Bayar Hutang? Nanti Dulu, Kita Tidak akan Mati Besok

Oleh : Widia, Direktur PT BPRS Arta Leksana

Direktur PT BPRS Arta Leksana, Hj Widia SE, MMA

Dalam dialog ringan dengan seorang dosen teman lama, dari awalnya ngobrol ringan akhirnya kami hangat berdiskusi tentang masalah bank syariah dan tetek-bengeknya. Dia menyoroti  maraknya gerakan anti riba yang ramai belakangan ini dan ikut menyasar bank syariah sebagai salah satu  sumber transaksi riba. Anehnya kelompok ini mensponsori menunda membayar hutang dengan dalih akan menegakkan roda ekonomi terlebih dahulu sehingga bisa kembali memulai usaha dan membayar hutang.

Dengan nada santai saya mencoba kembali kepada hukum awal tentang harta dalam Islam.“Bu, apakah kedudukan harta dalam Islam itu sebenarnya?”

“Ya sekedar titipan Tuhanlah.”

“Jadi kalau sekedar titipan saja, ujungnya adalah harta itu wajib maslahat bagi pemiliknya ya?”

“Ya, pasti.”

“Lalu bagaimana Islam memandang kewajiban membayar hutang?”

“Wah, kenapa aku digiring kepada urusan harta begini?” Bu dosen tersenyum simpul. Kami sedang berusaha membahas fenomena yang sangat marak belakangan ini, tentang berbagai cerita saling berebut kebeneran ketika ada kondisi bank sebagai penagih hutang mengupayakan berbagai cara agar nasabah melunasi hutang termasuk dengan menjual jaminan.

Bu dosen ingin melihat dari sisi perbankan syariah, sebab dia sudah beberapa kali mendengar dan melihat sikap para nasabah yang sedang dalam posisi hendak dijual agunan miliknya untuk membayar hutang. Tidak ada seorangpun yang iklas harta miliknya dijual untuk membayar hutang. Seluruh nasabah ingin mempertahankan hartanya dengan berbagai cara baik cara yang patut maupun tidak patut. Bank kami pernah didatangi sekelompak ormas yang mengatasnamakan nasabah dan menggebrak meja kantor dengan suara menggelegar. Ini hanya salah satu contoh penyelesaian dengan cara yang tidak patut.

Dalam akad di perbankan syariah, sudah tertera dengan jelas hak-hak dan kewajiban nasabah yang sudah bermitra dengan bank. Dengan kondisi akad yang sudah disepakati dengan sadar, permasalahan lebih sering terjadi jika ada wanprestasi nasabah ketika tenggat waktu pembayaran hutangnya tidak terpenuhi. Nasabah sebagai mitra bank akan menggunakan berbagai dalih untuk mengulur penjualan jaminan sebagai satu-satunya jalan keluar, sebab sebelum menempuh prosedur tersebut, bank  sudah mengupayakan berbagai cara untuk mengupayakan penyelesaian tanpa menggunakan opsi penjualan barang jaminan. Jika semua jalan sudah buntu, dengan terpaksa bank harus memproses penjualan sebagai jalan terakhir untuk penyelesaian kewajiban mitra kepada bank.

Yang marak terjadi sekarang ini adalah gerakan menghalang-halingi bank menjual barang jaminan. Mengupayakan pelunasan di bawah jumlah modal dengan cara menekan bank untuk menyetujui angka yang dibuat. Membawa ormas abal-abal yang hanya mencari keutungan semata dari kondisi perselisihan yang terjadi antara bank dan mitra nasabah, seperti kasus Swisindo dan lembaga sejenis yang lain.

Mari kita belajar bersama lagi tentang surat Al-Maidah : 1

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad kalian”. Nasabah sebagai mitra bank sudah dengan sadar menandatangani akad ketika bertransaksi di bank syariah. Sebagai orang yang beriman, marilah kita buka kembali akad-akad yang sudah pernah disepakati. Bank tidak dengan senang hati menjual agunan milik nasabah, namun dari mana dana-dana titipan masyarakat itu akan kembali jika sudah tidak ada cara lain yang memungkinkan guna mengembalikan dana yang sudah digunakan oleh nasabah.

Ada cerita menarik lain yang berhubungan dengan kisah Nabi tercinta dengan urusan hutang piutang. Diceritakan dari  Aisyah radhiyallahu’anha beliau berkata :

“Rasululloh wafat  sedang baju perang beliau masih digadaikan kepada seorang Yahudi dengan nilai tiga puluh sha’ gandum.”  Dengan keadaan ini sepeninggal nabi sahabat bermaksud melunasi hutang Nabi kepada Yahudi tersebut namun ditolak, karena nilai baju perang yang digadaikan kepada Yahudi tersebut lebih dari cukup untuk menebus hutangnya.

Sang Nabi yang Agung menjaminkan baju perangnya “hanya” untuk berhutang makanan pokok yang benar-benar beliau butuhkan. Zaman sekarang hutang yang terjadi bukan untuk menebus makanan. Jika harta hanya sekedar titipan? Bukankah hutang adalah kewajiban yang terbawa hingga mati? Sedang pahala mati sahid pun tidak mampu melunasi hutang? Mari bersegera membayar hutang. Tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi besok. Tabik (*)

Komentar

komentar

LEAVE A REPLY