Impian Semasa SMA

Purwanto SH MH, Ketua Pengadilan Negeri Purwokerto

Purwanto SH MH, demikian nama lengkap Ketua Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto. Sosok low-profile ini mengaku mulai punya impian atau cita-cita menjadi hakim semasa dirinya duduk di bangku SMA.

“Saya dulu bersekolah di jurusan sastra-sosial SMA Negeri 4 Yogyakarta. Dari situlah saya berkeinginan melanjutkan studi ke Fakultas Hukum. Pilihannya kalau tidak jadi lawyer ya jadi hakim,” kata ayah dua putri ini.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Purwanto memilih kuliah di Fakultas Hukum UGM. Sebelumnya, sulung dari sembilan bersaudara ini sempat merasakan kuliah di Fakultas Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta. Hal itu dijalaninya selama dua semester. Pasalnya, sesaat lulus SMA dirinya mengalami kecelakaan lalu lintas sehingga tak dapat ikut tes SKALU.

Sekadar catatan, SKALU adalah seleksi penerimaan masuk perguruan tinggi yang pertama kali digelar serempak di Indonesia pada 1976 (Akronim dari Sekretariat Kerja Sama Antar-Lima Universitas di Pulau Jawa; kala itu meliputi Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Airlangga).

“Selain ikut SKALU, saya juga ikut tes masuk perguruan tinggi non-SKALU dan semuanya lulus. Tahun 1978 saya diterima di tiga perguruan tinggi sekaligus (UII, UNS, dan UGM) pada waktu yang hampir bersamaan. Akhirnya saya pastikan memilih UGM, meskipun sudah daftar ulang dan membayar SPP di perguruan tinggi lain,” kata pria yang hobi badminton ini.

Di saat menjalani kuliah, UGM dalam transisi penerapan sistem kredit semester (SKS). Purwanto dan kawan-kawan adalah mahasiswa angkatan terakhir yang mendapat ijazah sarjana muda. Berbekal ijazah sarjana muda hukum (SMHk), Purwanto melamar dan diterima kerja sebagai lawyer pada sebuah bank swasta di Yogyakarta. Secara praktis, kuliah S1 hingga mendapat gelar sarjana hukum (SH) dijalaninya sambil bekerja.

Tak lama setelah gelar sarjana diraih, Purwanto dimutasi ke Jakarta. Di tempat baru dirinya menekuni bidang yang sama, yakni sebagai lawyer sebuah bank swasta terkemuka.

Mula ceritanya, pada tahun 1992 ada pengumuman tes seleksi bagi calon hakim (cakim). Atas dorongan sang istri, Purwanto ikut dan lolos tes seleksi cakim.

“Istri saya yang memberi dorongan untuk ikut tes cakim. Sekira betah agar dijalani; sekira tidak betah, nanti balik lagi ke perbankan,” ujarnya menirukan kalimat sang istri.

Dari lolos seleksi sebagai cakim itulah perjalanan karier suami Ida Ayu Esti ini bermula. Pertama kali sebagai calon hakim, ia ditugaskan di PN Bantul (1992-1996).

Setelah diangkat menjadi hakim, ia ditempatkan di PN Bangkinang (1996-1999). Berurut-turut berpindah tugas sebagai hakim di PN Tabanan (1999-2002), PN Wates (2002-2006), dan PN Bukittinggi (2006-2008).

Selanjutnya, sebagai hakim yustisial di Mahkamah Agung RI pada 2008-2014. Wakil Ketua PN Purwokerto dijabatnya 2014-2015. Adapun jabatan Ketua PN Purwokerto diembannya sejak 2015 hingga sekarang. (udien.humas@gmail.com)

1. Semasa SD Tak Kenal Sepatu

Purwanto terlahir sebagai anak sulung dari sembilan bersaudara. Ayahnya adalah karyawan pabrik gula di Madukismo (Bantul) dengan jabatan sinder tanaman.

Purwanto kecil menjalani pendidikan dasar dini hingga sarjana di Yogyakarta. Suasana perdesaan betul-betul ia rasakan saat dirinya duduk di bangku SD dan SMP.

Semasa kanak-kanak di desanya belum ada penerangan listrik. Bahkan, ke sekolah pun ia tidak bersepatu. “Saya belajar di SD dan biasa berjalan kaki ke sekolah,” kenang Purwanto.

Setamat SD Kretek Lor, putra pasangan Abdulrohman dan Djumiah ini melanjutkan ke SMP Gondowulung hingga tamat tahun 1973. Sewaktu di SMP, perjalanan ke sekolah sejauh empat kilometer ditempuhnya dengan sepeda onthel.

Semasa di sekolah, sosok kelahiran 10 Oktober 1957 ini aktif dalam kegiatan pramuka. Saat di bangku sekolah menengah ia sempat mengelola majalah dinding. “Selain itu, saya dulu pernah ikut kegiatan ekstrakurikuler keterampilan pangkas rambut,” katanya. (*)

2. Akhiri Hobi Menembak

Tak disangka, Purwanto adalah sosok yang jago dan piawai dalam hal menembak. Hobi membidik burung dengan senapan angin pernah dilakoninya semasa muda dulu.

“Kini hobi itu sudah saya lupakan. Saya merasa bersalah dan berdosa, sehingga hobi itu saya akhiri untuk selamanya,” katanya serius.

Menurutnya, saat SMP ia suka menguntit orang yang sedang berburu dengan senapan angin. Konon, ayahnya mengetahui gelagat sang anak. Suatu ketika ia dipinjami senapan angin milik teman ayahnya. Ternyata, bidikan-bidikannya acap kali mengenai sasaran.

Suatu hari, teman ayahnya menawarkan sebuah senapan angin. Harganya waktu itu terbilang cukup mahal. Untuk memilikinya, ia pun rela membayarnya dengan cara kredit alias mengangsur.

Hobi menembak dijalaninya hingga masuk perguruan tinggi. Dan, di perguruan tinggi pula hobi menembak ia tinggalkan hingga sekarang. Kisahnya, suatu ketika ia bersama sekelompok mahasiswa pecinta alam mengadakan program reboisasi di lereng Merapi dengan menghadirkan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim.

“Saat jamuan makan, Pak Emil merasa kaget karena lauk daging ayam,” katanya.

Pak Emil diberitahu salah seorang mahasiswa, bahwa ayam tersebut adalah hasil buruan. Mendengar hal itu, Pak Emil marah.

“Masak mahasiswa pecinta alam malah merusak alam,” kata Pak Emil waktu itu.

“Padahal, ayam itu adalah hasil tembakan saya. Sejak saat itu saya berhenti menembak,” kenang Purwanto.

Semasa di bangku kuliah pula ia meminang wanita idamannya. Dari pernikahannya dengan Ida Ayu Esti, ia dikarunai dua orang puteri. (*)

Komentar

komentar

BAGIKAN