Diah Sugesti Asisten Redaktur SatelitPost

Beberapa tahun lalu, saya bertemu dengan seorang janda berputeri satu di Banyumas. Ia berkenan untuk saya wawancarai tentang kisah hidupnya. Ia bukan janda biasa. Suaminya meninggal karena terkena virus HIV tanpa sepengetahuan dirinya. Ketika ia meninggal, ibu ini tak menyangka kalau ia bakal dapat sebuah warisan virus dari suaminya. Ya, itu virus HIV. Virus yang masih dianggap momok bagi sebagian besar masyarakat Banyumas.

Bagaimana mungkin seorang ibu rumah tangga di Banyumas, yang tak menyentuh kehidupan malam, tak pernah jadi pecandu, lalu mendadak bisa kena HIV? Siapa pula yang bakal mengira kalau ia tertular virus dari suaminya sendiri. Ia sendiri juga sudah ngeri membayangkan stigma yang bakal dihadapi. Seperti dugaannya pula, saudara yang mengetahui ia memiliki virus HIV di tubuhnya lalu menjauh. Tapi demi sang anak, ibu ini tetap bertahan. Meski badannya terlihat lebih kurus, karena ia stres memikirkan stigma demi stigma yang berkelindan di kepalanya. Ya, bukan HIV yang membuatnya jadi kurus, tapi stres karena stigma!

Selain ibu rumah tangga ini, saya juga pernah beberapa kali bertemu dengan kawan ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) lainnya. Tidak melulu semua ODHA terlihat kurus dan lesu. Ada yang bersemangat dengan sinar mata yang membinar penuh harapan.

Mereka yang memiliki semangat, dengan bahagia membentuk kelompok dan saling menguatkan satu sama lain. Energi positif pun semakin membuatnya kuat, bukannya terpuruk dalam stigma. Menjalani kehidupan sebagai ODHA, memang bukan hal mudah. Selain harus melawan stigma dari masyarakat, mereka juga berkutat dengan stigma dari dalam diri sendiri.

Tengok perjalanan ODHA asal Irlandia, Liz Martin. Ia sudah bertahan hidup hingga 26 tahun. Resepnya sangat simpel, rutin konsumsi obat dan selalu berbahagia. Sekarang usianya 50 tahun dan ia tetap sehat.  Seperti yang dikutip dari Tribunnews.com, tahun 2002 lalu, ketika memulai terapi, ada jutaan virus di darahnya dan CD4-nya hanya 14 (normal CD4 800 -1000). Sekarang dia berada di level minus 50, di mana virus tidak terdeteksi di dalam darahnya dan CD4 (jenis sel darah putih atau limfosit) berjumlah seribu. Liz masih mengkonsumsi obatnya sekali sehari, di malam hari.

HIV, siap atau tidak bisa saja ada di sekeliling kita. Tapi apakah bersalaman dan berpelukan dengan orang yang memiliki virus HIV bisa menular? Tentu saja tidak. Masih berpikir HIV bisa menular lewat gigitan nyamuk? Berarti Anda kuno. Virus ini tidak semudah itu menular. Apalagi dari sekadar sentuhan saja.

Sedikit demi sedikit, masyarakat seharusnya mulai menerima keberadaan virus ini. Dengan demikian, kesadaran orang untuk memeriksakan status kesehatannya makin tinggi. Saat kesadaran untuk memeriksakan diri meningkat, saat itulah bisa dipastikan makin banyak temuan kasus HIV.

Selamat Hari Aids Sedunia. Sudah saatnya stigma ODHA itu berhenti! Ketimbang menjauhi orang yang kelihatannya ODHA, kenapa tidak coba cek status HIV sendiri saja. Yuk, berani?(sugestisatelitpost@gmail.com)

pull out : Masih berpikir HIV bisa menular lewat gigitan nyamuk? Berarti Anda kuno.

Komentar

komentar

BAGIKAN