Bawor Satria

Oktober 2017 lalu, Banyumas kedatangan seorang tokoh penegak hukum baru, namanya, Bambang Yudhantara Salamun. Sebelum menjabat sebagai Kapolres Banyumas, Bambang sudah meniti karier di berbagai daerah.

Prestasi dan sepak terjangnya di dunia penegakan hukum patut diacungi jempol. Juli 2017 lalu, Bambang yang masih menjabat sebagai Kasubdit 3 Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya mampu menggagalkan penyelundupan 1 ton sabu melalui dermaga eks Hotel Mandalika, Jalan Anyer Raya, Serang Banten.

Meski demikian, awal kariernya di Banyumas dapat dikatakan kurang ideal. Belum genap seminggu memimpin, Bambang harus berurusan dengan puluhan pekerja media yang berang. Perkara ini dipicu aksi penganiayaan terhadap seorang Jurnalis Metro TV, Darbe Tyas. Meski demikian, karena ketegasan dan kepiawaiannya memimpin, kasus ini pun rampung.

Usai mengurus masalah Darbe menguras tenaga dan waktu tersebut, Kapolres kemudian dapat berkonsentrasi menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum. Satu yang paling kentara adalah langkahnya memberantas peredaran dan praktik perjudian di Banyumas. Hampir seluruh jajaran di bawah Polres Banyumas bergerak serempak. Bandar-bandar dicokok tanpa kompromi. Ujungnya, bisnis ‘303’ ini pun hilang tak berbekas. Satu lagi prestasi patut diapresiasi.

Setelah membasmi wabah judi, Bambang bergerak ke sektor lain. Kali ini, peredaran minuman keras dan narkoba yang menjadi sasarannya. Berpuluh warung penjual miras di Banyumas langsung diberangus oleh sang Kapolres. Sekarang, banyak sekali orang yang kesulitan mendapatkan barang haram ini. Lagi, tindakannya layak mendapatkan acungan jempol.

Terakhir, langkah bersih-bersihnya dilakukan dengan membentuk sebuah tim khusus. Tim ini diberi nama Bawor Satria. Bawor-nya merupakan singkatan dari Berantas Ancaman Warga Objektif dan Responsif. Tujuannya utamanya adalah menekan angka kejahatan di Banyumas.

Tim yang mulai diaktifkan pada tanggal 21 November 2017 lalu ini terdiri atas 33 personel. Setiap melancarkan operasinya, mereka berpakaian lengkap layaknya serdadu yang berangkat ke medan perang. Mereka dibekali senjata laras panjang, helm yang kabarnya memenuhi standar perang, kamera, dan kendaraan roda dua yang memiliki kemampuan offroad.

Dari total 33 personel yang tergabung dalam tim ini, enam di antaranya merupakan polisi wanita. Mereka disisipkan khusus untuk menangani pelaku kejahatan wanita.

Bawor Satria rajin menggalakkan patroli di jam-jam yang dianggap rawan kejahatan, misalnya sekitar pukul 22.00 sampai 05.00 WIB. Setiap kali berpatroli, mereka mengendarai sepeda motor trailnya dengan sigap. Layaknya, pebalap motorcross. Patroli ini dilakukan untuk menemukan tindak pidana kejahatan seperti penjambretan, pembegalan, pencurian, penganiayaan, pengeroyokan, penjualan miras, dan lain-lain.

Meski membawa target utama untuk mencari penjahat, Tim Bawor Satria ternyata lebih sering melakukan tindakan terhadap masyarakat umum. Khususnya, para pemuda yang sering menghabiskan malam-malamnya dengan nongkrong di pinggir jalan.

Kapolres sempat bicara soal ini. Menurutnya, selain menindak pelaku kejahatan, pasukan tersebut juga membawa tugas lain. Yakni, memberikan pembinaan terhadap pemuda. Yakni, agar para pemuda harapan bangsa ini terhindar dari tindak-tindak pidana.

Di beberapa kesempatan, tim ini mendapati pemuda-pemuda Banyumas yang sedang nongkrong di pinggir jalan sembari mengonsumsi miras. Tim ini pun tak memberikan kompromi. Pemuda-pemuda macam ini langsung digelandang ke Mapolres Banyumas untuk mendapatkan pembinaan. Sampai saat ini jumlah pemuda dan masyarakat yang mendapatkan pembinaan ini mungkin sudah mencapai ratusan jiwa.

Banyak pihak mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh Polres Banyumas di bawah pimpinan Kapolres barunya.  “Banyumas dadi aman, bocah tongkrongan karo mabok nang pinggir nggili pada wedhi,” kata seorang bapak yang tengah Ngeronda di Desa Rempoah memberikan dukungan kepada Kapolres dan Tim Bawor Satrianya.

Meski banyak yang setuju dan memberikan dukungan, tak semua warga merasa nyaman dengan aktivitas tim ini. Banyak yang berusaha menyampaikan kritik terhadap Polres, khususnya dalam rangka membina pemuda dan berpatroli.

Beberapa menyebut, akan lebih baik jika tim ini menggunakan atribut dan cara yang lebih ramah dalam berpatroli. Apakah untuk mendatangi tongkrongan pemuda, mereka harus mengenakan seragam perang? Apakah untuk memantau kondisi di dr Angka saja, mereka harus memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi?

Sebab, dengan seragam, senjata, dan perangainya selama ini, Tim Bawor Satria yang mulai dicintai warga malah terlihat sedikit arogan. Akan sangat disayangkan jika tim penjaga kamtibmas ini malah menuai polemik dari warga. (topan pramukti)

Komentar

komentar