Keracunan Makanan

KASUS keracunan makanan di wilayah eks Karesidenan Banyumas bukan menjadi hal yang baru. Dari zaman dahulu, kasus ini kerap muncul. Tak hanya di daerah pinggiran tapi juga kota.

Tahun 2017 tercatat ada beberapa kasus keracunan makanan yang sempat menyita perhatian publik dan membuat pemda setempat mengeluarkan status kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan. Bahkan ada sampai memakan korban jiwa.

Dalam catatan redaksi SatelitPost, kasus keracunan cukup parah di tahun ini terjadi di Desa Serayu Larangan, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga. Ada sebanyak 93 warga di desa tersebut mengalami keracunan usai menyantap ayam bakar yang dijual keliling desa. Saking banyaknya korban yang berjatuhan Pemda setempat tetapkan status KLB keracunan makanan.

Di bulan Ramadan, tepatnya bulan Juni, sebanyak 44 warga Desa Ciberung, Kecamatan Ajibarang, Banyumas mengalami keracunan usai berbuka puasa. Mereka mengalami mual dan muntah usai mengonsumsi sup buah yang dihidangkan dalam acara hajatan.

Di bulan Juli, keracunan makanan yang disajikan dalam acara tasyakuran dialami oleh 12 warga Desa Bantar Kecamatan Jatilawang. Lantas di bulan September, kasus keracunan makanan juga terjadi di Kecamatan Banyumas. Tepatnya di SMP Negeri 3 Banyumas. Ada sebanyak 24 siswa yang diduga mengalami keracunan jajanan batagor yang mereka beli di kantin sekolah.

Awal Oktober, keracunan makanan yang terjadi di Bumi Gilar-gilar, Banjarnegara. Bahkan hingga meminta korban jiwa. Dua orang meregang nyawa usai mengonsumsi nasi gaplek. Sementara satu orang lainnya mengalami kritis.

Terbaru kasus keracunan makanan terjadi di lingkungan sekolah di Kecamatan Kutasari, Purbalingga. Belasan anak-anak sekolah menjadi korban dari minimnya pengawasan panganan sehat yang dilakukan pemerintah. Dalam hal ini dinas pendidikan (sekolah) dan dinas kesehatan. Serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Anak SD 1 Karangaren mengeluhkan mual, pusing, dan muntah-muntah usai jam istirahat pertama pukul 09.00 WIB. Mereka diduga alami keracunan usai mengonsumsi jajanan mi yang digulung (milung) dari pedagang keliling yang mangkal di depan sekolah.

World Health Organization (WHO) mencatat ada dua juta orang meninggal tiap tahun akibat keracunan makanan dan minuman. Di Indonesia, sekitar 200 kasus keracunan makanan terjadi tiap tahunnya. Ini menunjukkan betapa minimnya pengawasan bahan makanan yang ada di negeri ini. Sehingga kasus keracunan makanan seolah menjadi tren atau siklus yang terus berulang. Dari waktu ke waktu.

Kemana saja BPOM? Bukankah mereka yang dipercaya pemerintah untuk menjamin keamanan semua barang konsumtif (makanan dan obat-obatan) yang dikonsumsi masyarakat. Kalau bicara masalah pengawasan, seberapa rutin sih BPOM melakukan penyisiran. Khususnya di daerah-daerah pinggiran yang notabene tak tersentuh. Kenyataan di lapangan, institusi ini baru bergerak dan “bekerja” setelah ada temuan dan memakan korban. Sidak panganan berbahaya bagi konsumen juga menjadi agenda yang terkesan formalitas saja. Biasanya dilakukan jelang hari raya agama. Jadi tidak mengherankan kalau kita sering kecolongan kasus keracunan makanan.

Bicara masalah keracunan yang terjadi di lingkungan sekolah, ini semestinya menjadi keprihatinan bersama. Tak hanya mempertanyakan kerja BPOM, tapi juga kinerja dinas terkait. Apa yang telah dilakukan dinas pendidikan dan dinas kesehatan guna mencegah kasus ini tak terulang?

Sudahkah mereka melakukan pengawasan dan perlindungan kepada konsumen? Dalam hal ini adalah anak-anak sekolah. Sudahkah dilakukan sidak atau sweeping jajanan makanan secara rutin. Bukankah kedua dinas tersebut bisa saling berkoordinasi sehingga langkah preventif bisa dilakukan guna menjaga kasus keracunan makanan tak terulang. Paling tidak di lingkungan sekolah. Jangan justru saling menunggu dan lempar tanggung jawab. Pesan sederhana yang bisa saya sampaikan, jadilah konsumen yang cerdas dan selektif. Kalau pemerintah alpa memberikan perlindungan pada warganya, paling tidak Anda bisa melindungi diri sendiri dan keluarga Anda.(yuspita_palupi@yahoo.com)

Komentar

komentar

BAGIKAN