Selain pribumi, santri di pondok pesantren (ponpes) selalu identik dengan kemandirian. Tak hanya bisa memasak, mencuci baju dan piring, namun santri yang ngangsu kawruh dengan kiai, dipastikan bisa bekerja, bisnis dan di situlah pendidikan entrepreneur yang sejati diajarkan.

Oleh Hamidulloh Ibda

Kaprodi Pendidikan Guru MI (PGMI) STAINU Temanggung

Santri tulen dipastikan bisa segalanya, tak hanya menjadi imam salat, memimpin tahlil, memandikan jenazah, namun juga bisa mencangkul, mengelola toko, bisnis dan lainnya. Sebagai salah satu alumnus ponpes, secara pribadi saya merasakn begitu beratnya hidup di pesantren.

Tradisi seperti itu ada sejak negara Indonesia ini belum berdiri. Dari beberapa versi, salah satu ponpes tertua di Indonesia adalah Al Kahfi Somalangu, Kebumen yang didirikan Syekh As Sayid Abdul Kahfi Al Hasani pada 4 Januari 1475 M/879 H. Ponpes ini juga tertua se-Asia Tenggara yang sudah punya ribuan alumni.

Ponpes yang menjadi lembaga pendidikan pribumi memiliki corak nasionalis. Wajar jika tanggal 22 Oktober disepakati sebagai Hari Santri Nasional karena bertepatan dengan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang digawangi Hadratus Syaikh KH Hasyim Asya’ri dalam mengusir penjajah yang digerakkan kaum santri kala itu. Artinya, kemandirian santri saat itu sangat taji dan tak hanya untuk kepentingan pribadi, santri dan kiai, namun untuk kepentingan NKRI.

Zaman yang Memanjakan

Kemandirian santri di era global seperti ini tampaknya mulai terkikis. Selain dampak perkembangan zaman, regulasi di ponpes juga tidak seketat dulu. Jika dulu dilarang membawa gawai, laptop, radio, televisi, bahkan sepeda motor, namun sekarang hal itu sudah menjadi kebutuhan dan media pelancar kegiatan di ponpes.

Perkembangan seperti ini membuat santri manja dan tidak punya teknologi batin yang mampu menjadikannya bertahan kuat ketika boyong dari ponpes. Bagi sebagian orang Jawa, ponpes dikenal dengan doktrin “penjara suci” dan semua santri wajib nggeteh (prihatin). Namun, zaman yang berkembang pesat, doktrin itu sudah tak terlalu melekat di ponpes.

Selain itu, jika dulu santri yang menuntut ilmu di ponpes statusnya tidak belajar di sekolah dan kampus, namun sekarang justru beda. Banyak santri di ponpes justru hanya untuk “kos” ketika pulang dari sekolah dan kampus.

Sangat wajar jika ponpes di sekitar kampus regulasinya fleksibel, jam mengajinya sedikit dan hanya “penambah” jam belajar selain di sekolah dan kampus. Pola seperti ini melahirkan kaum baru bernama “mahasantri” yang secara hakikat bukan “santri yang maha”, melainkan hanya santri yang statusnya mahasiswa yang hidup di ponpes dan jam mengajinya hanya 30 persen. Sementara yang 70 persen dilakukan di sekolah dan kampus.

Adanya fasilitas kantin atau warung makan di sekitar ponpes juga mendidik santri malas memasak. Padahal dengan memasak, santri bisa belajar hidup mandiri karena belanja sendiri, masak dan mengolah makanan sendiri sehingga mereka ketika boyong bisa hidup mandiri.

Tradisi hafalan juga makin bergeser. Jika dulu saya, misalnya, tiap seminggu sekali harus setoran 10 bait kitab Alfiyah Ibnu Malik, maka sekarang tradisi semacam itu juga terkikis dan hanya ponpes tertentu yang menerapkannya. Tak hanya Alfiyah, namun juga kitab Imriti, Bulughul Maram, Nahj Al-Balaghah dan utamanya Alquran. Apakah sekadar menghafal? Tentu tidak. Bagi yang tak setoran hafalan, maka mereka terkena takzir, mulai dari membersihkan kamar mandi, menyapu, sampai dipukul dengan stik/sapu di hadapan santri lain.

Pola seperti ini menjadikan santri benar-benar didadar dan dididik kuat, mandiri dan disiplin. Akan tetapi, munculnya ponpes modern justru memanjakan santri. Hampir semua media dan metode pembalajaran berbasis digital. Jika dulu mengaji harus berbasis “sorogan” dan “bandongan” dan harus dishahihkan pada kiai, namun adanya e-book kitab kuning dan materi melimpah di internet, semua bisa dicari dan dipelajari sendiri.

Budaya seperti ini menjadikan santri mudah belajar dan tak perlu susah-susah menghadap kiai. Ketakziman dengan kiai juga bergeser karena dampak globalisasi itu. Padahal berkahnya ilmu tak hanya dari proses belajar di ponpes, namun dari kedekatan dan relasi santri dan kiai.

Menggugat

Globalisasi seperti di atas menjadikan santri “manja”, kagetan, mudah mengeluh dan tak mandiri. Lebih-lebih, tugas santri hanya dimaknai sekadar “ngaji”. Padahal jika benar-benar santri, mereka bisa memasak, mencuci baju dan piring, mencangkul, belanja di pasar, juga mengatur kehidupan rumah tangga.

Maka tema Hari Santri Nasional 2017 kemarin, yang bertajuk “Santri Mandiri, NKRI Hebat” ini, harus diimplementasikan dengan melakukan beberapa hal. Pertama, memaknai kegiatan santri tak hanya mengaji, namun juga belajar kemandirian yang sebenarnya di ponpes. Karakter santri tidak hanya pintar ngaji, namun juga di wilayah lain yang teknis dan sosial.

Kedua, mengabdikan diri belajar dengan membantu kegiatan domestik kiai pengasuh Ponpes. Santri wajib taat, namun juga bisa menjadi aktivitas tambahan untuk mendapat berkah dari bisnis atau pekerjaan dari kiai pengasuh pondoknya.

Jika kiai memiliki sawah atau tegal, maka santri dipastikan ikut mencangkul dan mengelola sawah. Jika kiai punya toko baju, kitab, peralatan rumah tangga, atau punya jasa rental mobil dan bisnis ternak hewan, misalnya, maka santri dipastikan bisa berjualan, berbisnis dan mengelola sebuah usaha. Jika tidak bisa, maka mereka gagal menjadi santri mandiri. Sebab, kebanyakan yang “ngalap berkah” dengan kiai sangat sedikit karena santri saat ini secara ekonomi sudah tercukupi dari uang kiriman orangtua.

Ketiga, adanya teknologi, dan zaman yang memanjakan harus menjadi alat memudahkan belajar, bukan sebaliknya. Keempat, santri yang sekarang didominasi generasi milenial bahkan generasi alfa harus meneruskan tradisi kemandirian untuk kepetingan umat. Hanya santri mandiri yang bisa menjawab tantangan zaman.

Semua santri yang pribumi, tulen, dipastikan mandiri. Jika tak mandiri, pantaskah mereka disebut santri?(*)

Komentar

komentar

BAGIKAN