ILUSTRASI

Fenomena meningkatnya sikap intoleran di tengah masyarakat tentu memprihatinkan, apalagi pikiran kebencian juga sudah mulai menyentuh pikiran anak-anak.

Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyebutkan, 79,5 persen siswa mempertimbangkan agama dalam memilih teman. Selain itu, 1 dari 4 anak dibully karena agamanya.

Perilaku seorang anak adalah cerminan perilaku orang dewasa yang dilihatnya lalu ditiru. Beruntung jika anak mencontoh hal positif, tetapi melihat fenomena sikap intoleransi pada anak-anak tersebut, kemungkinan mereka juga mempelajarinya dari orang di sekitarnya.

“Mereka mencontoh orang dewasa tanpa pemahaman yang baik,” kata Ketua Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dicky Pelupessy dikutip dari Kompas Lifestyle.

Menurut Dicky, orang terdekat anak, baik orangtua atau guru, seharusnya mengajarkan kebaikan pada anak. Memberi tahu bahwa sikap membeda-bedakan, dalam hal ini agama, adalah salah.

“Tugas orangtua maupun guru adalah memberitahu perkataan yang seharusnya diucapkan dan tidak seharusnya diucapkan. Di usia 10 tahun ke atas anak sudah berfikir abstrak tidak lagi berfikir kongkrit. Ia sudah bisa menerima penjelasan tentang SARA,” ujar Dicky.

Senada dengan Dicky, psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani,M.Si, anak juga perlu diajarkan melalui penjelasan yang mudah dipahami. “Di atas usia 6 tahun anak sudah mengerti mana kata yang baik untuk diucapkan, dan mana yang tidak,” katanya.

Selain itu, anak juga perlu diberikan contoh melalui tindakan nyata. Misalnya saja menunjukkan teman-teman Anda atau saudara yang berbeda keyakinan namun tetap bisa berbaur akrab.

Bila anak sejak dini sudah diajarkan pentingnya sikap saling menghormati semua orang, tanpa peduli pada latar belakangnya, tentu anak juga akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki nilai moral baik, termasuk kerukunan dan toleransi.(gst)

Komentar

komentar