Menguatkan Nahdatul Ulama

Muhammad Wajib Alwi, Mantan Aktivis 98

Mantan aktivis 98, Muhammad Wajib Alwi menolak tawaran masuk istana paskareformasi.  Memilih masuk menjadi pengurus Lintas Generasi, kolompok aktivis 98 dan 65 yang getol mengkritisi Orde Baru serta tetap mengkritisi pemerintahan paska reformasi.

Ia menolak masuk istana, sebab semua tawaran masuk tidak ada yang benar benar sesuai dengan cita citanya, kembali menguatkan Nahdatul Ulama menjadi organisasi umat yang berpengaruh dan mampu mendoroh adanya kebijakan pemerintah. “Lahir dari keluarga NU, mondok 12 tahun. Saya waktu itu getir melihat NU menjadi minor dan menjadi korban kesewenang-wenangan Orba, ” kata Wakil Ketua Tanfidziyah DPC PKB Banyumas ini.

Ia mengatakan, NU harus berdiri menjadi organisasi umat yang strategis. Saat reformasi digulirkan, kata Alwi, pemerintahan baru bergerak menggandeng aktivis 98 agar masuk ke istana. Namun semua tawaran yang ada sifatnya pragmatis dan tidak mempertimbangkan kemaslahatan umat Nahdliyin.

Berkiprah di Banyumas, awal mulanya diminta mewakili H. Mursyid, mewakili kegiatan di Kedungbanteng. Sebab H. Mursyid selaku ketua PAC NU Kedungbanteng waktu itu sedang sakit. “Sejak diminta membantu H.Mursyid itulah saya intens berkegiatan di Banyumas. Kemudian menjadi wakil ketua PAC NU di Kedungbanteng, ” kata dia.

Saat menjabat sebagai wakil ketua PAC NU Banteng, sebenarya Alwi juga sedang menjadi pengurus wilayaj Ansor Jawa Tengah. Ia tidak mengawali perannya di NU pada jalur politik bersama PKB.  Ia berharap, melalui DPC PKB, NU di Banyumas mampu mendorong kebijakan Pemkab berpihak pada Nahdliyin di Banyumas. PKB sebagai Parpol terbuka, bagaimanapun juga dibentuk dan merupakan anak kandung Nahdatul Ulama. (kim)

Komentar

komentar

BAGIKAN