“As iron sharpen iron, so a friend sharpen a friend.”

Nukilan singkat dari Nabi Sulaiman ini menjadi kalimat pertama yang terlontar dari mulut Adhi Wiharto saat diminta menceritakan kisah hidupnya kepada SatelitPost.

Kalimat tersebut dipilihnya lantaran hampir seluruh kisah hidupnya memang berkaitan dengan pertemanan dan persahabatan. Paling tidak, teman dan keluarga menjadi dua hal yang sangat penting bagi politisi dan pengusaha muda Banyumas ini.

“Teman dan keluarga, hampir semua kisah yang saya lewati berhubungan erat dengan teman. Malah sepertinya semua titik-titik balik dalam hidup saya ada urusannya sama pertemanan,” ujar Adhi.

Ia mengawali kisah panjangnya tentang hidup dan dunia perkawanan dari kisah semasa SMA. Adhi muda merupakan pribadi yang supel, ini membuatnya memiliki banyak karib.

Memasuki dunia usaha di paruh pertama 2000-an, Adhi pun melibatkan sahabat-sahabatnya. Usaha yang pertama kali digelutinya adalah distributor makanan serta minuman. Saat itu, banyak rekannya semasa SMA yang dipercaya menduduki posisi-posisi strategis dalam usahanya tersebut.

Usaha awalnya ini berlangsung mulus selama beberapa tahun. Namun, memasuki tahun 2006, usahanya tumbang. “Waktu itu saya butuh modal untuk menikah. Ada modal usaha yang saya gunakan untuk pernikahan. Ini membuat usaha saya tumbang,” kata dia.

Peristiwa tersebut, lanjut Adhi menjadi titik balik paling besar dalam kariernya sebagai pengusaha. “Waktu itu, beberapa teman pergi meninggalkan saya karena usaha saya hancur. Saya sempat terpuruk karena saat itu usia pernikahan saya masih sangat muda,” ujar Adhi mengenang.

Meski ditinggalkan beberapa teman dalam kondisi terpuruk, Adhi tak lantas antipati dengan pertemanan. Ia tetap menjalin hubungan baik dengan beberapa orang kawannya. Sampai pada satu saat, salah seorang rekannya memberinya jalan menuju kebangkitan.

“Saya masih punya kenalan. Kebetulan, kawan saya itu punya rekan yang ingin membangun usaha hiburan di Purwokerto. Saya lalu diperkenalkan dan sejak saat itu saya menjadi operator dari para investor tersebut,” kata dia.

Kehidupan Adhi waktu itu mulai pulih perlahan. Saat itu, jaringan perkawanan Adhi makin meluas. Sampai pada akhirnya, ia dipertemukan dengan seseorang yang lagi-lagi menjadi sahabat baginya. Kawan baru yang menjadi juga menjadi pembawa perubahan ke dunia usahanya adalah Agus Riyanto, Mantan Bupati Tegal.

“Saat usaha awal saya mulai stabil, saya punya lebih banyak teman. Sampai satu hari saya ketemu dengan mas Agus. Dia menjadi orang pertama yang membawa saya ke dunia kontraktor. Saya dibikinkan CV dan dikasih modal sama beliau. Nama CV pertama saya adalah Mitra Satria,” ujar Adhi.

Mendapatkan kepercayaan dan kesempatan sebesar itu, Adhi tak mau gegabah. Ia sempat meninggalkan usaha awalnya dan memfokuskan perhatian total ke jenis usaha baru yang digelutinya.

Sejak saat itu, Adhi menemukan core bisnis yang dapat dikatakan cocok buatnya. Semakin lama, usahanya sebagai kontraktor makin melejit. Sampai saat ini, ia bahkan memiliki enam  perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi. Antara lain, CV Mitra Satria, CV Satria Sejati, CV Adi Jaya, CV Jalu Adi, PT 3 Putra Banyumas, dan PT Bintang Satria Gasindo.

Selain di bidang tersebut, Adhi juga sempat bermain di ranah usaha advertising. Yakni, melalui CV Kaisar Inter Media, sebuah perusahaan yang lagi-lagi lahir dari pertemanannya dengan Yohanes Widiana, seorang pengusaha lokal Banyumas.

Moncer di jenis usaha ini, Adhi lama kelamaan dipercaya untuk menduduki beberapa posisi penting di organisasi yang menaungi pengusaha-pengusaha sejenis. Antara lain, sebagai Ketua di Askindo dan Perkonas. (pan)

1. Berpolitik untuk Perubahan

Meski sebagian besar waktunya habis di dunia usaha, Adhi masih mencurahan sisa energinya ke dunia politik. Saat ini, ia bahkan duduk sebagai Wakil Ketua DPC Partai Gerindra Banyumas.

Adhi mengatakan, berpolitik baginya merupakan sebuah keharusan. Sebab, keputusannya untuk terjun didasari sebuah alasan yang kuat. Yakni, untuk memberikan perubahan di dalam sistem pemerintahan.

“Saya berangkat dari pengalaman pribadi sebagai pengusaha. Selama ini, banyak pengurusan izin yang birokrasinya sangat bertele-tele. Ini yang ingin saya ubah,” kata dia.

Berangkat dari alasan ini, ia menjatuhkan pilihan ke Partai Gerindra. Sebab, menurutnya, Gerindra dengan figur kepemimpinan tegas dan lugas ala Prabowo, pola birokrasi bertele-tele niscaya bisa dieliminir. Jika birokrasi macam ini bisa diubah, Adhi percaya, iklim usaha dan bisnis di Indonesia akan semakin bergeliat.

Di kancah politik, Adhi pun tidak hanya menghabiskan waktu seperti banyak politisi muda yang hanya ikut-ikutan. Adhi terbilang dominan, bahkan, saat ini, dalam usianya yang tergolong muda, ia sudah dipercaya menduduki jabatan sensitif jelang Pilkada 2018 mendatang, yakni Ketua Desk Pilkada Partai Gerindra.(pan)

2. Berawal dari Nol

Sama seperti dalam menjalankan usahanya, karier politik Adhi pun boleh dikatakan berawal dari nol. Sebab, ia menitinya dari mendirikan Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) Gerindra. Dari sana, namanya makin dikenal dan akhirnya ditarik menjadi fungsionaris partai.

Adhi mengatakan, sebelum bergabung dengan Gerindra, ia sempat mendapat tawaran dari beberapa partai lainnya. Satu di antaranya adalah dari sesepuh PDI Perjuangan Banyumas, Alm Yoyok Sukoyo.

“Saya sempat ditawari sama Mbah Koyo, tapi pilihan saya jatuh ke Gerindra,” ujar pemuda yang mengidolakan Soeharto dan Prabowo ini.

Adhi mengatakan, Gerindra dipandangnya mampu menjadi ruang berkarya bagi politisi muda. Apalagi, dengan kepemilikan idealisme cocok.(pan)

Biofile:
Nama    : Adhi Wiharto
Ttl         : Cilacap, 5 Maret 1982
Istri       : Dina Martina
Anak     :
1. Prian Maheswara Adi Putra (10)
2. Cassie Rafabella Adi Putri (6)
3. Elsa Prameswari Adi Putri (2)

Komentar

komentar