PURWOKERTO, SATELITPOST-Selain wartawan, korban dari kericuhan saat aksi menolak PLTPB adalah peserta aksi. Sehari berselang, ribuan massa berbondong bondong memenuhi Jalan Jenderal Sudirman Sleasa (10/10), tepat di sebelah selatan Alun-alun Purwokerto. Mereka mengecam keras tindak kekerasaan yang dilakukan aparat pemerintah terhadap perserta aksi penolakan PLTPB satu hari sebelumnya.

“Aksi hari ini mengecam keras tindakan anggota Polres Banyumas dan Satpol PP yang melakukan penganiayaan terhadap peserta aksi damai,” kata Riskianto, korlap aksi Aliansi Mahasiswa Purwokerto.

Meski diguyur hujan, massa terus bertambah dari arah barat. Nampak sejumlah pemuda dari wilayah Kecamatan Cilongok beserta ribuan mahasiswa lainnya berbaris memasuki barisan utama aksi di selatan Alun-alun Purwokerto.

“Hari ini yang ikut aksi berasal dari mahasiswa Unsoed, IAIN Purwokerto, UMP, Amikom, Telkom, Unwiku dan beberapa lagi yang terus bertambah kami belum mendapatkan datanya. Pemuda warga desa terdampak juga ikut meski berangkat dari jauh,” kata dia.

Selain mengecam keras langkah aparat pemerintah yang melakukan tindak kekerasan, peserta aksi juga membawa perwakilan dari LBH Yogyakarta yang akan ikut membantu mengusut tuntas tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat pemerintah.

“Ada 24 teman kami yang dibawa oleh anggota Polres Banyumas dengan cara yang tidak manusiawi. Diseret, diarak, dan dipukuli bersama-sama. Padahal kami sedang duduk-duduk dan aksinya damai. Tenda kesehatan kami juga dirusak total,” kata dia.

Dari data yang dikumpulkan oleh Aliansi Mahasiswa Purwokerto dan Aliansi Selamatkan Slamet, peserta aksi tidak hanya dipukuli terus menerus, namun juga dirampas alat dokumentasinya. Sejumlah telepon gengam milik peserta aksi dirusak, dan sebagian disita. “Kalau handphone yang disita kami belum tahu sudah dikembalikan atau belum. Sepeda motor milik peserta aksi juga dirusak,” kata dia.

Menurutnya, tindak kekerasan terhadap peserta aksi penolokan PLTPB akan terus diusut. Sebab dinilai telah mencederai demokrasi dan kebebasan berpendapat.

“Peserta aksi penolakan PLTPB kemarin sedang membaca selawat, sedang bernegosiasi dengan anggota Polres Banyumas. Tidak sedang memaksa masuk area Pemkab dan tidak melakukan perusakan. Tapi tiba-tiba disapu bersih, sedang baca selawat dipukuli,” kata dia.

Ia mengatakan, pihaknya juga menuntut kerugian materil, seperti rusaknya tenda, telepon genggam dan sepeda motor milik peserta aksi. “Kami bersama LBH Yogyakarta tidak berhenti sampai di sini. Permintaan maaf saja tidak cukup sebab ini merupakan langkah aparat pemerintah yang sudah mencederai demokrasi,” kata dia.

1. Bupati dan Kapolres Meminta Maaf

Di tengah aksi berlangsung, Bupati Banyumas Ir Achmad Husein dan Kapolres Banyumas AKBP Bambang Yudantara Salamun datang menemui ribuan massa di selatan Alun-alun Purwokerto. Keduanya mengatakan meminta maaf atas tindakan aparat yang melakukan kekerasan terhadap peserta aksi.

“Mohon maaf atas kejadian tadi malam. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya menyesal, dan sangat kecewa. Tuntutan kalian saya perjuangkan, sudah saya sampaikan ke Gubernur Jawat Tengah,” kata Ir Achmad Husein kepada ribuan perserta aksi massa.

Sedangkan Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudantara Salamun bersumpah di hadapan ribuan peserta aksi bahwa tindak kekerasan yang dilakukan oleh anggotanya adalah sesuatu yang tidak ia inginkan.

“Demi Allah, demi Rasulullah. Apa yang terjadi tadi malam itu bukan yang saya inginkan. Semua personel yang tadi malam terlibat, kami telusuri. Kami follow up, dan mohon adik adik bersabar, saya tidak bisa asal langsung pecat,” kata AKBP Bambang Yudantara Salamun kepada  peserta aksi.

Ia menjanjikan akan bersikap adil dan memproses anggotanya yang sudah melakukan tindak kekerasan di luar ketentuan yang ditetapkan. Menurutnya, Polres Banyumas tidak akan mengebiri proses demokrasi yang berlangsung di Banyumas. (kim)

 

2. 24 Peserta Aksi Sudah Dilepaskan

Setelah kericuhan dalam aksi tolak Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTB), puluhan peserta aksi sempat dibawa oleh pihak kepolisian. Mereka yang dibawa ada dari mahasiswa dan masyarakat Kabupaten Banyumas. Mereka dibawa di Polres Banyumas setelah sebelumnya sempat menjadi korban kekerasan.

Dalam hal ini Kapolres Banyumas AKBP Bambang Yudhantara Salamun SIK mengaku sudah melepaskan mahasiswa maupun masyarakat yang sempat diamankan oleh pihak kepolisian dengan jumlahnya sekitar 24 orang. “Memang sempat kami amankan, tetapi sudah kami lepaskan tadi,” ujar dia Selasa (10/10).

Sedangkan dari keterangan seorang demonstran yang sempat diamankan pihak kepolisian dan enggan disebutkan namanya mengaku sebelum diamankan dirinya sempat dipukul menggunakan benda tumpul serta bogem mentah. Hingga kemudian dibawa ke dalam mobil menuju Mapolres Banyumas. Saat sampai di Mapolres dirinya bersama rekan-rekan lainnya disuruh berjalan menuju kantor Mapolres dengan gaya jongkok bebek dan diminta untuk membuka pakaiannya. Setelah itu mereka kemudian dimintai keterangan satu persatu oleh anggota kepolisian.

Menurut Kabag Ops Polres Banyumas, Kompol Suranto SH dirinya sempat membenarkan jika demonstran sempat disuruh berjalan jongkok ala bebek dan disuruh membuka bajunya. “Tetapi sama Pak Kasat Reskrim dilarang agar tidak seperti itu,” kata dia. (san)

Komentar

komentar