NARASUMBER memberikan sosialisasi Rencana Pengembangan Angkutan Aglomerasi Perkotaan Wilayah Barlingmascakeb Koridor I Purwokerto-Purbalingga di Table Nine Purwokerto, Selasa (14/11).SATELITPOST/ANANGFIRMANSYAH

PURWOKERTO, SATELITPOST-Angkutan aglomerasi Bus Rapid Transit (BRT) Barlingmascakeb Trans Jawa Tengah Koridor 1 Purbalingga-Purwokerto Selasa siang (14/11) disosialosasikan ke kalangan pelajar. Sejumlah guru dan pelajar menginginkan BRT melintas di Jl Gatot Subroto wilayah perkotaan Purwokerto.

Rizki Hermawan, pelajar dari SMK Kesatrian mengaku setuju dengan adanya BRT. Menurutnya, tarif BRT yang direncanakan hanya Rp 1.000 untuk kalangan pelajar akan sangat bermanfaat. “Saya setuju ada BRT karena tarif murah, Rp 1.000, ” kata dia.

Siswa lainnya yakni Rifqi Haidar mengatakan, saat ini warga masyarakat lebih suka menggunakan kendaraan pribadi untuk kepentingan transportasi. Ini yang menjadi PR bagi pemerintah daerah agar masyarakat mau beralih menggunakan kendaraan umum (BRT). Sebab ia juga menginginkan pelajar menggunakan BRT ketimbang menggunakan kendaraan pribadi.

Selain siswa, kalangan pendidik juga turut mengomentari rencana operasional BRT. “Saya tadi melihat rute BRT belum melewati Jalan Gatot Subroto, padahal di jalan tersebut banyak terdapat kompleks sekolah. Jika BRT ada, akan sangat membantu siswa kami untuk menuju ke sekolah. Sebab siswa kami juga ada yang berasal dari luar kota,” kata Sri Rahayu, seorang pelajar peserta sosialisasi.

Pelajar lainnya Ali Alif mengatakan, jika BRT bertarif lebih murah, dan layanannya lebih baik, nantinya dapat berdampak pada angkutan umum lain yang sudah ada. “Saya juga ingin BRT lewat Jl Gatot Subroto. Tapi ada satu pertanyaan jika BRT lebih baik, nanti semua penumpang memilih naik BRT, lalu angkutan yang sudah ada bagaimana?” kata dia.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah Ginaryo mengatakan, rencana tarif BRT untuk kalangan pelajar dan buruh adalah Rp 1.000, adapun untuk penumpang umum Rp 3.500. Tarif menurutnya memang dibuat terjangkau agar masyarakat mau beralih dari kendaran pribadi untuk kemudian menggunakan BRT.

Adapun tentang kekhawatiran mengenai nasib angkutan umum, ia kembali menegaskan jika BRT nantinya yang mengelola bukanlah pemerintah, melainkan dari kalangan operator angkutan umum yang ada saat ini. “Mereka yang mengelola sendiri, pemerintah hanya memfasilitasi dan membeli layanan mereka saja,” kata dia.

Adapun mengenai rute dan titik halte, pihaknya sampai saat ini masih menerima masukan dari berbagai pihak. Usulan dan masukan tersebut nantinya akan dimatangkan dan dimusyawarahkan dengan semua pihak.

Sementara itu Sekretaris Organda Kabupaten Banyumas Is Heru Permana menambahkan, terkait dengan operasional BRT perlu disikapi dengan adanya perubahan pola pikir. Hal ini menurutnya bukan perkara mudah.

“Pelajar diharapkan memang untuk berangkat ke sekolah menggunakan kendaraan umum saja, tapi faktanya banyak pelajar di bawah umur yang ke sekolah sudah naik kendaraan sendiri. Mereka (pelajar) sudah nyaman berangkat naik motor sendiri, ini yang harus diubah, ” kata dia. (kim)

Komentar

komentar