Empat bulan usai mendapatkan SK CPNS pada Maret 1998, Budi mantap untuk meminang pujaan hatinya, Rinawati Wahyuningsih SH MH. Namun tanggung jawab profesi memaksa keduanya menjadi pejuang jarak. Budi berdinas sebagai guru di Purbalingga, sedangkan sang istri yang berprofesi sebagai jaksa ditugaskan di Kejaksaan Agung Jakarta.

“Dengan gaji Rp 150 ribu per bulan, saya satu minggu sekali ke Jakarta. Ya memang harus berjuang,” katanya.

Beruntung di tahun 2000, sang istri dipindahtugaskan di Kejaksaan Purwokerto. Sehingga, jarak tak lagi menjadi penghalang bagi Budi dan istri untuk membina rumah tangga secara normal.

“Sejak itu kami ngontrak rumah, sampai sekitar tahun 2001. Bagi saya, suka duka adalah tahapan. Lakukan saja, jalani dengan baik, tawakal, karena hidup sudah ada yang mengatur, jangan bilang tidak punya apa-apa, selain semangat manusia juga punya Tuhan yang memiliki segalanya,” ujarnya.

Pasutri ini kini sudah diberkahi dua buah hati, Faradhita Kurnia Salwa dan Faradilla Kurnia Asyifa. Meskipun dibilang sudah tergolong mapan dalam hal ekonomi, namun Budi dan Rina tetap mengajarkan disiplin dan mandiri pada anak-anaknya. Tidak selalu apa yang anak pinta, mereka memberinya.

“Memanjakan anak dengan menuruti semau yang diinginkan, itu bukan tanda sayang. Justru akan menyiksa di hari tuanya. Bukan kami pelit, tapi kami ingin menanamkan jika mandiri pada anak,” kata Budi.

Dia mencontohkan, kedisiplinan akan membawa keberhasilan. Setiap pagi, anak selalu diajarkan untuk menjalankan ibadah salat  Subuh. Bukan semata karena ibadahnya saja. Tetapi, dengan bangun lebih awal, maka lebih banyak juga yang dikerjakan, sehingga lebih banyak yang didapat.

“Contohnya, jika bangun pagi, setelah Subuhan kan masih banyak waktu luang, itu sudah bisa dimulai aktivitas banyak, kalau pelajar mungkin bisa untuk belajar, nantinya berangkat juga tidak terlambat, dan sebagainya,” ujar Sekbid Advokasi dan Perlindungan profesi PGRI Purbalingga ini.(min)

 

 

Komentar

komentar

BAGIKAN