Di era millenial seperti sekarang ini multitasking sudah menjadi tuntutan. Seseorang dengan kemampuan lebih menjadi orang yang di cari. Bener nggak?

Di sekolah misalnya, kalau ada siswa yang pinter di kelas, terampil memainkan alat musik alias anak band, dan pandai main basket ditambah wajahnya ganteng atau cantik. Wew, sudah deh dijamin pasti jadi idola. Secara dia itu, bintang kelas, bintang lapangan, plus bintang panggung. So perfect, isn’t?

Tapi apa bener, mereka yang memiliki banyak kemampuan tak memiliki kekurangan? Jawabnya pasti ada. Multitasking atau kemampuan untuk melakukan banyak hal dalam satu waktu memang akan membuat seseorang terlihat sempurna. Namun dibalik kesempurnaannya itu tentu saja ada kekurangan. Mau tahu apa saja plus minus mejadi Si Multitasking, berikut disadur dari gogirlmagz.com.

Keuntungan yang paling kentara ya bikin hemat waktu. Mereka yang bisa melakukan multitasking ini bisa ngerjain banyak pekerjaan dalam satu waktu. Kerjaan yang harusnya butuh banyak waktu buat diselesain, bisa mereka selesain lebih cepet karena kemampuan multitasking-nya itu. Nah, karena ini orang-orang yang bisa melakukan multitasking bisa mengefektifkan waktunya dalam satu hari. Makannya dibanding sama orang-orang yang nggak bisa ngelakuin multitasking, mereka lebih diuntungin karena mereka bisa punya banyak waktu luang pada akhirnya.

Udah hemat waktu, dia juga sangat produktif. Tentunya dibandingkan dengan mereka yang tidak multitasking. Kemampuan multitasking ini juga biasanya dicari sama perusahaan-perusahaan yang pekerjaannya super banyak. Tentu aja ini nguntungin mereka yang kerja di perusahaan seperti itu. Semakin bisa multitasking, seperti bisa produktif!

Tapi di balik semua manfaat yang didapet dari kemampuan ini, ternyata ada kerugian juga yang bisa kita dapetin. Multitasking bisa ngebuat kita kehilangan detail penting di pekerjaan. Karena fokus yang kebagi-bagi, kita jadi sulit pay attention to details. Ini salah satu downside dari multitasking yang kerasa banget dampaknya ke performa pekerjaan kita.

Nah, karena terbiasa ngelakuin banyak pekerjaan dalam satu waktu, orang-orang yang kebiasa multitasking sulit buat fokus pada satu kerjaan aja. Rasanya aneh aja ketika harus bener-bener fokus pada satu hal. Misalnya, kalau kita kebiasaan nugas sambil chatting misalnya, ketika harus fokus nugas dan jauh dari hape, pasti rasanya gelisah aja. Kebiasaan multitasking ngebuat otak kita terbiasa loncat-loncat fokusnya. Seorang ilmuan dan expert dari attention deficit disorder (ADD) Edward Hallowell, orang-orang yang kebiasa multitasking akan kesulitan fokus pada pekerjaan karena fokus yang terbuyar ke mana-mana.

Kalau udah begitu, mereka jadi rentan melakukan kesalahan. Khususnya pada jenis pekerjaan yang sangat membutuhkan detil. Menurut seorang Profesor di University of Michigan, David Meyer, orang-orang yang kebiasa melakukan multitasking juga mungkin banyak ngehasilin banyak kesalahan. Ini dikarenain fokus yang harus dibagi-bagi kepada banyak hal ngebuat kemungkinan melakukan kesalahan lebih tinggi daripada hanya fokus pada satu pekerjaan. Menurut para ahli, otak manusia nggak bisa ngelakuin dua tugas kognitif pada saat bersamaan karena usaha otak mengganti fokus membutuhkan mental effort and time. So, pilihan dikembalikan kembali ke kalian guys!(tha)

Komentar

komentar

BAGIKAN