AJIBARANG, SATELITPOST – Melimpahnya pohon pisang‎ di wilayah Kecamatan Ajibarang membuat Camat Ajibarang, ‎ Eko Heru Surono, S.Sos menilai tanaman holtikultura tersebut bisa menjadi potensi unggulan. Pohon pisang tersebar merata di seluruh desa yang ada di Ajibarang. ” Hasil pertanian pisang ini distribusinya ternyata sudah meluas ke beberapa kabupaten di Jateng bagian barat dan selatan,” katanya kepada SatelitPost, Kamis (7/9).

Melihat potensi lokal tersebut, pihaknya berencana akan mengembangkan budidaya pisang  sebagai gerakan ekonomi kerakyatan yang murah meriah dan massal tapi menghasilkan pendapatan.‎ Dan ke depannya  Ajibarang layak mendapat julukan sebagai Kota Pisang.

Oleh karena itu, dalam beberapa kesempatan, ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan dan memperbanyak serta membudidayakan tanaman pisang yang akhir muaranya adalah peningkatan pendapatan dan  kesejahteraan masyarakat. ” Pisang adalah buah yang murah dan aman dikonsumsi. Penanamannya mudah dan cepat menghasilkan buah.‎‎ Warga yang memiliki tanah pekarangan yang masih luas agar dimanfaatkan dengan ditanami pohon pisang. ” katanya.

‎Untuk mewujudkan itu, saat ini pihaknya tengah mengumpulkan varietas terbaik dulu serta jenis yang laku dan banyak dikomsumsi oleh masyarakat. Menurutnya, di wilayah Ajibarang ‎ada sekitar 15 jenis pisang, diantaranya pisang kapok dan putri nuli yang memiliki nilai ekonomis tinggi.‎

” Pisang putri nuli atau ulin satu tandan seharga Rp 100 ribu. Khusus pisang varietas ini dalam membelinya tidak boleh ditawar karena merupakan bagian perlengkapan atau ube rampe orang mbarang gawe ( hajatan-red). Kalau ditawar ada pamali dan berimbas  tamunya jadi sedikit. ” ujarnya.

Sedangkan pisang kapok merupakan pisang yang laris dipasaran, untuk satu tundun varietas pisang ini dibeli dari petani seharga Rp 50 ribu tapi dijual umum Rp 125 ribu dengan harga eceran satu bijinya Rp 1.000. Umumnya, pisang kapok banyak dibeli dengan model kulakan oleh saudagar atau juragan yang tanpa standarisasi harga. Misalnya, untuk kulakan satu mobil pick up, pisang kapok mentahan atau pisang raja nangka hanya dihargai Rp 2.5 juta.

“Saudagar atau juragan sangat kuasa sekali. ‎ Ini akan dicoba standarisasi harga, namun perlahan karena harga dari pemerintah belum ada.  Maka akan ditempuh harga pasaran tradisional.” kata Eko.‎

Ujicoba, lanjut dia, akan dilakukan revitalisasi pasar Ajibarang yang akan mulai dicoba dengan komoditi pisang. Ia juga berharap, pemerintah turut mendukung ekonomi kerakyatan ini dengan membuat pasar khusus ataupun stasiun agro untuk ‎penampungan komoditas hasil bumi dan lainnya.  (rar)‎

Komentar

komentar