Kalau perintah dari pimpinan sudah jelas, sesuai dengan undang-undang, penyampaian pendapat di muka umum itu tidak boleh di objek vital dan tempat ibadah. Untuk Candi Borobudur itu kan merupakan obyek vital dan tempat ibadah

Kompol Malpa Malaccopo SH SIK MIK
Waka Polres Banyumas

BANYUMAS, SATELITPOST-Tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Rakhine State, Myanmar memicu reaksi dunia, tak terkecuali masyarakat di Banyumas. Satu di antara bentuk protes yang akan dilakukan adalah aksi di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Namun, Polri melarang aksi unjuk rasa ini karena dinilai melanggar ketentuan yang ada.

Waka Polres Banyumas, Kompol Malpa Malaccopo SH SIK MIK, mengatakan, Polres Banyumas melarang masyarakat Banyumas ikut dalam aksi tersebut. “Kalau perintah dari pimpinan sudah jelas, sesuai dengan undang-undang, penyampaian pendapat di muka umum itu tidak boleh di objek vital dan tempat ibadah. Untuk Candi Borobudur itu kan merupakan obyek vital dan tempat ibadah,” kata dia.

Ia, mengatakan untuk mengantisipasi tindakan-tindakan yang tidak diinginkan sebagai ungkapan rasa simpatik kepada kasus kemanusiaan di Rohingnya, Polres melakukan patroli di beberapa vihara di Kabupaten Banyumas. “Ada 22 vihara yang kita lakukan patroli. Semua situasi bisa terjaga dan lebih aman,” ujarnya.

Selain melakukan patroli Polres banyumas juga mendatangi beberapa tokoh agama serta masyarakat. Polri mengimbau agar mereka tidak berangkat ke Magelang. “Sesuai SOP untuk antisipasi kita siapkan personil yang ditempatkan di Kemranjen, Somagede dan Sokaraja. Jika ada yang hendak berangkat kita minta untuk pulang,” ujarnya.

Sementara di Kecamatan Karanglewas, Polsek juga aktif menyampaikan imbauan agar warga tidak ikut serta dalam aksi di Candi Borobudur. Polsek Karanglewas juga semakin intensif menemui tokoh agama dan tohok masyarakat seperti yang telah dilakukan di Desa Singasari, Kecamatan Karanglewas.

Kapolsek Karanglewas, AKP Sus Irinto SH, mengatakan telah menugaskan anggotanya untuk menemui tokoh-tokoh di masing-masing desa. “Kami menerjunkan Bhabinkamtibmas untuk menyambangi tokoh masyarakat dan agama bahkan ke masing-masing kepala dusun di desa-desa. Ini dilakukan untuk memantau dan mencegah aksi bela Rohingnya yang menurut informasi akan diselenggarakan di Candi Borobudur,” ujarnya.

Dari informasi tokoh masyarakat setempat, tidak ada warga yang berencana berangkat ke Magelang untuk bergabung menyampaikan aksi bela Rohingnya yang rencananya akan digelar pada hari Jumat (8/9). Walaupun demikian pihaknya akan terus melakukan pemantauan. “Dari hasil laporan Bhabinkamtibmas di masing-masing desa sampai sekarang belum ada warga yang berencana berangkat ke Candi Borobudur,” kata dia.

Namun, pihaknya juga meminta bantuan kepada perangkat desa untuk meneruskan informasi kepada masyarakat, agar tidak berangkat ke Candi Borobudur. “Kalau memang mau menyalurkan bantuan kemanusiaan salurkan saja melalui rekening Bank yang ditunjuk untuk menghimpun bantuan tersebut, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Polsek Gumelar juga merespons peredaran selebaran dan undangan aksi bela Islam terkait tragedi Rohingnya di Candi Borobudur Magelang, Jawa Tengah pada hari Jumat (8/9). Polisi memonitor ormas pemuda dan ormas Islam yang berada di wilayah hukum Polsek Gumelar.

“Kontrol dan monitoring sudah dilaksanakan sejak awal pekan ini. Tujuannya ‎untuk mengantisipasi pergerakkan masa dari Kecamatan Gumelar,” kata Kapolsek Gumelar, AKP Suparman, Rabu (6/9).

Monitoring dilakukan dengan mengunjungi ormas Islam dan tokoh agama baik itu NU ataupun Muhammadiyah serta menyambangi ke Balai Desa Gancang untuk berkoordinasi dengan kepala desa dan aparat desa lainnya tentang kemungkinan adanya pergerakkan masa menuju Candi Borobudur.

“Bilamana di wilayah Kecamatan Gumelar akan terjadi pergerakkan masa baik dari ormas pemuda ataupun ormas Islam segera kami data, selanjutnya akan diteruskan ke Polres Banyumas,” kata Kapolsek.

Sampai dengan hari ini, lanjut Kapolsek, dari hasil  monitoring  belum ada indikasi akan terjadi pergerakan ormas pemuda ataupun ormas Islam menuju Candi Borobudur dalam kegiatan aksi bela Islam tersebut. “Sementara masih nihil. Namun kami pantau terus sampai hari Jumat,” katanya. (shandiyanuar016@gmail.com/rare.mio@gmail.com)

 

Hati-hati Sikapi Isu di Media Sosial

PERSOALAN yang menimpa etnis Rakhine mendapat sorotan serius dari berbagai kalangan. Tak tekecuali dari masyarakat Banyumas. Namun, tokoh agama dan tokoh masyarakat Banyumas mengingatkan agar hati-hati menyikapi berbagai postingan media sosial terkait konflik Rohingya agar tidak mudah terprofokasi.

Ketua FKUB Kabupaten Banyumas, Mohammad Roqib, pada pertemuan dengan tokoh agama serta tokoh-tokoh masyarakat di Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyumas, Rabu (6/9), mengaku prihatin dengan kasus kemanusiaan yang terjadi di Rohingnya. Pertemuan ini digelar agar dukungan kepada muslim Rohingya bisa lebih kondusif.

“Pada dasarnya setiap manusia itu membutuhkan persaudaraan, apapun background agamanya harus saling menyayangi mencitai sesama manusia. Semakin beda di antara kita, semakin kuat alasan kita untuk menolong sesama,” kata dia.

Ia mengatakan, persoalan kemanusiaan di Myanmar berkaitan erat dengan masyarakat Banyumas. Sebab, menurutnya suatu ikatan kemanusiaan tidak ada batasan antara satu wilayah dengan wilayah lain. “Terlebih lagi komunikasi yang terjalin selama ini, seperti dari media sosial dan elektronik lainnya,” ujarnya.

Roqib meminta agar masyarakat lebih memilah dan berhati-hati jangan sampai terpengaruh informasi sesat di media sosial yang menyebarkan berita tidak benar. “Media sosial yang tidak bisa dipahami dengan baik, nanti bisa disalahpahami oleh masyarakat. Oleh karena itu kami tokoh umat beragama punya kewajiban untuk menggandeng semua komponen yang dimotori oleh Polres Banyumas, Kementrian Agama dan tokoh-tokoh agama lainnya,” kata dia.(shandi yanuar)

Komentar

komentar

BAGIKAN