Bala Srawung lahir dari kepeduliaan sosial dari muda mudi Desa Gununglangit, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara. Tepatnya tahun 2013 silam.

“Itu sekitar awal tahun 2013 lalu. Dan kelompok atau komunitas tersebut langsung diajukan pengesahan kepada kepala desa saat itu agar diakui secara kelembagaan oleh pemdes,” kata Yudi satu dari sekian pendiri komunitas Bala Srawung.

Bersama dengan ke-15 rekannya, Diat, Mujiono, Rohmat, Cahyono, Budi Arya Sena, Hendri Priatna, Dilang, Mundzakir, Isro, Sudiono, Doni, Agus, Sukiswo, Tiono, Parno, dan Mudiono, Yudi mantap mengukuhkan Bala Srawung sebagai sebuah komunitas yang berbasis pada rasa kepedulian sosial.

Orang-orang tersebut, kata Yudi, berasal dari latar belakang pendidikan dan status pekerjaan yang berbeda-beda, ada yang petani, buruh, guru dan tukang borong pekerjaan proyekan bahkan ustaz TPQ.

Berangkat dari keinginan untuk menyatukan para pemuda yang peduli terhadap desa dan sosial agar bersatu dalam wadah sehingga dapat gerak bersama. Serta memberikan sumbangsih langsung kepada pemerintah desa dan masyarakat.

Kegiatan awal komunitas ini adalah mengkoordinir kegiatan Silaturahmi Anak Santri yang menjadi rutin tahunan tiap 1 Muharam. “Dengan dikordinir, tema akan berbeda serta memunculkan pernak-pernik yang lebih bagus. Termasuk pula mengawasi tema pendidikan di TPQ,” katanya.

Perlahan namun pasti, Bala Srawung mulai unjuk gigi di desa. Mulai dari membangkitkan kembali padi hitam, belajar bertani sayuran termasuk pula eksis dalam kegiatan operasi kebencanaan atau menjadi bagian dari tim SAR saat terjadi mega bencana tanah longsor Dusun Jemblung, Desa Sampang Karangkobar beberapa tahun lalu.

Selain itu, pengurus Bala Srawung juga menjalin komunikasi dengan pemerintah sehingga berhasil mendapatkan banyak bantuan. Satu di antaranya mesin penggilingan padi atau ricemill yang dikelola Bala Srawung. “Hasil yang didapat untuk kepetingan kelompok atau kas, termasuk pula untuk pembiayaan kegiatan lainnya,” katanya.(gat)

Komentar

komentar

BAGIKAN