Perlu diketahui, bahwa artikel ini adalah gambaran penjelasan kepada khalayak terkait program layanan terapi rehabilitasi medis rawat jalan yang dilaksanakan oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten Purbalingga dalam Tahun Anggaran 2017.

Adalah hak dari setiap orang yang terpapar adiksi (ketergantungan) narkoba untuk dapat kembali menjalani kehidupannya secara sehat, mandiri dan produktif. Hal ini merupakan amanat sebagaimana termaktub dalam pasal 54 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang berbunyi, “Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.”

Bahwa sesuai dengan amanat pasal 64 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 yang berbunyi, “Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika, dengan undang-undang ini dibentuk Badan Narkotika Nasional”. Lebih lanjut dalampasal 65 ayat (1)Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 disebutkan, “BNN berkedudukan di ibukota negara dengan wilayah kerja meliputi seluruh wilayah Negara Republik Indonesia.” Danpada pasal 65 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 yang berbunyi, “BNN sebagaimana dimaksud ayat (1) mempunyai perwakilan di daerah provinsi dan kabupaten/kota.” Adapun mengenai tugas BNN terkait dengan rehabilitasi penyalah guna dan atau pecandu narkoba diatur secara spesifik dalam pasal 2 Peraturan Presiden Nomor 23 Tahun 2010 tentang Badan Narkotika Nasional yang disebutkan bahwa tugas BNN diantaranya adalah meningkatkan kemampuan lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial pecandu narkoba, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat.

Oleh karena itu, merujuk pada dasar di atas, Badan Narkotika Nasional Kabupaten Purbalingga pada Tahun Anggaran 2017 ini memiliki target untuk melayani 14 klien penyalah guna dan atau pecandu narkoba di lembaga rehabilitasi komponen masyarakat (LRKM) dan 10 klien penyalah guna dan atau pecandu narkoba di lembaga rehabilitasi instansi pemerintah (LRIP). Adapun LRKM yang menjadi mitra kerja BNN Kabupaten Purbalingga adalah RS.Harapan Ibu dan Klinik Siloam. Namun, untuk Tahun 2017, baru RS.Harapan Ibu yang bisa melayani dan mendapat dukungan pembiayaan dari BNN, sedangkan Klinik Siloam baru mendapat penguatan sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan asesor tersertifikat Kementerian Kesehatan. Sedangkan LRIP yang menjadi mitra kerja BNN Kabupaten Purbalingga adalah RSUD dr.R.Goetheng Taroenadibrata dan Puskesmas Kalimanah.

Adapun capaian (realisasi) penanganan klien penyalah guna dan atau pecandu narkoba yang telah dilakukan oleh LRIP di RSUD dr.R.Goetheng Taroenadibrata sampai dengan 1 Desember 2017 sejumlah 2 (dua) klien, dan 8 (delapan) klien lainnya telah ditangani di Puskesmas Kalimanah.

Sedangkan capaian (realisasi) penanganan klien penyalah guna dan atau pecandu narkoba yang dilakukan oleh LRKM di RS.Harapan Ibu sejumlah 5 (lima) klien.

Bahwa BNN Kabupaten Purbalingga telah melakukan berbagai daya dan upaya semaksimal mungkin dalam menjalankan program layanan terapi rehabilitasi medis rawat jalan bagi penyalah guna dan atau pecandu narkoba di Tahun 2017 ini, diantaranya melalui langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Melakukan pemantauan dan mengawal jalannya proses layanan rehabilitasi medis rawat jalan dari setiap klien yang ditangani. Kami pastikan bahwa klien hadir dan mengikuti program layanan terapi yang dilaksanakan oleh lembaga rehabilitasi (baik LRKM maupun LRIP). Kami pastikan pula bahwa dalam setiap kunjungan klien, pihak keluarga dilibatkan, sebab tingkat kepulihan klien salah satu faktor pendukungnya adalah dukungan dari orang-orang terdekatnya, orang-orang yang dicintainya, keluarganya.
  2. Jika klien masih berstatus sebagai pelajar, kami pastikan pula bahwa pihak sekolah mendukung klien untuk dapat pulih dari adiksi narkobanya melalui layanan terapi rehabilitasi medis rawat jalan. Artinya, hak klien untuk memperoleh pendidikan tetap terjamin (tidak dikeluarkan dari sekolah). Bahkan kita bekerjasama dengan pihak sekolah dan Kepolisian untuk bersama-sama memutus mata rantai peredaran narkoba maupun psikotropika di lingkungan pelajar. Perlu diketahui bahwa klien termuda yang ditangani oleh BNN Kabupaten Purbalingga berumur 14 tahun dan masih berstatus sebagai pelajar.
  3. Bahwa sebagai upaya untuk meningkatkan derajat keyakinan bahwa klien telah clean dari adiksi (ketergantungan) narkoba, kami, dan tentunya bersama-sama dengan tim lembaga rehabilitasi (baik RS.Harapan Ibu, Puskesmas Kalimanah maupun RSUD dr.R.Goetheng Taroenadibratha) akan menggunakan pola atau metode “home visit”. “Home visit” ini disamping sebagai bentuk silaturahmi antara kami dengan pihak keluarga klien, juga sebagai langkah untuk cross check derajat kepulihan klien serta untuk mengetahui apakah klien sudah berfungsi secara sosial di lingkungannya atau belum. Sekaligus sebagai upaya untuk mengikis stigma yang masih berkembang bahwa para penyalah guna dan atau pecandu narkoba adalah “sampah masyarakat”.

Peran serta dari seluruh lapisan masyarakat, unsur pemerintah, stakeholder dan semua pihak untukmembantu pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Kabupaten Purbalingga jelas diperlukan. Terlebih pada 10 Oktober 2016 Purbalingga telah dicanangkan sebagai “Kabupaten Bersih Narkoba”.

Tentunya kita semua tidak menginginkan bukan, jika kata “rehabilitasi” menjadi tameng berlindung bagi sindikat narkoba untuk terus melancarkan aksinya merusak generasi Indonesia.

Oleh karena itu, kami menghimbau kepada semua pihak, jika mengetahui ada penyalah guna dan atau pecandu narkoba yang belum mendapat akses layanan terapi rehabilitasi, agar segera melapordiri di kantor kami untuk dilakukan layanan terapi rehabilitasi. Layanan yang kami berikan gratis, tidak dipungut biaya.

Merehabilitasi penyalah guna dan atau pecandu narkoba untuk dapat kembali menjalani kehidupannya secara sehat, mandiri dan produktif, adalah salah satu bagian tak terpisahkan dari langkah memutus mata rantai penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.(*)

Komentar

komentar