Pemkab Tak Bisa Normalisasi Sungai

Jadi Wewenang Balai Besar Terkait Banjir Antisipasi Banjir

CILACAP, SATELITPOST-Dangkalnya sungai-sungai yang ada di Cilacap menjadi satu penyebab limpahan air hujan tidak tertampung di sungai. Namun, Pemerintah Kabupaten Cilacap mengalami kesulitan untuk melakukan normalisasi sungai-sungai yang ada di Cilacap.

Pasalnya, kewenangan tersebut ada pada Balai Besar Wilayah Sungai Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Pemkab yang memiliki wilayah belum memiliki payung hukum untuk melakukan normalisasi sungai.

Sungai mulai dari kecil sampai besar merupakan kewenangan Balai Besar atau kewenangan pusat, tapi saya yakin dari Balai Besar tidak mungkin untuk bisa menangani  sampai terkecil. Karena itu, kita sedang upayakan payung hukum agar kita ikut mengelola.

Saeful Hidayat
Pelaksana Tugas Kepala DPSDA Cilacap

“Sungai mulai dari kecil sampai besar merupakan kewenangan Balai Besar atau kewenangan pusat, tapi saya yakin dari Balai Besar tidak mungkin untuk bisa menangani  sampai terkecil. Karena itu, kita sedang upayakan payung hukum agar kita ikut mengelola,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Cilacap, Saeful Hidayat, Rabu (11/10).

Karena itu, langkah yang sudah dilakukan oleh Pemkab melalui Dinas PSDA, kata dia, dengan berkomunikasi dengan BBWS Serayu Opac, dan BBWS Citanduy, serta sudah maju ke Dirjen Sumber Daya Air di Jakarta. Hal ini dilakukan untuk mencari legalitas, atau payung hukum sehingga ketika pemkab melakukan normalisasi sungai tidak disalahkan.

“Kalau target secepatnya, kalau sudah ada payung hukumnya agar kita ikut mengelola. Jika sudah jelas, kita akan inventarisir (sungai) dan langsung meminta SK Bupati. Kita berbuat baik belum tentu benar, karena kewenangan kita terbatas,” katanya.

Nantinya jika memang sudah ada payung hukumnya, maka sungai-sungai ordo 4, seperti Sungai Sentul, Sungai Kodok, yang akan segera dilakukan normalisasi. Sebagai upaya untuk mencegah terjadinya banjir di Kota Cilacap. Meskipun banjir pada Sabtu (7/10) kemarin, kata dia, merupakan kejadian alam. Pada saat itu terjadi pasang tinggi, dan hujan ekstrem. Sehingga air hujan yang masuk sungai dan harusnya ke laut tidak terbuang ke sana.

Sedangkan untuk normaliasi Sungai Kaliyasa, kata dia, diperkirakan akan dilakukan pada tahun 2018 atau 2019, karena ditangani oleh Balai Besar. Panjang usulan secara keseluruhan normalisasi ini mulai dari Sentolo Kawat, sampai dengan PPSC.

Wakil Bupati Cilacap Akhmad Edi Susanto mengajak masyarakat untuk ikut memelihara selokan dan saluran irigasi. Sehingga aliran yang tersumbat akibat banyaknya sedimentasi dan juga sampah bisa menjadi lancar kembali. “Pemerintah ini juga akan memerhatikan pembangunan, agar tidak menghambat saluran-saluran air,” katanya.

Tri, warga Sidanegara yang rumahnya berada di depan Sungai Sentul meminta agar pemkab segera melakukan normalisasi atau pengerukan sedimentasi di sungai tersebut. Karena sekarang ini sungai tersebut sudah tidak lagi menampung air ketika hujan tiba.

“Kami inginnya sungainya dikeruk, biar lebih dalam, jadi bisa menampung air lebih banyak lagi. Ngga kaya kemarin, yang akhirnya sampai masuk ke rumah,” katanya.

Seperti diketahui, pada Sabtu pekan lalu terjadi banjir besar. Bahkan, banjir ini juga melanda daerah Kota Cilacap yang sebelumnya jarang banjir. (ale_rafter@yahoo.com)

Banjir Kalijeruk dan Bringkeng Rugikan Rp 353 Juta

Air Banjir masih menggenangi areal pemukiman warga di Desa Bringkeng Kecamatan Kawunganten sampai Rabu (11/10) sore kemarin. Air yang menggenangi areal jalan dan pemukiman warga ini diakibatkan karena air kiriman dari Desa Kalijeruk yang sebelumnya mengalami banjir, dan juga dari Desa Kubangkangkung.

Akibatnya, genangan air ini membuat sebanyak 480 kepala keluarga atau 1800 jiwa di Dusun Sidaurip dan Dusun Sumbereja yang terdampak sejumlah 637 kepala keluarga atau 2.333 jiwa terdampak banjir. Meskipun air masuk ke dalam rumah, belum ada warga yang mengungsi.

“Kondisi kemarin genangan air masih ada di 6 wilayah RT dengan ketinggian air antara 5 cm sampai 20 cm,” ujar Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap.

BPBD sudah melakukan pengiriman bahan makanan kepada warga yang terdampak, dan juga obat-obatan sebagai antisipasi penyakit yang terjadi pada saat terjadi bencana dan pasca banjir.

Tri Komara mengatakan, sampai saat ini perhitungan perkiraan kerugian yang terjadi akibat dampak banjir di Desa Kalijeruk dan juga Desa Bringkeng ini diperkirakan sekitar Rp 353 juta. “Perkiraan kerugian sebesar Rp 353.800.000,” ujarnya.

Kerugian ini di lihat dari kerugian yang terjadi di masyarakat, mulai aset dan juga perekonomian dari masyarakat.

Sementara potensi hujan masih akan terjadi di sekitar wilayah Kabupaten Cilacap, seiring dengan masuknya musim hujan di Cilacap. “Hujan ringan sampai sedang diperkirakan masih terjadi pada hari ini (Kamis),” ujar Rendi Krisnawan, Prakirawan dari Stasiun Meteoroligi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap. (reny tania)

Komentar

komentar