Tahun Politik 2018

Beberapa hari lalu, seluruh orang menyambut datangnya tahun 2018 dengan suka cita. Panggung hiburan, kembang api, dan beragam acara menarik lainnya, dihelat di sebagian besar kota-kota di dunia termasuk di Indonesia.

Tidak sedikit juga yang memilih melewatkannya, dengan introspeksi dan membuat resolusi baru di 2018. Lazimnya pergantian tahun, biasanya diikuti dengan harapan-harapan baru.

Bergantinya tahun 2017 ke 2018 ini, bakal menjadi sangat penting bagi bangsa ini. Tahun ini, ada 171 daerah meliputi 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang akan menyelenggarakan Pilkada serentak, termasuk Banyumas.

Beberapa parpol juga sudah mulai nampak berkoalisi, untuk mengusung kandidat seperti telah diwacanakan dan diberitakan melalui media massa.

PKB dan Golkar misalnya, di hari yang sama, kemarin (5/1), merekomendasikan pasangan Mardjoko-Ifan Haryanto sebagai calon bupati dan wakilnya untuk melaju di Pilkada 2018.

Di seberang sana, Dewan Pimpinan Cabang PDIP Banyumas juga sudah menyatakan, pasangan Achmad Husein-Sadewo Tri Lastiono sudah resmi mendapat rekomendasi sebagai pasangan calon bupati dan wakil bupati.

Selain Pilkada serentak, tahun 2018 adalah tahun persiapan menuju pertarungan puncak pemilihan presiden tahun 2019.

Apa harapan di tahun 2018? Harapan klasik, menjadi dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Banyak yang berharap, pemilu tahun ini akan menghasilkan kualitas pemimpin yang lebih baik.

Momentum politik seperti ini, umumnya rawan disusupi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang menginginkan perpecahan.

Pada tahun 2017 yang belum genap sepekan berlalu, ada begitu banyak peristiwa yang harusnya menjadi pembelajaran kita bersama. Mulai dari maraknya isu radikalisme dan terorisme, hingga makin suburnya kelompok-kelompok intoleran dan radikal yang umumnya menciptakan kondisi kurang kondusif.

Suhu politik diprediksi bakal meningkat, saat tahapan pemilu memasuki masa kampanye. Hiruk pikuk politik praktis yang biasanya dibarengi perang opini para juru kampanye yang berebut simpati publik, bakal makin lantang terdengar gaungnya.

Tradisi politik dengan mengumpulkan massa pendukung atau simpatisan, juga bakal menambah semaraknya pesta demokrasi ini.

Hanya saja, dengan karakter masyarakat yang masih rentan konflik sosial seperti saat ini, kegaduhan jelas terjadi kalau sampai tak terkendali.

Lebih menyeramkan lagi, kalau isu agama kembali disangkut pautkan dengan kampanye seperti yang terjadi saat Pikada DKI. Ini yang seharusnya diantisipasi sekaligus dihindari, karena agama sebaiknya tidak dimanfaatkan sebagai alat perjuangan politik.

Sepertinya, cukup sulit mengharapkan tahun 2018 bakal berjalan adem-adem saja. So, sebaiknya kita semua sudah mulai menyiapkan diri dengan memelihara akal.

Belajar untuk obyektif, lebih terbuka, lebih mengedepankan kepentingan publik, dan terpenting belajar lagi untuk bertoleransi. Ini super penting, karena kita tinggal di negara yang tingkat kemajemukannya sangat tinggi.

Keberagaman Indonesia ini, sangat berbeda dengan negara lain. Kalau kita tidak bisa mengolah keberagaman ini menjadi satu kekuatan, justru berpotensi menjadi pemecah belah persatuan. (dedyafrengki@yahoo.com)

Komentar

komentar

BAGIKAN