Febri Prasetyo Adi SPdI
Guru IPA SMP N 3 Mrebet, Purbalingga

Teori pendidikan mengatakan bahwa indikator keberhasilan pendidikan atau pembelajaran nasional setidaknya mengacu pada tiga hal. Pertama, lulus dalam berbagai rangkaian tes/ulangan/ ujian, baik itu tengah semester, akhir semester maupun ujian akhir. Kedua, dalam satu kelompok belajar mampu melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), setidaknya 75 persen dari jumlah anggota belajar. Itu artinya, kelulusan 100 persen dalam Ujian Nasional jelas merupakan hasil sempurna menurut indikator kedua ini. Ketiga ketercapaian siswa dalam keterampilan praktik, sikap, kepribadian, dan karakter lain yang telah ditentukan sebelumnya.

Dengan ketiga indikator tersebut seharusnya Indonesia, sejak lama atau setidaknya beberapa tahun ini berhasil dalam mengelola pendidikan. Sebab, hampir semua sekolah berhasil meluluskan 100 persen siswanya. Program wajib belajar sembilan tahun sudah berjalan lama. Begitu juga perpustakaan, keberadaannya hampir merata di setiap sekolah.

Bahkan Indeks Integritas siswa saat melaksanakan Ujian Nasional semakin tahun senantiasa meningkat. Apalagi sejak diberlakukannya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun 2016 lalu. Itu artinya, pelaksanaan UN, baik pada kacamata penyelenggara dan peserta semakin jujur.

Namun, nyatanya semua itu hanya omong kosong. Apa yang kita kira berhasil, ternyata tidak demikian adanya. Setidaknya beberapa penilaian ini akan membuka mata kita tentang keadaan pendidikan di Tanah Air ini.

Mari kita mulai dari hasil survei terbaru dari Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis pada Desember 2016 lalu, tentang sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Konon menurut survei tersebut, PISA menyimpulkan bahwa rata-rata kemampuan siswa asal Indonesia untuk bidang sains, matematika, dan membaca berada di urutan 63 dari 70 negara. Terlepas terjadi peningkatan dari hasil survei periode sebelumnya, urutan tersebut mengindikasikan bahwa menurut PISA performa siswa dan siswi di Indonesia dalam tiga hal tersebut masih rendah. Singapura, Thailand, Vietnam dan beberapa negara tetangga ternyata telah jauh di atas Indonesia.

PISA sendiri merupakan sistem ujian yang diinisasi oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia. Setiap tiga tahun, siswa berusia 15 tahun dipilih secara acak, untuk mengikuti tes dari tiga kompetensi dasar yaitu membaca, matematika, dan sains. PISA mengukur apa yang diketahui siswa dan apa yang dapat dia lakukan (aplikasi) dengan pengetahuannya. Tema survei digilir setiap tiga tahun, tahun 2015 fokus temanya adalah kompetensi sains (Kemendikbud RI).

Selain PISA, di tahun 2015 lalu setidaknya ada empat survei yang dirilis berkaitan dengan sistem pendidikan di Indonesia. World Education Forum (WEF) yang merupakan lembaga di bawah naungan PBB juga menempatkan pendidikan Indonesia di urutan 69 dari 76 negara.

Maret 2016 lalu, Most Literate Nations in the World merilis pemeringkatan literasi internasional dan menempatkan Indonesia juga di posisi buncit, yakni 60 dari 61 negara. The Learning Curve bahkan menempatkan Indonesia betul-betul di posisi buncit dari 40 negara yang disurvei.

Menyimak hasil survei di atas, mungkin ada yang perlu diperbaiki di dalam sistem pendidikan kita. Bisa jadi ada standar-standar lain yang terlewatkan dari perhatian kita, padahal itu menjadi penting dalam pendidikan. Mari kita belajar dari beberapa negara yang dianggap berhasil dalam sistem pendidikannya.

Singapura sebagai negara teratas terbaik dalam sistem pendidikan versi PISA memberikan beberapa tips. Mereka tak tanggung-tanggung dalam melakukan investasi untuk menaikkan kualitas guru. Status guru di Singapura menjadi sangat prestise. Banyak lulusan terbaik universitas yang tak malu menjadi tenaga pengajar. Maka saat ini Singapura diakui sistem pendidikannnya karena standar pengajaran oleh guru yang tinggi.

Finlandia yang menjadi negara terbaik sistem pendidikan versi PISA di tahun 2000, mengungkapkan setidaknya ada beberapa strategi pendidikan yang mereka terapkan. Antara lain sekolah di Finlandia dikelola langsung oleh pemerintah dan pilihan sekolahnya sedikit, tidak ada ajang perlombaan antarsekolah atau antarpelajar, tidak menerapkan Ujian Nasional, kurikulum pendidikan yang fleksibel, dan setiap guru memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas mereka.

Jepang selalu berada di urutan atas pada berbagai survei pendidikan, termasuk versi WEF dan Most Literate Nations in the World. Satu kunci keberhasilan pendidikan Jepang adalah karena keberhasilan mereka menguasai buku. Sudah sangat lama, Jepang mengembangkan program menerjemahkan buku dari dunia barat untuk dijual ke masyarakatnya dengan harga yang sangat murah. Maka tak heran jika minat baca masyarakat Jepang sangat tinggi. Dari kemampuan membaca itulah, wawasan dan ilmu pengetahuan di Jepang berkembang pesat, termasuk dalam bidang pendidikan. Bagaimanapun juga, keberhasilan pendidikan tidak lepas dari budaya membaca siswanya.

Berdasarkan versi The Learning Curve atau Pearson di tahun 2014, Korea Selatan menempati peringkat pertama sebagai negara dengan sistem pendidikan global terbaik. Urutannya berbanding terbalik dengan Indonesia yang berada di posisi terakhir. Survei kali ini memang mengaitkan antara keberhasilan pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan.

Seperti kita semua tahu, bahwa pertumbuhan ekonomi Korea Selatan sangat ditopang industri kreatif yang sangat berkembang. Berbagai industri kreatif, seperti musik, film, fashion, food, konser dan berbagai industri lain berkembang dengan sangat pesat di negara ini. Kegairahan dalam berkreasi ternyata menunjang kreativitas siswa di sekolah tanpa menggusur budaya dan identitas bangsa mereka. Sehingga pada akhirnya, pendidikan ala Korea Selatan ikut maju dan berkembang seiring dengan pertumbuhan ekonomi negara mereka.

Menengok uraian di atas, memang sepertinya sistem pendidikan di Indonesia kekurangan visi sehingga berjalan tanpa arah yang jelas. Benturan berbagai kebijakan dalam pendidikan, sarana dan prasarana yang kurang, kesejahteraan guru yang masih kurang, sibuknya siswa dengan berbagai tes dan ujian, dan seringnya berganti kurikulum membuat pendidikan di Indonesia berlangsung kurang terarah.

Namun, tentu kekurangan-kekurangan tersebut bukan hanya milik pemerintah atau sekolah. Kita semua bertanggung jawab terhadap keberlangsungan pendidikan di Indonesia. Orangtua siswa, masyarakat, kalangan swasta, pengusaha, penegak hukum dan berbagai kalangan lain tentu bisa memberikan andil terhadap keberlangsungan pendidikan di Tanah Air tercinta ini.

Tapi, bagaimanapun juga, dengan berbagai kekurangan dan kekecewaan terhadap hasil survei di atas, kita masih bisa tersenyum bangga. Beberapa anak bangsa masih terus mengukir prestasi di berbagai ajang kompetisi internasional. Hampir setiap penyelenggaraan International Physics Olympiadi (IPHO) Indonesia selalu pulang dengan berbagai piala di tangan. Terakhir di tahun 2017 ini Indonesia berhasil meraih dua emas dan dua perak. International Junior Sains Olympiade (IJSO) ke-13 di tahun 2016 lalu, tim Indonesia meraih lima mendali emas dan didapuk menjadi negara terbaik.

Dalam bidang matematika, tim dari Indonesia berhasil menjadi juara ketiga dalam Kejuaraan Matematika Internasional Po Leung Kuk 20th Primary Mathematics World Contes (PMWC) baik sebagai tim maupun sebagai individu atlet.

Masih dalam bidang sains, Indonesia yang diwakili oleh Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menjadi Juara Umum Kontes Robot Internasional yang diadakan di Trinity College, Amerika Serikat pada awal April 2017 lalu. Jadi, pada dasarnya pelajar dan pendidikan di Indonesia ternyata punya potensi untuk maju dan berprestasi. Hanya tinggal bagaimana mengelolanya saja.

Komentar

komentar

BAGIKAN