Kemiskinan

Yuspita Anjar Palupi Redaktur SatelitPost

MESKI bukan tahun ajaran baru, tapi momentum hari pertama sekolah kali ini terasa berbeda. Ada semangat baru yang tak hanya terlihat dari sepatu, tas, dan buku baru yang dibawa dan dikenakan anak-anak ke sekolah. Lebih dari itu, ada sejumput harapan baru di tahun 2018. Meski, euforia pergantian tahun, libur panjang akhir semester, dan perayaan Natal masih tetap terasa.

Tak percaya? Coba saja tengok sejumlah harga bahan kebutuhan pokok atau bumbu dapur di pasar tradisional. Harganya masih saja bertahan di level tertinggi. Terhitung dari kenaikan harga yang terjadi sepekan sebelum Natal dan Tahun Baru 2018.

Beras kualitas super seperti C4 masih dibanderol Rp 12 ribu per kilogram. Sedangkan beras sejuta umat IR dipatok dengan harga Rp 11 ribu per kg. Sedangkan untuk beras jenis saigon dihargai Rp 13 ribu per kg. Buat Anda yang terbiasa mengonsumsi jenis premium seperti rajalele dan pandan wangi, tak perlu heran jika beras jenis ini sudah tembus di angka 17 ribu per kilogram.

Perihnya, tak hanya pada komoditas beras. Tapi bumbu dapur yang notabene pelengkap dalam prosesi masak memasak pun saat ini harganya masih belum normal. Khususnya untuk komoditas cabai rawit merah. Bagi mereka yang telah membudidayakan tanaman cabai di sekitar rumah mungkin ini tak lagi perkara besar. Tapi untuk para pelaku UMKM, semisal pemilik warung makanan, tentu saja ini tetap jadi persoalan. Bagaimana tidak, satu kilogram cabai rawit merah masih dihargai Rp 47-55 ribu.

Ah, ini memang hal klise. Yang pasti terjadi tiap tahun. Khususnya, kalau bertemu dengan perayaan hari raya keagamaan. Semua harga kebutuhan pokok pasti melambung. Seolah tak ingin kehilangan momentum. Memanfaatkan daya beli masyarakat yang dipastikan juga sedang melambung tinggi. Apalagi momentum kemarin. Libur sekolah, Natal, dan tahun baru, ketiganya bertumbuk jadi satu. Wajarlah kalau hukum penawaran bermain. Di saat permintaan dari masyarakat tinggi, maka harga jual pun mengikutinya.

Lalu siapa yang paling merasakan dampaknya? Siapa lagi kalau bukan rakyat kecil. Yakni, mereka yang tak memiliki pendapatan tetap. Mereka yang memiliki daya beli di bawah rata-rata. Merekalah yang paling tersiksa dari setiap kenaikan harga sembako.

Ironisnya, kondisi ini diprediksikan akan tetap bertahan paling tidak sepekan terakhir. Itu artinya rakyat kecil dituntut lihai dalam mengutak-atik pendapatan hariannya untuk menutup kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Tahun baru semestinya membawa banyak harapan baru. Termasuk harapan untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik untuk semua masyarakat. Pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi satu isu penting.

Pasalnya, per Maret 2017 lalu, angka kemiskinan di Indonesia terus bertambah. Padahal beragam kebijakan pengentasan kemiskinan terus digulirkan oleh pemerintahan Jokowi-JK. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,7 juta orang pada Maret 2017, bertambah sekitar 6.900 orang dibandingkan jumlah penduduk miskin per September 2016. Padahal, pertumbuhan ekonomi di tanah air cenderung naik.

Ini adalah PR dari pemerintah untuk bisa melakukan penanganan pengentasan kemiskinan. Harus ada evaluasi program, pendataan yang akurat, sehingga program yang digulirkan bisa tepat sasaran. Agar di sisa masa pemerintahan Jokowi-JK, pekerjaan besar ini bisa diselesaikan dengan hasil yang menggembirakan.(yuspita_palupi@yahoo.com)

Komentar

komentar

BAGIKAN