Ari Budi Rahayu P SPd
Pendidik di SMA
Negeri 1 Batur, pengampu pelajaran ekonomi dan tinggal di Dataran Tinggi
Dieng

Tananaman kentang memang menjadi tanaman ungulan di Dataran Tinggi Dieng sejak tahun 1980-an. Tanaman kentang sempat menjadi tanaman yang menggemparkan karena tanaman inilah yang mengangkat perekonomian negeri di atas awan menjadi makmur dan serba berkecukupan. Pada tahun yang sama 4.564 ha lahan kentang bisa berproduksi 74.001 ton/tahun. Lebih dari 56.539 ha Dataran Tinggi Dieng ditanami  kentang. Ini artinya 56.539 ha lahan menjadi lahan kritis yang sangat berpotensi erosi karena tanaman kentang tersebut. Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (BRLKT) DAS Serayu mengatakan tingkat erosi  10,7 m3/tahun atau rata-rata 161 ton/ha/tahun. Padahal batas maksimal erosi 10 ton/ha/tahun penelitian ini terjadi pada tahun 1986 sampai 1990-an. Bisa dibayangkan jika ini terjadi hingga sekarang maka angka itu akan semakin besar.

Pengolahan lahan yang salah, pola tanam yang keliru serta sifat tanaman kentang yang membutuhkan lahan gembur memang sangat mendukung terjadinya erosi di Dataran Tinggi Dieng. Dengan demikian, maka Waduk Mrica di Banjarnegara mengalami pendangkalan cukup parah akibat terjadinya erosi dari Dataran Tinggi Dieng melaluli Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu yang disebabkan oleh erosi lahan di dataran tinggi tersebut.

Tidak hanya pendangkalan Waduk Mrica tetapi juga kerusakan lingkungan yang luar biasa mulai dari rusaknya hutan, tanah longsor serta rusaknya lingkungan yang disebabkan karena dampak tanaman kentang. Di samping itu, tanah pertanian juga mengalami kerusakan akibat penggunaan pupuk dan bahan kimia yang berlebihan sehingga banyak lahan pertanian yang resistensinya luar biasa terhadap hama penyakit. Akibatnya tanah susah untuk dikendalikan. Ini berakibat petani mengalami kesulitan dalam bercocok tanam sehingga hasil panen pun menurun karena harus mengunakan obat dengan dosis di atas ketentuan.  Hal tersebut bisa dilihat dari wawancara langsung dengan petani. Dulu pada tahun 2005-an petani bisa memproduksi 2,5 ton dengan biaya produksi  sekitar 3,75 juta pada lahan ¼ ha sekarang hanya bisa memproduksi 2 ton dengan biaya produksi 7 juta juta pada lahan yang sama dari hasil ini bisa dibandingkan bahwa modal yang semakin besar tetapi hasil produksinya sangat sangat tidak sebanding. Ini adalah akibat dari resistensi tanah yang sudah kelebihan dosis pengunaan abat kentang trsebut. Hal ini tidak dapat dibiarkan karena akan mengancam lingkungan di Dataran Tinggi Dieng serta perekonomian daerah tersebut.

Oleh karena itu, butuh  pengganti tanaman kentang atau pendamping tanaman tersebut agar lahan Dataran Tinggi Dieng tidak semakin rusak dan sekaligus juga bisa menopang perekonomian masyaraka Dataran Tinggi Dieng. Satu di antaranya adalah tanaman Carika.

Selain  carica juga ada beberapa tanaman yang potensial di daerah terebut seperti kubis, wortel, seledri dan lain-lain. Tetapi carica mungkin lebih cocok kalau orientasinya untuk menyelamatkan lahan kritis. Karena carica adalah tanaman semi keras sama seperti pepaya hanya bedaya carica bercabang pepaya tidak bercabang. Sehingga tanaman carica ini bisa mengurangi lahan rusak, erosi dan resisten karena bisa menahan tanah dari dan tidak memakai pupuk kimia.

Carica adalah tanaman endemik Dataran Tinggi Dieng, buah ini sudah lama ada tetapi baru beberapa tahun ini menjadi ramai banyak dibudidaya para petani Dieng. Perkilonya dijual antara Rp 4.000-Rp 6.000. Buah ini tergolong langka dan unik karena hanya ada di daerah yang kerap disebut negeri di atas awan ini. Buah ini tidak di temukan di daerah lain sehingga banyak dijadikan oleh-oleh wisatawan yang berkunjung ke Dieng.

Seiring dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Dieng sejak beberapa tahun ini. Penulis melihat bahwa carica menjadi tanaman yang sangat potensial dengan nilai ekonomi tinggi, karena buah ini selain bisa dimakan dalam bentuk buah juga bisa dimodifikasi menjadi manisan, sari buah, selai, sirup, jenang dan juga bisa di jadikan mie tentunya ini akan menjadi peluang bisnis yang punya nilai ekonomi tinggi. Sekaligus sebagai tanaman penggati tanaman kentang.

Selain itu, untuk menjaga tanah dan lingkungan pertanian agar tetap aman dan menguntungkan maka harus ada pemahaman kepada masyarakat tentang Sistem Usaha Tani. Konservasi yang akan membangun pertanian secara berkelanjutan yang sudah disepakati secara internasional,  yaitu; (1) kerusakan hutan dan lahan tidak lebih cepat dari regenerasi hutan dan lahan; (2) kepunahan jenis atau spesies tidak melebihi evolusi jenis atau spesies itu sendiri; (3) laju erosi tanah tidak lebih cepat dari pembentukan tanah; (4) emisi karbon tidak lebih tinggi dari fiksasi karbon; dan (5) permintaan  produk pertanian tidak lebih banyak dari produksi pertanian.

Melalui pedoman tersebut masyarakat diharapkan dapat melakukan budidaya pertanian di lahan pegunungan dengan menggunakan kaidah yang benar. Dengan demikian intensitas dan potensi longsor serta erosi dan degradasi lahan pegunugan dapat dikurangi sebagai implementasi dari konsep pertanian yang baik (Good Agricultural Practices).

Kiranya jika hal di atas bisa dilakukan secara bersama maka Dataran Tinggi Dieng dapat terselamatkan dari ancaman kerusakan lingkungan tetapi tetap menjadi daerah pertanian yang bisa mensejahtrakan masyarakatnya.

Komentar

komentar

BAGIKAN