PEMILIK Nafi'a Cake and Bakery mengemas kue kering buatannya untuk diproduksi menjelang Lebaran. Ada beragam macam kue kering dengan aneka ragam inovasi yang ia produksi. SATELITPOST/ALFIATIN

LEBARAN Idulfitri menjadi satu hari yang paling ditunggu umat muslim setelah sebulan menjalani ibadah puasa. Bahkan, dalam menyambut hari nan fitri tersebut, hampir seluruh umat muslim mempersiapkan segala hal. Mulai dari kebersihan diri, kebersihan dan kerapian rumah, baju baru, makanan hari raya hingga beragam camilan dan kue disajikan di atas meja untuk menyambut tamu.

 

Kue kering menjadi satu hal yang tidak pernah terlewatkan disiapkan masyarakat. Itulah yang ditangkap beberapa masyarakat memanfaatkan momen spesial setahun sekali ini. Sekarang, bisnis kue kering mulai menjamur di mana-mana. Dari toko-toko kue, ibu rumah tangga, sampai mahasiswa dan pelajar pun tertarik mencoba bisnis nan menyenangkan itu.

 

Seperti Nofiya Dwi Pangest‎i (26), pemilik Nafi’a Cake and Bakery ini, sejak tiga tahun terakhir, sudah memilih membuat aneka macam kue kering setiap bulan Ramadan. Sebelumnya, menurut dia, bisnis kue keringnya hanya sebagai sambilan saat menjelang Lebaran setelah selesai mengajar.

 

Namun, mulai beberapa bulan lalu ia memilih fokus dengan usaha makanan satu di antaranya kue kering saat menjelang Lebaran ini. Pasalnya, ‎pendapatan yang didapatkan menurut dia cukup lumayan.

 

“Awalnya si cuma untuk ngisi waktu luang karena kebetulan suka masak-masak. Buat kue untuk sendiri di rumah, terus kepikiran sembari nyoba dipasarkan. Ternyata pendapatannya lumayan, jadi keterusan, setiap menjelang Lebaran ya bikin kue,” kata pebisnis asal Banyumas tersebut, Sabtu (17/6).

 

‎Kue kering yang dijajakannya bisa mendapatkan penghasilan per toples minimal Rp 5 ribu. Itu pun tergantung dari kualitas bahan yang digunakan. Kue dengan kualitas bahan standar, hasilnya menurut dia akan lebih banyak.

 

“Kalau saya, selalu menggunakan bahan yang berkualitas. Meskipun untungnya lebih sedikit tapi yang penting customer-nya puas,” katanya.

 

Bukan tanpa alasan, ia memilih menggunakan bahan kualitas bagus untuk kue keringnya. Pasalnya, kualitas akan mempengaruhi permintaan dari customer. Dengan kualitas yang terjaga ia bisa mendapatkan pelanggan lebih banyak. ‎”Lebih baik untung sedikit tapi pelanggan banyak, daripada untung banyak tapi pelanggannya sedikit,” kata dia.

 

Permintaan kuenya menurut dia selalu meningkat setiap hari. Terlebih beberapa hari menjelang Lebaran. Sehari, ia bisa memproduksi 10-20 toples kue kering aneka macam. “Lumayan penghasilan bisa buat Lebaran,” katanya.

 

Hal serupa ‎pun diungkapkan Darti (40) warga Purbalingga. Sudah bertahun-tahun ia memilih menjual aneka macam kue kering setiap Ramadan. Awalnya, ia mengaku hanya mencoba belajar membuat kue kering untuk konsumsi sendiri. Dua kali Lebaran, beberapa tetangga pun mulai memesan kue kering kepadanya. “Alhamdulillah dari awalnya iseng untuk keluarga kok ada yang order,” kata dia.

 

Guru sebuah MI swasta ini mengaku cukup bersyukur dengan banyaknya orderan kue keringnya. Pasalnya, ia bisa membuat tanpa ada rasa tertekan karena sudah menjadi hobi. Bahkan, pesanan kue keringnya bukan lagi perorangan, tapi sudah mulai diambil reseller. ‎”Asyik sebenarnya, walaupun musiman setiap menjelang Lebaran, tapi lumayan lah. Sekarang, omzet sehari sekitar Rp 2 juta,” katanya. (alfiatin)

 

Komentar

komentar