AJIBARANG, SATELITPOST-Operasi pasar gas elpiji 3 Kg dilakukan di Kantor Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jumat (8/9). Namun, pelaksanaan operasi pasar yang menjual gas elpiji 3 Kg dengan harga murah itu menuai kekesalan warga.

Seharusnya operasi pasar gas 3 Kg ini kan buat warga pengguna dan golongan kurang mampu. Lah tadi banyak pedagang yang ikut ngantre.

Ali
Warga Ajibarang Kulon

Dalam operasi pasar itu, gas elipiji 3 Kg dijual dengan harga Rp 15.500. Bahkan, jika membawa KTP bisa mendapatkan dua tabung. Namun, yang disayangkan, antrean untuk mendapatkan gas melon itu didominasi pedagang dan warga yang dinilai tak berhak dengan gas bersubsidi tersebut.

Seorang warga Ajibarang Kulon, Ali (40) melampiaskan kekesalannya dengan keluar dari antrean. Ia mengaku kecewa karena sudah antre dari pagi namun sampai siang belum mendapatkan gas elpiji 3 kg. Alhasil, dia harus pulang kembali membawa tabung kosong.

“Seharusnya operasi pasar gas epliji 3 Kg ini kan buat warga pengguna dan golongan kurang mampu. Lah tadi banyak pedagang yang ikut ngantre. Mereka beli bisa 6 sampai 8 tabung. Ya akhirnya warga miskin seperti saya tidak kebagian,” katanya dengan nada kesal.

Menurutnya, modus para pedagang bisa turut antre membeli di lokasi operasi pasar dengan meminjam KTP orang lain. Bahkan KTP yang dibawa bisa 3-4 KTP. Para pedagang ini beralasan mendapat titipan dari tetangganya atau kerabatnya sehingga bisa membawa pulang 6-8 tabung gas melon. Untuk satu KTP, warga bisa membeli maksimal 2 tabung. “Kalau petugas operasi pasarnya mungkin nggak tahu itu pedagang. Tapi kami tahu dan kenal orang itu,” kata dia.

Dia berharap, untuk operasi pasar selanjutnya, pihak Hiswana Migas lebih selektif lagi melakukan pengecekan terhadap pembeli. Menurutnya, sebaiknya yang bisa mendapatkan elpiji 3 kg dalam operasi pasar adalah warga yang datang sesuai KTP-nya.

Dalam operasi pasar kemarin, ratusan warga memang sangat menunggu. Bahkan, begitu truk yang mengangkut gas elpiji 3 kg memasuki halaman kantor Kecamatan Ajibarang, mereka berbondong-bondong dengan membawa tabung gas kosong.

Siti (30) warga Ajibarang Kulon tak mau ketinggalan. Dia mengaku, sudah sepekan ini kehabisan gas. Toko tempat dia berlangganan telah kehabisan stok. Dia membawa dua buah tabung dan KTP asli untuk ditukarkan di lokasi operasi pasar gas elpiji 3 kg tersebut.

“Tadi saya lihat ada truk elpiji. Saya langsung buru-buru ambil tabung saya. Katanya sudah dua kali ini ada operasi pasar, tapi yang kemarin saya ndak tahu dan banyak yang ndak tahu, buktinya sekarang masih antre panjang.”‎ katanya.

Apa yang dikatakan Siti benar adanya. Sejumlah pengguna gas melon lainnya juga mengaku baru tahu ada operasi pasar elpiji 3 kg yang digelar di Kecamatan Ajibarang kali ini. “Saya tahunya dari tetangga, kalau lagi ada operasi pasar gas 3 kg. Harganya Rp 15.500. Kalau bawa KTP bisa dapat dua tabung,” kata Azhar (35) warga Desa Lesmana. (rar)

Tak Bisa Kontrol Satu per Satu

Bambang Pramono, Ketua Bidang LPG Non Subsidi Hiswana Migas Banyumas mengatakan pihaknya tidak bisa mengontrol satu per satu pembeli gas LPG 3 kg yang digelar selama operasi pasar (OP). Hiswana Migas hanya bisa melakukan kontrol dan imbauan terhadap pangkalan yang menjadi rekanannya.

“Kalaupun di lapangan ada penyalahgunaan yang tidak pada peruntukannya ataupun migrasi dari pengguna gas non subsidi ke produk yang bersubsidi itu kita tidak tahu. Pengawasan kami hanya sampai ke pangkalan,” katanya kepada SatelitPost saat OP LPG 3 kg pertama digelar di halaman Kantor Kecamatan Ajibarang, Selasa (5/9) kemarin.

Bambang pun tidak memungkiri, setiap ada kegiatan OP selalu saja ada orang-orang bandel yang mengambil keuntungan sendiri. Seperti misalnya golongan orang mampu yang seharusnya tidak menggunakan gas bersubsidi namun ikut membeli ataupun para pedagang yang seharusnya mendapat distribusi dari pangkalan.

“Pasti ada, namun petugas kami kesulitan untuk memilahnya. Mas lihat sendiri antrean begitu banyak. Sedangkan warga yang datang bawa KTP lebih dari satu mereka beralasan mendapat titipan dari tetangganya yang nggak bisa datang karena nggak ada kendaraan,” katanya.

Kondisi tersebut membuat Hiswana Migas dilematik akhirnya tetap melayani pembelian “titipan tetangga” tersebut. Bambang juga terus mengimbau‎ agar masyarakat bukan golongan tertentu tidak bermigrasi menggunakan gas bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat golongan tertentu (masyarakat miskin).

“Tetaplah menggunakan gas non subsidi. Saat ini kan sudah tersedia kemasan bright gas 5,5 kg yang lebih ekonomis. Sama saja kok kalau dihitung-hitung,” kata Bambang.

Pantauan SatelitPost di wilayah Ajibarang, penyalahgunaan peruntukan gas bersubsidi masih terjadi. Pada gelaran OP, terlihat beberapa warga membeli gas dengan mengendarai mobil pribadi. Sementara di sejumlah rumah makan dengan kategori cukup mewah, masih terlihat menggunakan gas berwarna hijau tersebut. (rar)

Komentar

komentar

BAGIKAN