Tugiyono SPd
MPd
Pengawas TK/SD
UPK Gumelar
Dinas Pendidikan
Kabupaten
Banyumas

Penulis adalah Pengawas TK/SD di UPK Gumelar Kabupaten Banyumas. Di UPK ini terdapat 32 orang kepala sekolah SD. Paling muda kelahiran tahun 1975; paling tua kelahiran tahun 1957. Perbedaan usia, generasi, dan perubahan zaman ini menimbulkan sejumlah persoalan klasik.

Para kepala sekolah muda tampil sangat idealis. Kepala sekolah ini memaksa semua guru harus mentaati peraturan akademik sebagaimana peraturan untuk para murid. Mereka  menggunakan supervisi atau pemeriksaan terhadap guru sebagai ajang untuk mengorek kesalahan dan melontarkan penghinaan, bukan pembinaan. Kepada guru yang melakukan kesalahan tanpa tedeng aling-aling langsung menegur dengan bahasa vulgar cenderung kasar.

Akibatnya guru-guru yang merasa usianya lebih senior tidak pernah mau jika disupervisi. Mereka menganggap tindakan dan pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah (yang usianya lebih muda) tidak sesuai ketentuan dan dianggap tidak sopan. Mereka merasa sudah profesional, lebih berpengalaman, dan tidak butuh arahan dari kepala sekolah muda.

Akhirnya kepala sekolah muda ini dikucilkan dan diasingkan oleh para guru. Setiap hari, jika beliau mendekat ke ruang guru, semua guru bergeagas pergi meninggalkan ruangan guru. Hubungan silaturahmi antara mereka menjadi kaku, renggang, dan tidak sehat.

Lainnya halnya dengan mereka kepala sekolah tua yang memimpin guru-guru muda. Para kepala sekolah ini susah beradaptasi dengan metode-metode belajar mengajar yang modern. Bahkan, karena tidak paham internet, para kepala sekolah ini diasingkan atau menjadi terasing dari anak buahnya yang lebih muda.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Adakah solusi untuk memecahkan masalah yang dialami oleh para kepala sekolah muda dan tua di UPK Gumelar?

Strategi MANISE

Persoalan-persoalan di atas penulis temukan saat berkunjung ke sekolah-sekolah pada awal menjadi pengawas. Kepada penulis sejumlah guru mengeluhkan kemampuan managerial para kepala sekolah mereka. Di lain pihak para kepala sekolah juga kecewa dengan kemampuan profesional guru yang mereka pimpin.

Biasanya penulis memberikan sejumlah solusi kepada kepala sekolah maupun guru. Penulis memberikan masukan kepada para kepala sekolah yang bermasalah agar mau menerapkan strategi “MANISE”. MANISE merupakan akronim dalam Bahasa Inggris Mature, Andragogie, Norm, Intellegence, Sensitive, dan Escalative.

  1. Mature, artinya matang, dewasa, bijak.

Seorang kepala sekolah perlu memiliki jiwa yang matang, dewasa, dan bijak. Jika seorang  kepala sekolah tidak memiliki sifat “mature” maka para guru yang berada di sekolahnya akan manjauhi bahkan membencinya. Hal ini telah terbukti pada cerita di atas bahwa ada seorang kepala sekolah yang gagal memimpin para guru dan staf karena beliau tidak memiliki sifat “mature”. Beliau kurang bijak dan tidak dewasa.

Orang yang matang atau dewasa memiliki sifat “diam aktif” yaitu kemampuan untuk menahan diri dalam berkomentar. Orang yang memiliki kedewasaan dapat dilihat dari sikap dan kemampuannya dalam mengendalikan lisannya. Diam aktif juga mengandung makna positif karena memiliki arti memperhatikan dengan penuh kecermatan. Ketika seorang kepala sekolah melihat ada guru yang bertingkah laku tidak senonoh pun akan berusaha mencegah tetapi dengan kata-kata yang bijak, sopan, tidak disertai emosi.

Orang yang dewasa juga memiliki sifat empati atau mau memahami perasaan orang lain. Orang  yang berjiwa dewasa dapat meraba perasaan orang lain, orang yang bertambah umurnya tetapi tidak dapat meraba perasaan orang lain berarti belum dapat disebut dewasa. Seorang kepala sekolah yang berjiwa dewasa tidak mungkin menyuruh para gurunya dengan cara semena-mena. Kedewasan kepala sekolah dapat dilihat dari keberanian melihat dan meraba perasaan para guru dan staf lain. Kepala sekolah yang berjiwa dewasa pasti selalu bijak.

Kepala sekolah yang berjiwa dewasa juga memiliki sifat hati-hati. Segala tindakannya dilakukan dengan hati-hati. Kepala sekolah yang berjiwa dewasa selalu berpikir agar tidak  menanggung kesalahan  dalam mengambil sikap dan keputusan.

Sikap hati-hati yang dimiliki seorang kepala sekolah akan menimbulkan sikap sabar. Kepala sekolah harus dapat menunjukkan sikap sabar di depan para guru dan penjaganya. Saat menghadapi situasi yang panas pun senantiasa berlaku sabar. Orang yang sabar senantiasa dapat menghadapi segala sesuatu dengan tenang, mantap, dan stabil.

  1. Andragogie, ilmu dan seni untuk membantu orang dewasa belajar.

Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni “andr” berarti dewasa dan “agogo” berarti membimbing atau mengamong orang dewasa. Sejak tahun 70-an andragogi kemudian dirumuskan sebagai “suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar” (Sudjana: 2007:346). Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul “The Adult Learner, A Neglected Species” yang diterbitkan pada tahun 1970 mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa. Sejak saat itulah istilah “Andragogi” makin diperbincangkan oleh berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan.

Pendidikan orang dewasa tidak berkaitan dengan hal mempersiapkan orang dalam menjalani kehidupannya tetapi lebih membantu orang dewasa agar mereka sukses dalam menjalani kehidupannya, meningkatkan kompetensi mereka atau transisi negosiasi dalam peran sosial mereka (pekerja, orang tua, pensiunan, dan lain-lain), membantu mereka mendapatkan pemuasan yang lebih baik dalam kehidupan pribadi mereka dan membantu mereka dalam memecahkan masalah pribadi dan masyarakat mereka.

Guru adalah orang dewasa yang selalu belajar, belajar, dan belajar. Kepala sekolah sebagai orang yang dituakan di sekolah sudah semestinya harus memiliki kemampuan lebih jika dibandingkan dengan guru. Oleh karena itu para kepala sekolah selalu terus menerus wajib memberikan arahan, bimbingan, dan pelajaran kepada para guru. Namun pemberian arahan dan bimbingan kepada guru harus dilakukan dengan teknik yang benar sebab di sini yang menjadi pebelajar adalah guru yang sudah bukan anak-anak lagi. Kepala sekolah diharapkan dapat memiliki ilmu dan seni yang baik dalam membantu para guru belajar. Hindari sikap menggurui meskipun materi yang disampaikan benar-benar belum diketahui olah para guru.

  1. Norm, memiliki norma/standar etika yang baik.

Kepala sekolah yang profesional memiliki kompetensi managerial dalam hal “norm”. Beliau  memiliki etika yang baik sehingga disegani para guru atau bawahannya. Beliau berperilaku dan melakukan kegiatan sesuai dengan norma yang berlaku. Beliau menyadari bahwa suksesnya kegiatan sangat dipengaruhi oleh keteladanan dari para pemimpinnya. Jika pemimpin memiliki etika yang baik pasti sangat disayangi oleh bawahannya atau guru. Standar etika yang ada pada kepala sekolah sangat mirip dengan standar etika untuk profesi lain. Standar etika tersebut antara lain tanggung jawab, mengutamakan kepentingan masyarakat, integritas, dll.

Tanggung jawab ialah rambu etika yang harus dijaga oleh kepala sekolah. Bentuk tanggung jawab ini juga harus diwujudkan dengan kerjasama konstruktif sesama kepala sekolah dan para guru sehingga profesionalitas serta nama baik jabatan kepala sekolah senantiasa terjaga. Kepala sekolah yang memiliki rasa tanggung jawab senantiasa mempunyai sikap yang amanah. Hal ini dapat dilihat dari kemampuannya mempertanggungjawabkan semua kegiatan di sekolah. Ketika penyusunan laporan terdapat kekeliruan maka kepala sekolah wajib mempertanggungjawabkan kesalahan tersebut meskipun yang menyusun laporan adalah seorang guru atau operator.

Norma yang kedua adalah mengutamakan kepentingan masyarakat. Sebagai pejabat yang diangkat oleh pemerintah, kepala sekolah harus dapat menjaga kepercayaan masyarakat terhadap jabatannya. Pelayanan yang diberikan kepada masyarakat harus dilakukan dengan totalitas dan sepenuh hati. Namun tetap dengan menjaga objektivitas jabatan kepala sekolah.

Norma ketiga adalah integritas. Seorang kepala sekolah harus menjamin layanan terbaik dengan profesionalitas. Kepentingan pribadi harus dikesampingkan. Kepala sekolah harus jujur, berterus terang, apa adanya dalam memberikan layanan serta mampu menghargai perbedaan pendapat dalam pengambilan keputusan.

  1. Intellegence, cerdas, mampu menangkap persoalan dengan baik.

Sekolah Dasar adalah sebuah instansi yang memiliki susunan organisasi yang kuat. Sebuah organisasi sudah pasti mengalami banyak persoalan. Pemimpin organisasi perlu memiliki strategi yang jitu jika dalam organisasi tersebut muncul permasalahan. Di sinilah seorang kepala sekolah diuji kecerdasan dan kemampuannya dalam menangani masalah. Permasalahan yang timbul diuapayakan dapat terselesaikan dengan arif dan bijaksana. Hal ini sesuai dengan Permendiknas RI nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah pada kompetensi manajerial butir 3 indikator ke-9 mampu menerapkan manajemen konflik.

Kepala sekolah diupayakan mampu menyupervisi guru senior. Sebab jika ada guru yang tidak mau disupervisi maka proses pembinaan manjadi terhambat. Penulis selaku pengawas menangai masalah tersebut dengan membimbing kepala sekolah yang bersangkutan. Setelah tindakan yang tepat dan cerdas dilakukan oleh kepala sekolah maka kegiatan supervisi menjadi lancar tanpa kendala.

  1. Sensitive, peka terhadap situsi yang berkembang.

Saat ini kita sudah memasuki era globalisasi. Perkembangan informasi sangat pesat berkembang mengakibatkan situasi juga sangat cepat perubahannya. Kepala sekolah yang baik selalu peka terhadap perkembangan situasi yang ada. Kepekaan tersebut ditandai dengan sikap kepala sekolah yang mau menerima perubahan.

Sebagai contoh, saat ini model pelaporan sudah mulai memanfaatkan internet secara online. Kepala sekolah mau tidak mau harus melakukannya demi kelancaran kemajuan organisasi sekolah yang dipimpinnya. Mereka yang gagap teknologi (gaptek) harus berupaya mencari solusi dengan mengikuti kursus komputer dan pemanfaatan internet. Perkembangan yang ada dalam dunia pendidikan selalu diikuti dengan antusias. Setiap kepala sekolah harus berupaya memiliki kemampuan IT yang lebih baik dari para gurunya.

Kepala sekolah yang memiliki sikap “sensitive” pasti mengetahui perkembangan kurikulum. Jika dirinya sudah memiliki kepekaan yang baik maka setiap perubahan kurikulum tidak mengalami kendala.

  1. Escalative, meningkat setahap demi setahap.

Kepala sekolah yang baik selalu memiliki kemampuan untuk memajukan kualitas sekolahnya  setahap demi setahap. Kemajuan tersebut perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti guru, staf/penjaga, komite sekolah/orangtua murid, dan lingkungan sekolah.

Tujuan sekolah yang ingin dicapai tidak dapat diraih dalam waktu cepat. Untuk mencapai setiap keinginan perlu sikap “escalative”, setahap demi setahap. Penentuan tahapan itu dapat dilakukan dengan menyusun evaluasi diri sekolah (EDS). Dari evaluasi diri sekolah itulah diperoleh rekomendasi. Rekomendasi ini selanjutnya diperlukan untuk menyusun Rencana Anggaran dan Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS).

Jika seorang kepala sekolah sudah mampu melaksanakan strategi di atas maka kemampuan manajerialnya tidak diragukan lagi. Beliau sudah dipastikan memiliki kemampuan yang utuh dalam bidang menejerial seperti yang tercantum dalam indikator tiga kompetensi manajerial kepala sekolah yaitu kemampuan memimpin guru dan staf dalam rangka pendayagunaan SDM secara optimal.

Kepala sekolah yang mampu menerapkan strategi MANISE akan mampu mengkoordinasikan guru dan staf dalam merealisasikan keseluruhan rencana untuk menggapai visi, mengemban misi, menggapai tujuan dan sasaran sekolah. Mereka juga mampu berkomunikasi, memberikan pengarahan penugasan, dan memotivasi guru dan staf agar melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masing-masing sesuai dengan standar operasional prosedur yang telah ditetapkan. Selain itu mereka dipastikan mampu membangun kerja sama tim (team work) antarguru, antarstaf, dan antara guru dengan staf dalam memajukan sekolah.

Penerima Penghargaan Presiden Satya Lancana Karya Satya XXX Tahun PNS 2016.

Juara 1 Pengawas Berprestasi Kabupaten Banyumas dan Juara Harapan 1 Provinsi Jawa

Tengah 2016

Juara Harapan 3 Lomba Menulis Artikel Simposium Tenaga Kependidikan Tingkat  Nasional Tahun 2016.

Komentar

komentar