Trotoar

Pemerintah Purbalingga gemar mempercantik tampilan muka Kota Perwira. Satu di antaranya melalui perbaikan trotoar dan median di kawasan kota. Untuk meningkatkan daya tarik fisik Kota Perwira, pemerintah bahkan sudah menggelontorkan dana beratus juta.

Proyek-proyek dengan nilai rupiah yang luar biasa pun digulirkan. Satu yang paling menarik adalah proyek trotoar di bilangan pembelah kota. Yakni, MT Haryono dan Jenderal Soedirman.

Di sepanjang jalan protokol ini, pemerintah mengubah desain trotoar. Trotoar yang awalnya dibangun dengan paving blok diganti dengan keramik warna-warni. Hasilnya, fasilitas pejalan kaki di dua bilangan tersebut menjadi jauh lebih asyik.

Proyek ini terbukti memberikan perubahan yang signifikan. Permukaan trotoar yang awalnya kasar dan kusam disulap menjadi halus dan mengkilap. Titik-titik yang tadinya terlihat kumuh berubah, sekarang jauh lebih bersih.

Perubahan ini luar biasa dan harus dilihat sebagai prestasi bagi pemerintah setempat, khususnya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) yang menjadi leading setor proyek ini.

Oh ya,  ada satu lagi perubahan yang juga tak bisa dilepaskan dari campur tangan DPU-PR. Perubahan ini boleh dikata yang  paling kentara. Trotoar yang tadinya kusam namun aman dilalui pejalan kaki, sekarang menjadi licin dan berbahaya bagi khalayak ramai. Bagaimana tidak, permukaan keramik di sepanjang trotoar tersebut ternyata menghilangkan friksi antara kaki para pejalan dan permukaan trotoar. Imbasnya, tak sedikit warga yang terpeleset dan terjatuh di trotoar tersebut.

Perkara keramik licin ini pun langsung memicu komentar khalayak. Kabar terkait pejalan kaki yang terpeleset di trotoar baru ini pun tersebar viral di media sosial. Banyak yang menyayangkan perubahan beratus juta tersebut. Banyak yang menyesalkan, mengapa perbaikan malah menyebabkan fasilitas umum sulit digunakan.

Keluhan masyarakat ini makin membuncah. Pernyataan yang awalnya hanya sebatas menyayangkan dan menyesalkan berubah menjadi hujatan bahkan kutukan. Meski demikian, keluhan ini tak lantas mendapat respons dari pemerintah.

Warga yang tinggal atau biasa beraktivitas di sekitar trotoar pun akhirnya mengambil langkah nyata untuk menghindari jatuhnya lebih banyak korban. Trotoar baru yang bersih dan mengkilap tersebut dicoret, dibubuhi tulisan sederhana ‘Awas Lunyu’, tujuannya agar penggunanya lebih berhati-hati saat melangkah.

Tindakan warga ini mulai mendapat perhatian pemerintah. Kontraktor pelaksana proyek mengganti karakter permukaan keramik di beberapa titik. Khususnya di bagian-bagian miring agar tak memakan korban. Namun, hal ini tak cukup. Sebab, permukaan licin tak hanya di bagian miring. Semua bagian licin. Korban-korban terpeleset pun tetap berjatuhan.

Sampai titik ini, DPU PR yang mengontrol proyek tersebut sejak tingkat pembuatan Detailed Enginering Design (DED) seharusnya mulai melakukan evaluasi. Namun, alih-alih menampung aspirasi dan merealisasikan kehendak publik, pimpinan lembaga pelayan publik tersebut, Setiyadi malah memberikan pernyataan tegas bahwa dirinya tak mau mengganti permukaan trotoar.

Dia dengan tegas menyatakan tidak akan menerima dan merealisasikan semua aspirasi warga. Sebab, di kepalanya, yang namanya aspirasi itu bukan sesuatu yang wajib langsung ditindaklanjuti.

Sehari setelah Setiyadi mengeluarkan pernyataan ini, kekhawatiran warga terkait korban dengan luka serius akibat terpeleset benar terjadi.

Adalah Muzaimah, , ibu berusia 44 tahun asal Sambong Wetan, RT 6 RW 2, Banyumas. Ia mengalami patah tulang tangan akibat terpeleset di trotoar cantik karya DPU PR tersebut. Muzaimah terjatuh saat sedang mengajak dua anaknya main ke Purbalingga. Saat itu dia baru keluar dari pertokoan di kawasan Jalan Jenderal Soedirman.

Muzaimah harus menjadi tamparan pertama bagi Setiyadi dan Pemerintah Kabupaten Purbalingga. Karena apa yang telah mereka lakukan malah merusak fasilitas umum yang seharusnya dapat dinikmati khalayak. (topan pramukti)

Komentar

komentar