Hero

Rudal Afgani Dirgantara Redaktur Pelaksana SatelitPost

“I believe there’s hero in all of us. That keeps us honest, gives us strength, makes us noble and finally allow us to die with pride, even though sometimes we have to be steady and give up the thing we want the most, even our dreams.”

Di tengah krisis identitas yang berkecamuk, Peter Parker bertemu bibinya, May. Aunt May lewat sepenggal dialog di atas menyadarkan Peter untuk bangkit menghadapi hidup.

Alkisah pahlawan super Spiderman galau lantaran dilanda krisis identitas. Peter Parker bimbang  antara ia sebagai manusia biasa dan sebagai super hero. Sebagai manusia biasa, dia butuh menyayangi dan disayangi seseorang yang spesial. Di sisi lain, ia dianugerahi kekuatan yang bersamanya melekat tanggung jawab besar.

Dalam film Spiderman 2 dikisahkan kembali tentang Peter Parker yang telah terbiasa menjalani dua kehidupan sekaligus, yaitu kehidupan ketika ia menjadi manusia biasa dan ketika ia menjadi manusia laba-laba. Dua tahun sudah berlalu dan peran tersebut ternyata tidak mudah untuk bisa dijalani oleh Peter Parker. Terutama dalam keharusannya mampu membagai waktu untuk dua kehidupannya yang berjalan paralel tersebut. Apalagi kehidupan Peter Parker sebagai manusia biasa semakin sulit.

Ia harus melakukan berbagai pekerjaan untuk bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Bukan hanya menjadi fotografer untuk sebuah koran terkenal bahkan ia juga harus menjadi tukang antar pizza. Namun pekerjaan tersebut tidak bertahan lama karena kesibukannya menjadi Spiderman membuat Peter Parker sering kali terlambat mengantarkan pizza kepada pelanggan sehingga membuatnya dipecat.

Kemalangan Peter Parker tidak berhenti sampai di situ saja. Kuliahnya juga menjadi berantakan. Ternyata statusnya sebagai mahasiswa pintar tidak membantu banyak karena Peter sering kali terlambat masuk kelas. Dan puncak kemalangannya adalah wanita yang menjadi idaman Peter yaitu Marry Jane ternyata memilih berpaling. Hal tersebut tidak lepas ketika Marry Jane yang tengah mengadakan pertunjukan dan mengundang Peter Parker untuk datang ternyata Peter tidak bisa menepatinya. Hal tersebut karena di waktu yang bersamaan, Peter Parker tengah menjadi Spiderman untuk membantu orang-orang di sekelilingnya.

Semua hal tersebut membuat Peter Parker mulai mempertanyakan keputusannya sendiri menjadi Spiderman. Buat apa dia terus membantu orang lain sedangkan hidupnya sendiri menjadi berantakan. Semenjak itu, Peter Parker memutuskan untuk berhenti menjadi Spiderman. Bahkan ia membuang kostum Spiderman miliknya ke tong sampah. Peter Parker kemudian mulai mengejar kebahagiaannya sendiri. Namun semakin jauh melangkah, Peter justru semakin terasing.

Kegundahan Peter berakhir setelah mendapat pencerahan dari bibinya. Ia sadar setiap diri memiliki jiwa kepahlawanan yang membuatnya jujur meski sulit, memberi kekuatan, dan kemuliaan. Meskipun kadang setiap kita butuh menenangkan diri bahkan merelakan sesuatu yang paling kita impikan. Ia sadar untuk menjadi pahlawan tak harus menjadi Spiderman. Cukup menjadi diri sendiri, karena setiap diri adalah pahlawan untuk orang-orang terdekat kita. Selamat Hari Pahlawan.([email protected])

Komentar

komentar