SIAPA saja bisa mengajar, berbagi ilmu. Tak harus mereka yang berprofesi guru. Tempatnya nggak harus di bangku sekolahan. Semua orang bisa membagikan ilmu bermanfaatnya bagi orang lain dimana pun mereka berada. Bahkan di tempat terbuka atau di pelosok desa sekalipun.

Itulah yang dilakukan Komunitas 1000 Guru Purwokerto. Menyambangi sekolah-sekolah dengan aksesnya yang sulit dijangkau. Sekretaris 1000 Guru Purwokerto, Feti Fajriyatin bercerita tentang pendidikan di Indonesia yang belum merata. Kesannya masih Jawa sentris, lebih parahnya lagi malah kota sentris. Buktinya, di Barlingmascakeb masih banyak sekolah yang aksesnya sulit dijangkau, fasilitasnya pun belum memadai.

“Tujuan kami mengajar di sekolah-sekolah yang aksesnya sulit dijangkau, fasilitasnya jauh dari kata memadai, sekolah semacam itu masih banyak ditemui di lingkungan Barlingmascakeb,” kata Feti.

Dengan kegiatan TnT (Traveling and Teaching) dan TnG (Teaching and Giving), 1000 Guru Purwokerto menjamah hingga ke daerah pelosok. Sasarannya anak sekolah dasar dari kelas satu sampai enam. Untuk TnT, dilakukan dengan melihat potensi wisata daerah tersebut. “Mengajar di hari Sabtu, dan traveling di hari Minggu,” kata Feti.

Kegiatan traveling pun sembari ikut mempromosikan wisata daerah tersebut. “Belajar ngga hanya di dalam kelas, tapi di ruang kelas juga bisa bermain sambil belajar apalagi kebanyakan daerah yang kami kunjungi alamnya masih asri,” katanya.

Sedangkan kegiatan TnG dilakukan dengan belajar sambil memberikan bantuan. Bantuan bisa berupa bazar, pengobatan gratis, yang ditujukan untuk masyarakat umum. “Pagi sampai siang ngajar di SD, habis itu dilanjut bazar atau pengobatan gratis buat masyarakat umum. Kami sudah ada tim medisnya untuk pengobatan gratis,” kata Feti.

Setiap kegiatan yang dilakukan, juga selalu mengadakan pemberian donasi untuk anak-anak sekolah. “Bisa berupa peralatan sekolah, tas, buku, peralatan menulis, biar anak-anaknya semangat buat belajar lagi,” katanya.

Semangat berbagi dari 1000 Guru Purwokerto, dirasakan pula oleh orang-orang yang pernah ikut menjadi volunteer atau guru dalam sehari. Seperti yang diungkapkan Muhammad Nur Febrianto Putra. Profesinya sebagai Ditjen Pajak menyambut baik kegiatan ini. Bahkan, ia sudah mengikuti 1000 Guru dari berbagai macam daerah di Indonesia. “Berbagi itu nagih, saya bukan hanya mengajar tapi juga dapat pelajaran dari anak-anak sekolah di pedesaan,” kata Febri yang pernah mengikuti kegiatan 1000 Guru Purwokerto meski bekerja di Jakarta.

Pengalaman menjadi seorang guru juga mengingatkan masa-masa sekolah dasar bagi Gesit Pambudiarto. Bagi Gesit, senang rasanya melihat wajah-wajah anak SD yang ceria. Meskipun setiap hari harus melalui jarak antara rumah ke sekolah yang begitu jauh. “Ngajar anak-anak SD jadi inget dulu pas zaman kita masih SD, itu malah bikin kita berlipat bahagianya. Anak-anak kecil di sini punya semangat yang tinggi untuk sekolah, belum tentu kita bisa seperti mereka kalau berada di lingkungan yang aksesnya sulit dijangkau,” kata Gesit yang berprofesi sebagai Junior Operator Operasi Distribusi PLN Cilacap. (cr)

1. Hunting Volunteer via Instagram 

Untuk mencari calon guru, 1000 Guru Purwokerto membuka pendaftaran melalui akun Instagram @1000_guru_purwokerto. “Kami membuka open recruitmen (oprec) melalui Instagram, jadi siapa saja bisa berpartisipasi, nanti tinggal dilihat yang memenuhi kriteria  meskipun kami ada batasan usia dari 19 hingga 35 tahun,” ujar Feti.

Kriteria yang dilihat, yakni pandangan volunteer terhadap pendidikan. Terutama pendidikan di tempat-tempat yang aksesnya sulit dijangkau. Dalam google form juga ditekankan, ketersediaan calon pengajar ini untuk mau mengajar di tempat yang aksesnya sulit dijangkau. Dengan melihat jawaban dari calon guru ini, barulah tim (pengurus 1000 Guru Purwokerto, red) memilih siapa saja yang terpilih menjadi guru dalam 1000 Guru Purwokerto.

Bagi peserta yang terpilih, dikenai biaya Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu. Tergantung letak sekolah yang akan ditempuh. Karena biaya ini hanya untuk keperluan volunteer dan untuk pemberian donasi pada sekolah-sekolah yang dikunjungi. “Semua yang terpilih memang membayar fee, tapi ini untuk keperluan mereka selama di sana, dan untuk pemberian donasi ke anak-anak sekolah,” kata Feti.

Selanjutnya, calon guru ini akan diberikan lesson plan (rencana pembelajaran) lengkap dengan indikator yang harus dicapai. Diwajibkan pula menggunakan alat peraga agar anak-anak lebih tertarik untuk memperhatikan. Pertemuan selanjutnya, kemudian mengadakan briefing untuk kesiapan masing-masing calon guru ini sebelum mengajar. “Kita ada dua kali pertemuan dengan volunteer sebelum nantinya terjun untuk mengajar,” ujar Feti.

2. Tak Hanya di Purwokerto

November 2015, awal mula 1000 Guru hadir di Purwokerto. Feti menceritakan, sebelumnya telah ada 1000 guru di daerah lain di Indonesia. “Pusatnya ada di Jakarta, daerah-daerah lain juga ada kegiatan semacam ini seperti Jogja, Bandung, Surabaya, Jambi, Sulawesi, Kalimantan, hampir setiap daerah atau kota-kota besar di Indonesia ada 1000 Guru,” kata Feti.

Purwokerto menjadi salah satunya. Nyatanya, masih banyak sekolah yang belum mendapatkan fasilitas yang layak. November lalu bertepatan dengan ulang tahun 1000 Guru Purwokerto kedua, tim memilih lokasi di Rembang Purbalingga. Di sana, akses dari rumah menuju sekolah perlu waktu sejam dengan berjalan kaki. “Kemarin kebetulan bertepatan sama ulang tahun 1000 Guru Purwokerto, kami memilih dua sekolah langsung di Rembang, medannya sulit dijangkau sampai harus minta bantuan mobil TNI,” kata Feti.(cr)

Komentar

komentar

BAGIKAN