Judul                : Walansendow

Penulis             : Y.B. Suparlan

Penerbit          : Kanisius

Tebal               : 186 halaman

ISBN                 : 978-979-21-4273-0

Buku berjudul Walansendow mendokumentasikan beragam cerita rakyat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti Asal Mula Nama Gunung Bromo dan Putri Nglirip, dua cerita dari daerah Jawa Timur, Patih Senggilur dari daerah Sumatera Selatan, Putri Dara Nante dari Kalimantan Barat, sampai Walansendow, cerita dari daerah Sulawesi Utara. Cerita Asa Mula Nama Gunung Bromo mengisahkan sepasang suami istri Jaka Seger dan Rara Anteng yang hidup bahagia di lereng sebuah gunung.

Namun, suatu hari Rara Anteng mengeluh karena sudah lama tak dikaruniai anak. Jaka Seger memberi nasihat istrinya agar lebih banyak berdoa pada para dewa.  Kemudian, mereka melakukan ritual doa dengan menghadap gunung. Tak lama kemudian, sebuah suara muncul menggelegar dari arah gunung dan menyatakan keinginan mereka memiliki anak bisa terkabul asalkan mereka berjanji. “Kami berdua berjanji kalau dikaruniai anak banyak, kami merelakan salah satu anak kami menjadi kurban untukmu,” kata Jaka Seger.

Berbulan-bulan kemudian, Rara Anteng melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan diberi nama Kaki Ireng. Setelah kelahiran anak pertama, lahir anak ke dua, ketiga, keempat, dan seterusnya sampai 25 anak. Jaka Seger dan Rara Anteng sangat bahagia memiliki banyak anak. Di antara 25 anak tersebut, ada 1 anak yang sangat mereka sayangi, yakni Dewa Kusuma. Ia anak lelaki yang rajin dan patuh. Ia menghormati kakak-kakaknya dan menjadi contoh bagi adik-adiknya. Namun, suatu hari Dewa Kusuma hilang dibawa gulungan api saat menggembalakan kambing bersama adik-adiknya di lereng gunung.

Kisah tersebut seperti memberi pesan akan pentingnya menepati janji. Ketika apa yang kita inginkan sudah kita dapatkan, bukan berarti kita lantas bisa bersenang-senang dan melupakan semuanya.

Meski cerita rakyat berasal dari leluhur atau orang zaman dahulu, namun pesan-pesannya masih penting untuk dihayati sampai sekarang. Cerita rakyat merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang wajib kita jaga. Terlebih, di tengah gempuran budaya modern yang cenderung tidak sesuai dengan buyaya bangsa kita, nilai-nilai dan pesan yang terkandung dalam cerita rakyat akan bisa mengingatkan kita kembali pada identitas dan tradisi kita.

Peresensi: Al-Mahfud, penikmat cerita.Selain ulasan buku, juga menulis artikel, esai, dan fiksi di berbagai media massa, baik lokal maupun nasional.

 

 

Komentar

komentar

BAGIKAN