Masa pendaftaran bakal calon (Balon) bupati Banyumas telah bergulir. Sejumlah tokoh bermunc ulan mendaftarkan diri sebagai bakal calon bupati maupun wakil bupati. Partai PDIP, Golkar, Gerindra, PKS, PKB  telah menerima pengembalian formulir para tokoh yang ingin jadi pemimpin kabupaten Banyumas.

Kini tinggal partai yang melakukan survei dan jajak pendapat kepada masyarakat, terhadap Balon yang mendaftar untuk mengetahui elektabilitas di masyarakat maupun verifikasi kelayakan. Sedangkan para balon bupati yang mendaftar menanti rekomendasi partai yang bersangkutan.

Peta kekuatan politik Banyumas memang masih didominasi partai-partai lama. Dari lima daerah pemilihan di Banyumas masing-masing memiliki karakter pemilih yang berbeda yang harus dicermati. Ada banyak kemungkinan bakal calon bupati yang akan muncul, bisa dua pasang atau tiga pasang.

Majunya petahana, Achmad Husein dalam Pilkada 2018 yang mendaftarkan diri sebagai Bakal Calon Bupati melalui PDIP belum tentu akan melenggang dengan mudah. Pasalnya tokoh-tokoh muda dan masih baru di kancah perpolitikan bermunculan. Sebutlah Bambang Barata Aji, Sadewo, dr Budhi Setiawan, Juli Krisdianto yang memang sebagai kader PDIP,  pun berupaya menarik simpatik DPP PDIP agar merekomendasikan sebagai calon Bupati Banyumas. Sejumlah elemen masyarakat pun berkeinginan memiliki calon pemimpin baru.

Lalu Mardjoko, ketokohannya yang masih punya kharisma tidak bisa jadi jaminan melenggang mulus. Kendati tak hanya satu parpol yang ia sambangi, namun sederet tokoh muda penuh potensi ikut daftar. Maka kejelian partai politik jadi taruhan, akan memilih siapa yang layak diusung. Selain itu lobi-lobi politik antarparpol guna membentuk koalisi suatu hal yang tak mungkin terhindarkan. Disini tarik-ulur siapa berpasangan dengan siapa akan menguras energi dan pikiran, mengingat pemilih di Banyumas kian kritis.

Pengamat politik dari Fisipol Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Ahmas Sabiq mengatakan seorang bupati tidak hanya cukup memiliki bekal politik semata, tetapi juga pengetahun dan kemampuan dalam menyelenggarakan pemerintahan. Satu hal lagi kecakapan berkomunikasi yang santun, elegan ke semua lini. Kasus yang menimpa Ahok tampaknya suatu pelajaran yang sangat berharga, secara elektabilitas kala jelang Pilkada DKI 2017 sangat tinggi, keberhasilan membangun Jakarta sangat drastis, akan tetapi tingkah ucapannya yang kurang terjaga akhirnya tumbang juga.

Dan lagi peristiwa yang berkembang di tengah masyarakat, seperti proyek PLTPB Baturraden, masuknya transportasi berbasis online yang secara langsung menimbulkan gejolak masyarakat  harus benar-benar disikapi secara bijak, tetap berpihak kepada masyarakat. Di sektor pariwisata publik masih menanti gebrakan yang mendongkrak kepariwisataan lebih nyata merata, tak sekadar membuat jargon Better Banyumas. Apakah Better Banyumas hanya akan tinggal nama atau bagaimana.

Nama-nama bakal calon bupati dan wakil bupati telah tersiar ke publik. Harapan dari publik, semoga saja tidak berdasar uang mahar parpol menentukan bakal calon bupati, tetapi berdasar track record. Bersih dari kasus korupsi, dan lain-lain. Kalau timbul dibelakang pencalonannyasemata  berdasar uang, sudah pasti membuat kecewa warga sekaligus melukai pesta demokrasi, pembangunan dikhawatirkan tak berpihak ke konstituen. Mudah-mudahan ini tidak terjadi. (messidonna54@yahoo.com)

 

 

Komentar

komentar

BAGIKAN