Selera

Selera itu bisa berubah. Jika berada pada pusaran masa 30 tahun lalu, maka selera banyak orang adalah memakai kaus lalu dibungkus dengan baju. Tapi, ketika sembilan tahun lalu, ada selera yang berubah. Orang memakai baju lalu dibungkus dengan rompi yang berbentuk kaus.

Dulu dan kebanyakan sekarang, orang memakai celana dalam lalu dibungkus dengan celana. Namun, selera Superman jelas beda. Dia memakai celana yang ditutupi celana dalam. Sebagian yang mengikuti Superman adalah orang yang sedang jadi Superman palsu.

Selera itu kadang tak berkaitan dengan benar. Asal selera, maka lakukan saja. Dulu orang berjalan tinggal berjalan saja. Namun, sebagian orang di masa kini memilih berjalan sembari mendengarkan musik, dari perangkat yang menyelip di telinganya.

Itu soal selera. Biasa saja. Ada yang tak suka, ada yang  suka, ada juga yang cuek. Kadang, selera dimunculkan agar jadi pusat perhatian. Sebab, sebagian atau banyak manusia memang mau diperhatikan. Makanya, banyak juga yang berhasrat jadi artis, jadi seleb. Jika pun tak bisa muncul di televisi, ya bisa muncul di YouTube.

Ada yang menari sekenanya, yang penting menari. Terlihat lucu, lalu diikuti banyak orang, jadi perbincangan. Ada yang menyanyi sekenanya, lalu banyak yang suka dan diikuti banyak orang. Ya seperti itulah selera.

Namun, selera jelas tak berlaku untuk hal yang melanggar hukum. Jika ada orang punya selera untuk suka mencuri, maka itu bukan selera. Itu adalah pelanggaran hukum. Jika ada orang yang seleranya adalah menjatuhkan martabat manusia dengan kata-kata yang merendahkan, itu bukan selera.

Atau jika selera itu berpotensi mencederai banyak orang, maka itu bukan selera. Tak benar bahwa membangun trotoar dengan keramik, dengan tanpa atap, adalah sebuah selera. Sebab, hal itu bisa mencederai orang lain.

Nalar anak muda pun akan bertanya, apa manfaatnya jalan licin di tepi jalan yang tak beratap. Yang ada hanyalah cedera yang mungkin didapatkan. Bahkan, jika hujan mendera, kemungkinan cedera karena terpeleset akan makin besar. Maka, alih-alih memiliki selera kelas tinggi, yang ada malah protes tulisan dari pilox yang mengurangi keindahan. Tulisan, “Awas Lunyu” di jalan licin itu adalah pukulan telak pada pemerintah. Itu seperti yang terjadi di Purbalingga yang jadi sorotan pekan lalu.

Bukan selera namnya jika pembangunan hanya akan membuat banyak anak manusia kecewa dan khawatir. Bukan selera jika akhirnya pembangunan itu hanya jadi bahan olok-olok.

Tapi mungkin saja, definisi selera sebagian orang hanya pada terlihat bagus dan rapi. Terlihat elegan, tanpa memikirkan fungsi sebenarnya. Namun, jika seperti itu definisi selera, maka sekali lagi siaplah jadi santapan kritik dan kecewa yang mendalam dari banyak orang.

Atau jangan-jangan trotoar keramik itu bukan soal selera, tapi soal tak paham apa  yang dibutuhkan masyarakat soal trotoar? Tak tahulah. (kholil_rokhman@yahoo.com)

Komentar

komentar