CHRIST CARRYING THE CROSS - TITIAN

Dalam sebuah legenda kota tua, banyak kolektor yang berjualan. Mereka berkumpul di alun-alun kota di dekat pepohonan rindang. Mulai dari berbagai jenis botol yang bergantungan di atas pohon supaya menarik orang, ada juga kolektor perangko, onderdil alat-alat rumah tangga, benda-benda pusaka, aneka buku lawas, sampai  kolektor alat-alat pertanian. Dan masih banyak yang lain lagi. Tiap hari di kota itu selalu ramai dikunjungi orang.

Oleh RD Ag Dwiyantoro
Imam Gereja St Yosep Purwokerto

Pada suatu ketika seorang kakek tua, dengan berjalan terhuyung-huyung, dengan kantong besar di punggungnya, menuju alun-alun itu. Para pedagang kolektor ini satu sama lain sudah saling kenal sebab sudah cukup lama berdagang di situ. Namun karena kedatangan kakek tua ini, perhatian mereka tertuju kepadanya. Koleksi apa yang akan digelarnya? Begitulah mereka ingin tahu. Namun kakek itu mengatakan bahwa ia hanya membawa bekal perjalanan dan mantel hujan. Seorang kolektor lalu bertanya, “Bukankah engkau adalah kolektor? Trus apa isi  kantong besar itu?”“Ya memang, saya seorang kolektor langka. Tetapi apa yang saya koleksi tidak bisa ditaruh di dalam bungkusan atau kantong ini. Saya mengumpulkan keprihatinan banyak orang.” Jawab si kakek.

Jawaban itu tentu saja tidak lazim kedengarannya. Karena itu mereka mendesaknya untuk menerangkan. “Baiklah, saya akan ceritakan kepada kalian koleksi saya. Beberapa tahun lalu, saya menemukan bahwa banyak hal yang dimiliki dan yang sering dihindari oleh setiap orang adalah kesusahan penderitaan, beban, kepedihan, kejengkelan dan kesulitan. Semua itu membebani hidup dan membuat mereka  sedih. Karena itu saya menawarkan diri  untuk mengumpulkan semua keprihatinan hidup setiap orang yang saya jumpai sehingga hidup mereka lebih ringan. Sederhana saja, kan?”

Kedengarannya simpel tetapi itu dirasa bodoh. Para kolektor melaporkan kepada ketua kolektor di kota. Namun setelah diselidiki bahwa tidak ada yang merugikan maka kakek itu dibiarkan. Suatu ketika datang seorang pemuda mencari kakek tersebut. Lalu bercerita tentang masalah hidupnya. Si kakek mendengarkan dengan tekun. Awalnya memang ragu-ragu tetapi kakek itu mengatakan, “Persoalan hidupmu mungkin tidak akan hilang segera tetapi sekurang-kurangnya hidup akan lebih baik. Cobalah.” Begitulah pesan kakek pada pemuda tersebut. Akhirnya semua keprihatinannya ditumpahkan. Setelah selesai, kakek mengangguk-angguk dan kemudian meletakkan kedua tangan di pundak pemuda, seolah-lah mengangkat sesuatu yang berat dan menaruhnya di dalam bungkusan.”Nak, aku telah mengambil bebanmu. Bagaimana perasaanmu sekarang?” Tanya sang kakek. “O..sekarang saya sungguh lebih baik. Saya lebih tenang dan hidup terasa lebih ringan.” Jawab pemuda tersebut.

Berita tentang kolektor aneh di alun-alun kota akhirnya menyebar. Dari mulut ke mulut kisah kakek kolektor langka itu menjadi booming, kalau zaman sekarang viral. Para kolektor barang-barang ikut juga menikmati ramainya perdagangan sebab semakin banyak orang datang ke alun-alun makin banyak juga yang tertarik dengan berbagai barang koleksi.

Hingga suatu ketika datanglah seorang wanita dengan beban batin yang besar. Tentu saja mereka membawanya kepada kakek kolektor langka ini. Cukup lama memang si wanita itu berbincang-bincang dengan kakek. Rupanya di kota lain, terjadi badai besar. Kota itu terpuruk karena perang, pengungsian dan pelanggaran hak  azasi manusia. Banyak orang menderita. Para pejabat kota juga berlaku semena-mena, mereka menggunakan kekuasaan untuk menindas rakyatnya. Sungguh gelap dan tidak ada harapan lagi. “Saya berhasil melarikan diri.” Tegas wanita tersebut.

“Baiklah! Sekarang engkau sudah lebih baik.” Sambil menepuk pundak wanita tersebut dan melakukan ritual menaruh sesuatu ke dalam kantongnya. Namun setelah itu ia terdiam cukup lama. “Saya akan pergi ke kota itu!” kata si kakek. Tentu saja banyak kolektor keberaratan. Mereka beruntung di kota tempat para kolektor, kehadiran kakek kolektor ini menguntungkan mereka. Mereka tidak ingin si kakek meninggalkan mereka. Namun tengah malam si kakek meninggalkan kota supaya tidak diketahui siapapun. Dan benar kakek meninggalkan kota.

Setelah beberapa waktu lama datang seorang anggota pasukan ke alun-alun. Dengan beban berat ia bercerita dan sampai ia mendapat kelegaan dari para kolektor. “Mengapa kalian bisa melakukan?” ujarnya setelah mendapat kelegaan. Betul seperti ritual yang dilakukan si kakek, bahu-bahunya disentuh dipundak dan gerakan memasukkan sesuatu ke dalam kantong. “Kami belajar dari kakek kolektor” jawab salah satu kolektor.

“Sungguh lebih menyedihan!” begitulah anggota pasukan mulai berkisah. Seperti yang dimengerti penduduk kota itu, bahwa ia berasal dari kota sebelahnya. “Pagi-pagi benar, sang kakek sudah datang ke kota. Ia mendengarkan mereka yang prihatin. Setelah selesai bicara dia menundukkan kepala dan melakukan gerakan aneh dengan tangan-tangannya dan kemudian orang-orang itu merasa lebih baik. Banyak yang telah tertolong. Namun para penguasa tidak berkenan. Dia dianggap mengganggu privacy orang. Dia disuruh meninggalkan kota tetapi tidak mau. Tentu saja karena dianggap membangkang, maka si kakek kolektor langka ini dijebloskan ke penjara dengan tuduhan mengancam negara. Karena di penjara ia tetap menjadi kolektor langka, dan banyak warga mengalami pencerahan, ia akhirnya dihukum mati. Maaf saya membawa berita buruk” kata anggota pasukan.  “Kami sudah menduganya demikian,”balas salah satu kolektor.  “Saya sudah lega menceritakan kepedihan saya ini.” Semua terdiam. Tidak lama kemudian seorang kolektor berseru, “Bekerja! Ya Bekerja! Kakekkolektor  itu telah bekerja. Ia bekerja untuk kita. Kita juga bisa bekerja untuk menjadi kolektor keprihatinan.”

Merasa diteguhkan, anggota pasukan tadi segera berlari kembali ke kota dan menjadi kolektor keprihatinan. Yang lain juga melakukannya. (Leo Remington, dalam Rangkain Kisah Bermakna. Obor Jakarta, 1995).

Setiap orang bisa menjadi kolektor keprihatinan bagi teman, sahabat, rekan kerja, tetangga atau siapa saja. Orangtua juga bisa melakukannya untuk anak-anak mereka. Sebaliknya anak juga bisa melakukannya untuk orang tua. Dibutuhkan telinga yang siap untuk mendengarkan. Dibutuhkan kerendahan hati untuk menampung tanpa mengurai bahkan menghakimi. Dibutuhkan hanya mendengarkan saja. Beban, keprihatinan, derita, keluh kesah akan dapat berubah menjadi sukacita, damai dan tenang.

Para murid Yohanes baptis diberi tahu tentang Yesus Al-Masih. “Lihatlah, Anak Domba Allah. Yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang yang telah mendahului aku.” Sambil menunjuk ke arah Yesus, Yohanes baptis menunjukkan keberadaan Yesus. Para murid itu pun kemudian mengikuti Yesus dari belakang. Tetapi Yesus menoleh. Ia melihat bahwa mereka mengikuti-Nya lalu berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Guru, di mana Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal dan hari itu kira-kira pukul empat. (Yoh 1:35-39).

Tidak butuh waktu lama untuk tinggal bersama. Tentu pada saat berada bersama itu, para murid Yohanes menceritakan pengalaman hidup mereka. Mereka mengungkapkan kekawatiran, keputusasaan, keraguan dan tentu harapan-harapan mereka. Mereka ragu dengan kehidupan nelayan dan usaha menangkap ikan mereka. Mereka juga melihat bahwa banyak orang mendambakan keselamatan. Mereka menginginkan pemimpin yang akan mengentaskan mereka. Mereka inginkan tokoh yang dekat dan penuh kasih, yang membela orang-orang yang tertindas dan menderita oleh aturan yang mengekang mereka baik aturan negara maupun agama mereka sendiri. Amat didambakan kemerdekaan sejati. Kemerdekaan yang tidak dibelenggu oleh kemunafikan. Bersama dengan Yesus membuat mereka terpanggil untuk mengikuti cara hidup-Nya.

Mereka pun menemukan Mesias, artinya yang diurapi atau dipilih untuk membawa pembebasan. Salah satu dari mereka adalah Andreas. Andreas ini bertemu dengan saudaranya yaitu Simon dan mengatakan, “Kami telah menemukan Mesias (artinya Kristus)” (Yoh 1:41).

Para murid ini mencari Yesus dan kemudian tinggal serta akhirnya menemukan Mesias atau Kristus. Mencari Yesus untuk melepaskan beban sebab Yesus lah yang menanggung beban itu. “Datanglah kepada-Ku kalian yang berbeban berat dan Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Ku-pasang dan belajarlah dari pada-Ku”. Yesus menjadi kolektor beban dan ia memanggulnya dengan salib sampai di Golgota. Ia mengambil beban dan membuat kita lega. Selain itu juga umat beriman menemukan-Nya dan menjalani hidup baru. Bahkan umat beriman dapat belajar menjadi kolektor langka ini.

Seorang gadis brokenhome, mengalami tekanan dalam keluarga untuk mendapatkan jodoh seiman, dan setelah menemukan pacar seiman malahan terjadi konflik berkelanjutan. Pacaran tidak sehat dan berlebihan. Akhirnya sang pacar mengaku tidak siap untuk hidup bersama. Gadis itu ditinggalkannya. Tentu saja pahit sebab ibarat buah, habis manis sepah dibuang. Setelah menangis dan sharing bersama, legalah. Ia mencari orang yang bisa dipercaya untuk menampung bebannya. Ia juga mencarinya pada Yesus, sang kolektor sejati. soter@bdtoro.

Komentar

komentar

BAGIKAN