Konflik kembali pecah di Rakhine State, Myanmar. Ribuan etnis Rohingya, penduduk Rakhine, tak punya pilihan lain selain mengungsi. Namun, Bangladesh yang menjadi tujuan mencari perlindungan justru menolak. Nasib perempuan dan anak-anak Rohingya kini terlunta-lunta. Mereka yang mempertaruhkan nyawa dengan memilih jalur laut juga tak bernasib lebih baik. Ratusan tenggelam dan mati kelaparan di tengah laut.

Etnis Rohingya tak diakui sebagai warga negara Myanmar. Padahal, sejarah mencatat Rohingya tinggal di Rakhine State, satu di antara Negara bagian Myanmar, atau dulu dikenal Arakan sejak abad ke-7 Masehi.  Etnis Rohingya berasal dari campuran antara keturunan Bangladesh atau etnis Bengali, Arab, Turki, Persia, Afganistan dan Indo-Mongoloid. Meskipun sudah tinggal berabad-abad, namun pemerintah Myanmar tak menganggap mereka sebagai etnis asli. Etnis Rohingya tetap dianggap sebagai pengungsi illegal dari Bangladesh.

Inilah awal mula pemicu penindasan terhadap etnis Rohingya yang mayoritas muslim. Konflik yang menimpa mereka ini memang bukan yang pertama. Namun, kali ini menjadi yang paling memprihatinkan. Ratusan nyawa melayang akibat konflik dengan militer Myanmar.

Tak heran jika warga dunia bersimpati terhadap etnis Rohingya. Bantuan materi mengalir. Begitu juga doa dan simpati yang mengalir deras untuk para korban. Namun, tak sedikit pula yang terjebak pada kebencian. Mereka adalah yang melihat persoalan ini lebih sebagai konflik antaragama ketimbang sebagai sebuah tragedi kemanusiaan.

Ini seperti yang terjadi di Tanah Air. Jika melihat perkembangan terakhir, ada kelompok yang melihat konflik di Rakhine sebagai pemusnahan muslim Rohingya. Yang lebih mengkhawatirkan, ada kelompok yang sengaja memolitisasi persoalan kemanusiaan menjadi komoditas politik untuk menghantam pemerintah.

Hal ini dibuktikan dengan analisis opini di platform media sosial Twitter. Dari analisis tersebut, sebagian besar pembahasan mengenai Rohingya yang berkembang dikaitkan dengan Presiden Joko Widodo dan pemerintahannya. Dengan kata lain, isu ini lebih banyak digunakan untuk konsumsi dalam negeri dalam rangka membakar sentimen masyarakat Islam di Indonesia agar bersikap antipati kepada pemerintah.

Namun dampak mengobarkan sentimen agama tidak hanya selesai di ranah politik. Sentimen agama akan menciptakan kebencian yang membakar toleransi antarumat beragama. Toleransi selama ini menjadi lem perekan yang menyatukan

keberagaman di Indonesia. Dengan mengobarkan kebencian dan menghanguskan toleransi, sama saja dengan menceraiberaikan bangsa.

Kita harus jeli membaca isu yang dihembuskan melalui berbagai media. Jangan sampai termakan isu yang menguntungkan kepentingan segelintir orang. Kita sepakat penindasan di Rakhine harus diakhiri, karena duka kemanusiaan etnis Rohingya juga duka kita di Tanah Air. Upaya itu tentu akan lebih efektif dilakukan melalui perangkat Negara. Karena itu, pemerintah harus terus didorong untuk melakukan langkah diplomasi agar tindakan kekerasan segera dihentikan. Upaya diplomasi juga bertujuan agar Myanmar membuka akses bantuan kemanusiaan. Selama ini rezim junta militer melarang bantuan internasional masuk. Padahal, penduduk Rakhine sangat membutuhkan bantuan, baik logistic maupun obat-obatan.

Apa yang dilakukan pemerintah melalui Kemenlu RI dengan membangun rumah sakit dan sekolah patut diapresiasi. Rumah sakit dan sekolah sangat dibutuhkan setelah konflik yang memakan korban jiwa dan luka.

Mari berpikir jernih. Kritis menilai berbagai informasi yang berkelindan di media sosial. Krisis yang menimpa etnis Rohingya tidak akan selesai dengan mengangkat senjata. Sebaliknya, tragedi ini hanya butuh welas asih dari masing-masing kita agar lekas padam.(afgan86@yahoo.com)

Komentar

komentar

BAGIKAN