Kuliah membuat anda bosan? Kenapa? Bagaimana membuat suasana kuliah agar tidak membosankan? Tiga pertanyaan itu adalah masalah yang umum dihadapi oleh seorang mahasiswa. Tak terkecuali oleh mahasiswa Institut Agama Ialam Imam Alghazali ( IAIIG) Cilacap. Satu universitas yang berlokasi di Jalan Kemerdekaan Barat No 17 Kesugihan Cilacap.

Kampus yang berdiri tahun 90-an ini terdiri dari tiga fakultas: Tarbiyah, Dakwah, dan Syariah. Akan tetapi dalam tulisan ini saya hanya akan membicarakan fakultas dakwah. Khususnya jurusan komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) semester 4. Jurusan di mana saya dan teman-teman satu angkatan belajar menjadi mahasiswa.

Pada hari-hari pertama, saya aktif menjalani proses perkuliahan. Mungkin karena masih baru, jadi saya bersemangat dan aktif mengikuti setiap mata kuliah. Memasuki minggu kedua, suasana perkuliahan mulai berbeda. Oh iya saya belum mengatakan,  di semester satu ini, proses perkulihan masih paralel. Saya bergabung dengan beberapa mahasiswa dari prodi berbeda tapi mengambil mata kuliah sama. Setiap hari kelas pun penuh.

Tetapi keadaan mulai berubah di pertengahan semester. Ada sejumlah mahasiswa bolos kuliah sehingga membuat ruang kelas tampak lengang. Sikap teman-teman saat mengikuti jalannya kuliah juga berbeda. Kalau di hari-hari pertama mereka tampak semangat dan memperhatikan mata kuliah, kini banyak di antara mereka yang sudah berani mengantuk di kelas, ngobrol dengan teman di sampingnya, bahkan mereka ada yang main HP sendiri dan berselancar di dunia maya.

Awalnya saya kaget dengan keadaan ini. Saya merasakan betapa santainya kuliah di sini. Sampai-sampai saya mengambil kesimpulan sendiri: Mungkin memang begitulah orang berkuliah atau yang keren disebut mahasiswa.

Perlahan saya pun bisa memahami kenapa teman-teman bersikap seperti itu. Ternyata kuliah membuat mereka bosan. Mereka sudah belajar selama 12 tahun sejak SD sampai SMA. Mereka juga bukan anak kecil lagi yang mau saja diatur oleh gurunya. Di sini, semua dilakukan dengan kesepakatan antara mahasiswa dan dosen (kontrak belajar). Tidak ada aturan khusus super ketat seperti di bangku sekolah.

Sebenarnya kenapa sih teman-teman bosan dengan kuliah? Saya masih heran. Mereka seringkali memilih-milih dosen. Kalau tidak suka dengan dosennya, maka mereka memilih bolos. Kalaupun berangkat paling-paling sibuk dengan ponselnya sendiri. Memang sih terkadang saya sendiri kurang suka dengan sikap beberapa dosen. Tapi saya tidak ingin ikut-ikutan protes dengan cara meninggalkan ruang kelas alias bolos.

Ada beberapa hal yang membuat mahasiswa tidak suka pada seorang dosen dan akhirnya membuat malas kuliah. Di antaranya, dosen yang ketika mengajar lurus-lurus saja, tanpa ada selingan dan berbicara sendiri. Mahasiswa hanya mendengarkan tanpa diberi kesempatan berpendapat. Adalagi dosen yang kalau sedang mengajar suka membicarakan sesuatu di luar kuliah. Terkadang ada juga dosen yang terkesan keras dan terlalu disiplin. Kemudian tugas-tugas kuliah yang menumpuk dan harus dipresentasikan. Belum lagi kuliah paralel yang mengharuskan kami bergabung dengan teman-teman yang tidak satu prodi. Semua itu membuat kami kurang nyaman dan enggan mengikuti perkuliahan. Meskipun sebenarnya kami sadar bahwa semua itu adalah modal untuk kami memperoleh nilai dan ilmu yang baik.

Kendati bosan dengan semua itu kami tetap bertahan sampai masuk semester tiga. Di semester tiga,  kami tidak lagi paralel. Itu membuat mahasiswa lebih leluasa mengeluarkan unek-unek pada para dosen dan pengelola kampus. Mahasiswa menjadi berani menyatakan tentang apa dan bagaimana agar perkuliahan tidak lagi membosankan.

Semua mahasiswa mendambakan sistem kuliah yang tidak monoton. Di mana mahasiswa hanya duduk manis di kelas, lalu membuat makalah, dan presentasi di depan kelas. Mahasiswa ingin perkuliahan yang aktif dan menyenangkan. Kalau perlu kuliah out door agar kami tidak jenuh.

Beberapa mata kuliah berjalan sesuai keinginan kami. Seperti jurnalistik, reportase, fotografi, dan psikologi sosial. Akan tetapi yang paling menjadi favorit kami adalah mata kuliah jurnalistik dan fotografi.

Mata kuliah jurnaslistik mengharuskan kami menulis dan suka membaca. Dua hal yang sebenarnya sama sekali tidak kami sukai. Tapi entah kenapa, kami menyuakai mata kuliah ini. Mungkin karena faktor dosennya yang masih muda dan energik. Dia juga seorang praktisi juranalistik yakni editor di SatelitPost. Sehingga bisa dikatakan ia benar-benar menguasai materi . Ia selalu bisa membuat suasana kuliah asyik dan tidak membosankan. Padahal sebenarnya mata kuliah ini termasuk mata kuliah yang sulit bagi kami.

Mata kuliah fotografi mungkin paling favorit di antara semuanya. Kami hanya 1-3 kali duduk manis di kelas untuk mendengarkan dosen bercerita tentang dunia fotografi. Sisanya kami keluar kelas berburu obyek-obyek menarik untuk diabadikan. Betapa cerianya saat kami berpose layaknya seorang model terkenal. Begitu juga saat memegang kamera DSLR. Wah serasa seorang fotografer profesional. Kalau saja setiap hari ada mata kuliah fotografi kami akan berangkat kuliah terus.

Bagaimana dengan suasana perkuliahan di semester ini? Semoga kami para mahasiswa masih dan akan selalu semangat belajar. Semoga juga suasana kelas tidak lagi membosankan.(*)

Komentar

komentar

LEAVE A REPLY