Rekonstruksi Cerita Anak

Wanita kerap kali menjadi orang nomor dua. Semua hal dipandang dari kacamata pria, akibatnya, wanita hanya menjadi korban, yang hanya bisa pasrah.

Karena itu, menurut dia, sudah saatnya wanita harus berdaya. Untuk memberdayakan wanita, menurut satu dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Widya Nurmalawati, bisdilakukan dengan cara yang mudah dan dimulai sejak dini. Di antaranya melalui gerakan literasi untuk anak.

Gerakan literasi tersebut menurut dia, harus didukung dengan bacaan-bacaan yang mengembangkan karakter anak. Namun, sayangnya banyak cerita anak yang justru membunuh karakter anak, khususnya wanita. “Ini yang membuat saya tergerak melakukan rekonstruksi cerita anak melalui penelitian Danau Cinta Sang Angsa: Merekonstruksi Dongeng anak Danau Angsa (Swan Lake)‎,” kata Widya.

Dari penelitian tersebut, ia menghasilkan sebuah buku cerita anak. Buku hasil rekonstruksi tersebut sedikit berbeda dari versi di masyarakat. “Dalam versi yang banyak beredar di masyarakat, tokoh wanita dalam cerita tersebut mendapatkan kutukan karena tidak menerima lamaran dari seorang laki-laki yang tidak dicintainya. Lalu apa jadinya jika cerita semacam ini terus menerus diceritakan secara turun-temurun di kalangan anak-anak terutama perempuan. Stigma jangan menolak lamaran karena akan dikutuk menjadi angsa atau menjadi perawan tua tentu akan terpatri di benak perempuan,” kata dia.

Sementara itu, menurut dia, wanita seperti halnya pria yang mempunyai hak untuk memilih. Terlebih jika ia tidak menyukai sesuatu hal atau seseorang. Dalam cerita Danau Angsa hasil rekonstruksi, menurut Widya, tokoh Wanita dalam cerita tersebut bisa menentukan pilihan yang baik untuk dirinya sendiri. “Ia menolak lamaran dengan cara yang baik dan dengan alasan yang masuk akal. Sehingga tokoh pria dalam cerita tersebut tidak memberikan kutukan,” katanya.

Sebab, kutukan menurut dia membuat orang yang dikutuk tidak bisa melakukan perbaikan atas kesalahan yang dilakukan. Hal tersebutlah yang mendorongnya melakukan rekonstruksi cerita anak. “Karena masih banyak cerita anak terutama legenda atau cerita asal-usul suatu daerah  yang di dalamnya terdapat kutukan. Peniadaan kutukan di dalam cerita juga mengajarkan kepada anak-anak untuk senantiasa menjaga lisan seberapa pun marah atau sakit hati yang dialaminya,” katanya.

Sebab, anak-anak terutama wanita adalah fondasi bangsa. Sehingga menurutnya, bacaan yang baik dan mendidik akan memberikan pengalaman dan pengetahuan yang berguna bagi perkembangan karakter anak. (alf)

Komentar

komentar

BAGIKAN