A friend is one that knows you as you are, understands where you have been, accepts what you have become, and still, gently allows you to grow.    

KITA terlahir sebagai makhluk sosial. Itu artinya kita nggak bisa hidup tanpa orang lain. Coba deh bayangkan, kalau kita hidup di dunia ini sendirian saja.

Dengan kodratnya itu, seseorang setidaknya memiliki seseorang dalam kehidupan ini yang dianggap sebagai seorang teman. Entah itu teman masa kecil, teman sekolah, teman satu tempat les misalnya, siapapun juga bisa kita jadiin temen.

Iseng-iseng, pernahkah kalian coba menghitung berapa banyak teman yang kamu miliki? Banyak sedikitnya teman yang kalian miliki bukan jadi patokan seberapa baik kamu di mata teman-teman loh. Jangan pernah beranggapan seperti itu ya.

Kenapa? Karena tiap individu itu kan memiliki karakter masing-masing. Beberapa mungkin ada yang cocok dengan kepribadianmu. Ada juga yang hanya nyantol di hatimu di permukaannya saja. Artinya, seseorang bisa saja berteman dengan sebanyak-banyak teman. Tapi teman yang “sampai ke hati” itu bisa jadi tak akan banyak.

Dikutip dari gogirlmagz.com, Aristotle menuangkan dalam kitab The Nichomachean Ethics, basically, pertemanan itu dibagi kedalam tiga jenis; friendship based on utility, pleasure and goodness. Masing-masing tipe pertemanan ini memiliki karakter yang berbeda-beda. Nggak ada salahnya, coba kalian cermati temanmu saat ini . Termasuk kategori mana kira-kira.

  1. Teman berdasarkan kebutuhan

Di pertemanan ini, kita berteman karena kita membutuhkan sesuatu dari satu sama lain. Pertemanan ini terjalin karena ada manfaat yang bisa diambil. Kalo manfaatnya udah nggak ada lagi, pertemanan itu bisa jadi selesai gitu aja. Misalnya, ada orang yang pengen jadi ‘temen’ karena bisa terus-terusan ditraktir atau dapet manfaat dari segi akademis. Giliran ada maunya, temen itu bakal dateng sama kita. Kalo keinginannya udah kepenuhin, ninggalin gitu aja. Teman yang seperti ini nggak akan ada di saat kita down dan butuh support secara mental. Kemungkinan besar, dia akan ninggalin atau ngejauh di saat manfaat udah nggak dia rasain lagi saat berteman dengan kita.

2 Teman berdasarkan kesenangan

Pertemanan berdasarkan kesenangan ini nggak jauh beda dari pertemanan jenis pertama. Di pertemanan ini, seseorang memutuskan untuk berteman karena dia mendapatkan kesenangan dari pertemanan itu. Misalnya, seseorang ingin berteman karena orang itu cantik, punya kepribadian menarik dan nyenengin. Pacar atau teman ‘hura-hura’ juga masuk ke dalam kategori ini. Intinya, kalo kita bertemen karena pertemanan itu memberi kita perasaan sukacita dan dicintai, pertemanan itu termasuk ke dalam friendship based on pleasure. Nah, kalo pertemanan itu udah nggak ngehasilin kesenangan pribadi lagi, bisa jadi pertemenanan itu akan longgar dan nggak seperti dulu lagi.

  1. Teman berdasarkan kebaikan

Berbeda dari kedua tipe di atas, friendship based on goodness ini bisa dibilang sebagai pertemanan sejati atau true friendship. Di pertemanan ini, alasan pertemanan bukan karena ada manfaat atau kesenangannya saja. Tetapi, kita juga saling mendoakan hal-hal baik untuk satu sama lain. Kita nggak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada teman kita. Walaupun teman itu nggak bilang dia membutuhkan bantuan, kita pasti dengan siap sedia mau banget ngasih support secara mental ataupun fisik. Pertemanan jenis ini biasanya akan terjalin lama, makannya pertemanan ini juga disebut pertemanan sejati. Misalnya, pertemanan yang terjalin sejak kita masih SD atau SMA dan masih going strong until today, itu bisa termasuk ke dalam friendship based on goodness. Manfaat dan kesenangan bukan lagi menjadi faktor yang melandasi pertemanan ini. So, gimana girls? Pernah ngerasa ketiga jenis teman menurut Aristotle itu nggak?(tha)

Komentar

komentar

BAGIKAN