Manusia memang boleh berencana. Tapi tetap Tuhan yang menentukan. Dalam hidup, manusia mempunyai mimpi, harapan, dan cita-cita. Namun, Tuhan adalan sutradara kehidupan manusia. Jika harapan tak sejalan dengan kenyataan, mungkin itu kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga itu yang harus dijalani dan disyukuri.

Seperti itulah yang dikisahkan F Budi Santoso SPd MSi, pada pembuka obrolan bersama SatelitPost. Menjadi seorang guru bukanlah cita-cita yang diharapkannya dahulu. Budi muda justru mendambakan menjadi seorang teknokrat.

Sejak lulus sekolah dasar (SD) di Gandrung Manis 1 Cilacap dia meneruskan di SMP Negeri 1 Gandrungmangu. Jenjang berikutnya, dia mendaftar di STM Negeri 1 Cilacap. Namun karena tidak direstui ayahnya, dia pindah ke SMA Negeri 1 Sidareja. Harapannya agar bisa menjadi guru seperti ayahnya. Jurusan guru dianggap lebih ringan dibanding jurusan elektro.

Meskipun berasal dari daerah terpencil dan langganan banjir, tak lantas menyurutkan semangatnya untuk belajar. Keseriusan itu pun membuahkan hasil. Selama sekolah, Budi termasuk siswa berprestasi. Bahkan, dia sering menjadi yang terbaik di sekolahnya.

“Kalau lagi banjir, berangkat sekolah dari rumah ke jalan raya saya manggul sepeda. Jarak rumah ke sekolah sekitar 3 km, saya bersepeda,” kata pria kelahiran 15 Januari 1970 itu.

Namun, prestasi Budi sempat menurun, ketika memasuki semester akhir kelas 3. Dia terkena penyakit tipes dan sering absen sekolah. Hal itu ternyata berdampak tidak diterimanya Budi saat mendaftar di Fakultas Teknik Elektro UGM.

Budi pun diarahkan untuk mendaftar Akmil. Sebagai anak yang berbakti, Budi menuruti nasihat kedua orangtuanya. Namun lagi-lagi dia gagal, dikarenakan faktor fisik yang tidak memenuhi persyaratan.

Budi akhirnya menempuh perkuliahan di Pendidikan Akuntansi FKIP UNS Surakarta. Karena termasuk mahasiswa berprestasi, selama perkuliahan dia mendapatkan beasiswa ikatan dinas, dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah lulus, dia pun mulai menjadi profesi guru Wiyata Bakti di SMK Surakarta.

Bermodalkan ijazah, Budi muda mencoba peruntungan nasib. Dia melamar di beberapa perusahaan. Selama masa pencarian itu, dia tinggal di rumah saudara. Namun itu tak berlangsung lama. Karena tak enak membebani saudara, Budi kembali ke kampung halaman. Dan berselang, dia pun kembali menjajal peruntungan di Jakarta.

Kali ini dia berhasil. Dia diterima bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti. Budi dipercaya menduduki posisi sebagai treasury staff. Cukup lama dia bekerja di tempat itu, sampai menduduki jabatan treasury assistant manager.

“Oktober 1997 saya keluar, karena SK CPNS saya turun. Saya menjadi guru di SMEA Negeri 1 Purbalingga. Cukup kaget karena biasa mendapat gaji bulanan sampai Rp 2 juta menjadi guru hanya Rp 150 ribu,” katanya.

Sekitar 11 tahun di Purbalingga, pada tahun 2011 dia mengikuti tes kepala sekolah. Setahun kemudian, dia sudah dilantik mnejadi kepala sekolah. Dia menjadi kepala sekolah di SMK Bojongsari. Selanjutnya dia pindah menjadi kepala sekolah di SMK Kaligondang Purbalingga, sampai sekarang. “Saya meneruskan kuliah S2 di Fakultas Ekonomi Unsoed, dan lulus tahun 2008,” kata dia,

Saat ini, bisa dikatakan karier Budi jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun, buah manis yang dinikmati sekarang, tentu tidak instan. Keberhasilannya kini sudah melalui terpaan yang keras. Namun bisa meraih keberhasilan karena diikuti tekad yang keras juga.

“Kepala sekolah memang menjadi nahkoda. Tapi kesuksesan sebuah sekolah atau lembaga bukan semata karena peran kepalanya saja. Tapi semua unsur terkait, karena kita adalah sistem. Semua harus saling terintegrasi,” kata dia.([email protected])

Relaksasi dengan Alunan Gamelan

Irama dalam alunan musik disinyalir bisa menjadi relaksasi bagi otak manusia. Hal itu juga diakui oleh Budi, yang gemar musik karawitan. Bagi dia, mendengarkan musik tradisional Jawa bisa membuat tenang pikiran.

“Pada gamelan itu, bagi saya ada irama yang harmonis, dan itu bisa membuat tenang,” ujarnya.

Tak mengherankan, karena sejak kecil Budi sudah familiar dengan alunan musik gamelan. Bahkan dia pun pernah menjadi seorang penari tradisional.

“Saya selain suka memainkan gamelan, sejak kecil juga biasa nari. Cuma sekarang untuk nari sudah tidak melakukan, tapi kalau main gamelan masih,” ujarnya.

Sedangkan hobi mengotak atik barang eletronik dan otomotif, sampai sekarang masih kerap ia lakukan. Meskipun tidak memiliki waktu khusus, setidaknya dia masih menyalurkann hobinya itu. “Kalau otomotif saya lebih pada perfoma mesin, bukan modifikasi bentuk. Sedangkan elektro, saya masih suka otak atik komputer,” katanya. (min)

 

 

 

 

Komentar

komentar