Ajak Budidaya Cabai

Tohari, Kades Mulyasari, Majenang

TINGGINYA kebutuhan hidup, membuat orang harus pandai memanfaatkan peluang. Hal ini pula yang dilakukan oleh Kades Mulyasari Kecamatan Majenang, Tohari.

Tak hanya sibuk bertugas sebagai pelayan masyarakat, Tohari juga memiliki kesibukan lain di bidang agro bisnis. Terhitung sudah delapan tahun Tohari menggeluti bidang ini. Bahkan sebelum dirinya diberi amanah untuk menjadi kades.

Tak hanya itu, dia pun membuka toko pertanian yang menyediakan obat-obatan pertanian termasuk pupuk untuk tanaman pertanian yang dikelola istrinya. Kepada SatelitPost Tohari mengaku dari bisnis cabai dirinya bisa meraup keuntungan bersih mencapai Rp 75 juta dalam sekali panen dalam kurun waktu enam bulan.

Kegiatatan berkebun cabai dilakukannya saat libur kerja. Yakni di hari Sabtu dan Minggu. Hampir selluruh waktunya dihabiskan untuk mengurusi tanaman cabai.

“Setiap hari Sabtu dan Minggu atau hari libur hampir  saya manfaatkan  merawat tanaman cabe di kebun,” ujarnya.

Untuk meningkatkan dan mengontrol harga cabai dia ikut aktif dan bergabung dengan Paguyuban Ikapormas yang selalu memberikan informasi terkait komoditi pertanian di Barlingmascakeb yang laku di pasaran.

Selain itu dia juga sudah menjalin kerjasama dengan perusahan eksportir sayuran termasuk cabai untuk pasar konsumen di Singapura. Beruntung, permintaan cukup tinggi. Sehingga dia pun menggandeng sejumlah petani cabai lainnya agar bisa terpenuhi.

Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan lokal dia lakukan penanaman cabai dengan melawan arus masa tanam. Pada saat habis musim panen dan pasokan cabai berkurang, saat itulah dia justru sedang masa panen. Jadi dipastikan harga cabai sedang tinggi.

Diakui masih banyak kendala di lapangan terkait harha cabai. Satu di antaranya terkait harganya yang fluktuatif (tidak stabil). Dan hingga saat ini pemerintah masih belum bisa menyetablikan harga cabai pada saat masa panen.

“Pemerintah belum bisa menentukan harga terendah dan tertinggi cabai. Sehingga pada saat cabai harga justru jatuh, petani pun merugi,” kata dia.

Meski demikian, Tohari menuturkan permintaan cabai rerata masih cukup tinggi. Sehingga dirinya mengajak masyarakat untuk ikut membudidayakan cabai. Baik itu cabai merah atau keriting. Karena lahan di masing-masing desa di Majenang tergolong potensial.(lim)

Komentar

komentar