Topan Pramukti Asisten Redaktur SatelitPost

 

Rakyat nonton jadi supporter, kasih semangat jagoannya

Walau tau jagoannya ngibul, walau tau dapur nggak ngebul

Bait lirik gubahan Virgiawan Listanto tersebut belakangan sering sekali saya dengar. Karena lagu tersebut selalu saya gunakan sebagai teman kala menulis.

Apalagi, di Penghujung 2017 dan awal tahun 2018 ini, iklim politik Banyumas memanas. Jago-jago yang digadang ambil bagian dalam Pilkada mulai ancang-ancang. Beberapa pemain yang biasa berpartisipasi dalam pesta politik lima tahunan pun mulai bermunculan. Mulai petahana yang gemar berkata Kiye Bae Lanjutna, sampai sang mantan yang terus bangga menyuguhkan semua-semua yang dia buat kala memimpin.

Selain mereka, ada pula pendatang baru yang tengah semangat-semangatnya. Sowan ke sana, sowan ke sini, sampai 24 waktunya habis untuk sowan.

Situasi macam ini membuat bait-bait lagu gubahan bang Virgiawan Listanto terasa pas kalau diputar sering-sering. Lagu-lagu yang menurut saya bisa menjadi sebuah pelajaran jelang peperangan para dewa memperebutkan tampuk kepemimpinan Kabupaten Satria.

Lagu tersebut, merupakan sebuah pengingat. Agar saya tak ambil bagian dalam kelompok supporter manapun di kontestasi Pilkada 2018 nanti. Karena bagaimanapun, Pilkada nanti tak akan berbeda dari pilkada sebelumnya.

Rakyat akan tetap diposisikan sebagai supporter. Sebagai pendukung yang gontok-gontokan saat tim sukses calon A menyenggol tim sukses calon B. Rakyat akan menjadi pihak yang ribut dan setengah mati memberikan pembelaan kepada jagoannya masing-masing.

Pembelaan-pembelaan yang terkadang berangkat dari kesetiaan total. Pembelaan yang kadang menanggalkan logika dan cenderung berakhir debat kusir.

Virgiawan Listanto juga pernah menggubah lagu lainnya. Sebuah lagu yang memiliki bait lirik menohok. Bait lirik yang agaknya pas digunakan untuk menggambarkan kondisi Banyumas 2018 mendatang. Begini bunyinya…

Sengkuni kilik sana sini. Kurawa dan Pandawa rugi

Dewa dewa kerjanya berpesta, sambil nyogok bangsa manusia

Tak hanya memprediksi, saya hampir meyakini bait ini akan menjadi kenyataan. Karena dari pengalaman saya sebelumnya, Pilkada 2013 lalu, yang paling diuntungkan dari proses Pilkada adalah para sengkuni yang hobi kilik sana-sini.

Karena dalam Pilkada, para Pandawa dan Kurawa kerap sulit bergerak. Mereka biasa menyerahkan semua langkah politik mereka kepada para Sengkuni dan kroni-kroninya.

Para sengkuni ini kerap berlaku lebih keras ketimbang Kurawa dan Pandawa. Tak sedikit sengkuni-sengkuni milenia yang bahkan mengaku bisa mengendalikan semua keinginan Kurawa dan Pandawa.

Kalau hal macam ini kembali terulang di Pilkada nanti, maka yang akan terjadi pun sudah diramalkan oleh Virgiawan Listanto. Sama, melalui sebuah gubahan lirik yang apik.

Rakyat lugu kena getahnya, buah mangga entah kemana

Tinggal biji tinggal kulitnya, Tinggal mimpi ambil hikmahnya

16 kata tersebut harus dicamkan betul oleh publik Banyumas. Jangan sampai, gubahan fiksi tersebut menjadi kenyataan.

Oleh karenanya, di Pilkada mendatang, jadilah pemilih yang baik. Jadilah publik yang cerdas, berilah dukungan sepantasnya, seobjektif mungkin. Pilih calon yang benar-benar mampu memberikan buah mangga. (Topan Pramukti)

 

 

Komentar

komentar

BAGIKAN