa dipangggil oleh para santrinya sebagai  Romo Chas atau Mbah Chas. Romo Chas ulama yang sangat sederhana, tapi cakrawala pemikirannya sangat luas. Beliau sangat kagum dan terinspirasi sekali dengan Hujjatul Islam Imam Ghozali. Banyak orang menjuluki beliau sebagai Imam Gozali-nya Cilacap. Beliau adalah perintis cikal bakal madrasah di pesantren sampai kemudian merintis berdirinya Yayasan YA BAKII yang kini menaungi sekitar 53 lembaga pendidikan formal dari mulai TK sampai perguruan tinggi.

Senin 5 Juni 2017 Romo Chas tutup usia. Beliau mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Geryati Purwokerto. Berita tetang meninggalnya ulama NU ini menyebar di grup-grup Whatsapp dan mengundang ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan. Romo Chas sebelumnya mengemban amanah sebagai Mustasyar PBNU selepas Muktamar Ke-33 NU di Jombang, 2015 lalu.

Saat ini kepemimpinan di Pesantren Al-ihya Ulumaddin diteruskan oleh KH Imdadurrohman Al-‘Ubudi, putra dari KH Achmad Mustolih Badawi (kakak Romo Chas).

Selamat jalan Guru kita Almukarom Romo KH Chasbulloh Badawi. Engkau akan tetap ada dihati kami. Kami bangga menjadi santrimu. (*)

Komentar

komentar