CILACAP, SATELITPOST-Front Pembela Islam (FPI) Kabupaten Cilacap akan menerjunkan sekitar 500 anggotanya untuk melakukan aksi di Borobudur. Aksi ini adalah bentuk keprihatinan atas kekerasan terhadap warga Rohingya di Myanmar.

 

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua FPI Cilacap, KH Kholidin, usai pernyataan sikap Forkompimda dan FKUB atas kekerasan terhadap Etnis Rohingya, Kamis (7/9) kemarin. “Mohon doanya dari Cilacap hari ini akan (ikut aksi) ke Borobudur. Cilacap memberangkatkan sekitar 500 orang,” ujarnya, kemarin.

 

Sedangkan untuk relawan yang akan diberangkatkan ke Myanmar, kata dia, saat ini belum dipersiapkan. Namun FPI pusat sudah memberangkatkan sekitar 1.500 anggotanya untuk ke Myanmar membantu warga Rohingya. “FPI sudah menerjunkan 1.500 orang ke Myanmar, kalau untuk Cilacap kita belum persiapan ke Myanmar,” katanya.

 

Diberangkatkannya ke Myanmar para anggota FPI ini, kata dia, menjadi tugas seorang muslim untuk membantu sesamanya. Terutama membantu warga muslim di Rohingya yang mengalami kekerasan. “Ini tugas seorang muslim, untuk misi kemanusiaan. Membantu saudara kita yang di Myanmar, dan terutama saudara muslim yang diutamakan,” katanya.

 

Pernyataan Sikap

 

Sementara, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cilacap menyatakan sikap atas terjadinya kekerasan  yang terjadi di Myanmar. Pernyataan sikap ini dilakukan di Padepokan Agung Sanghyang Jati Gunung Selok, Kamis (7/9).

 

Seluruh perwakilan dari umat beragama yang ada di Cilacap dan juga penganut kepercayaan, termasuk FPI hadir dalam aksi pernyataan sikap tersebut. Acara dihadiri Wakil Bupati Cilacap, Akhmad Edi Susanto, Kapolres Cilacap Ajun Komisaris Besar Polisi Yudo Hermanto, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Cilacap Taswan,  Danlanal Cilacap, Ketua Pengadilan Negeri,  perwakilan Kodim 0703 Cilacap.

 

Ada empat pernyataan sikap yang bacakan secara bersama-sama kemarin. Pertama mengecam aksi kekerasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar dan segera untuk dihentikan. Kedua Mengajak seluruh umat beragama menyampaikan rasa simpati dan empati terhadap kejadian aksi kekerasan etnis Rohingya di Myanmar.

 

Ketiga menyerukan kepada semua elemen masyarakat untuk ikut bersama melakukan filterisasi dan pencegahan terhadap berita hoax yang dapat memprovokasi dan memecah NKRI. Serta empat, bersama-sama menjaga solidaritas antar umat beragama dan menjaga stabilitas keamanan di Cilacap.

 

Kapolres Cilacap, AKBP Yudho Hermanto SIK mengatakan dalam pertemuan ini seluruh perwakilan umat beragama, tokoh agama, tokoh penganut kepercayaan, Forkopimda sepakat melarang adanya kekerasan yang terjadi di Myanmar.

 

“Kami berharap kejadian tersebut harus segera dihentikan. Apapun bentuk kekerasan dan penindasan, kita tidak sepakat. Karena semua agama dan kepercayaan tidak saling bermusuhan dan tidak mengajarkan kekerasan,” katanya.

 

Pernyataan sikap dilakukan di Gunung Selok, kata Kapolres karena daerah tersebut bisa dikatakan sakral oleh beberapa agama dan kepercayaan. “Di sini kita ingin lebih menyatukan bahwa kita dari berbagai agama, aliran suku, dan kepercayaan, tetap dalam satu bingkai Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI,” katanya.

 

Wakil Bupati Cilacap, Akhmad Edi Susanto menyatakan adanya pernyataan sikap ini bisa menjadi energi positif di Cilacap, untuk terus menjaga solidaritas dan kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan yang ada di Cilacap.

 

“Saya memberikan motivasi semuanya kepada seluruh elemen, dan para ulama, duduk di sini, untuk tetap menjaga Cilacap agar selalu dingin damai. Apalagi karena Cilacap sentral atau sakanya Jawa. Jika Cilacap damai, tentunya Indonesia akan damai,” katanya.

 

Sementara itu, Bhante Dhamma Tejo Thera Padepokan Agung Sanghyang Jati Gunung Selok, mengatakan  tidak mengetahui adanya informasi atau kejadian yang berada di luar. Menurutnya, tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan di manapun.

 

“Seluruh tokoh agama dan di negeri ini mari kita saling menghargai, menghormati, saling menunjang, saling menolong, saling mencegah  hal-hal yang menimbulkan percekcokan. Karena kekerasan percekcokan tidak ada artinya di hidup ini dan tidak ada manfaatnya,” katanya.

 

Banthe mengatakan, sebagai penggiat Buddha, sangat tidak setuju dengan umat beragama yang keras kepala dan ingin menang sendiri. Karena itu, dia menjagak semua umat beragama untuk selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Itu sebuah karakter untuk membentuk jati diri, mari ciptakan kedamaian antar umat beragama,” katanya.

 

Aksi pernyataan sikap ini juga ditandai dengan penandatanganan pernyataan sikap antara Forkompimda dan juga FKUB serta tokoh agama dan kepercayaan. Serta dilanjutkan dengan berfoto bersama sebagai simbol kebersamaan. (ale_rafter@yahoo.com)

 

 

Komentar

komentar

BAGIKAN