AIRLANGGA Adi Putra, perwakilan GIZ Indonesia memberikan bantuan alat produksi gula kristal kepada petani di Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Purbalingga, Rabu (7/6). SATELITPOST/AULIA EL HAKIM

PURWOKERTO, SATELITPOST-Produksi gula kristal di Banyumas berusaha ditingkatkan, sebagai pilihan baru ditengah harga gula merah cetak yang tidak stabil. Gula kristal sebagai komoditas ekspor dinilai memiliki pasar lebih luas dibandingkan gula cetak yang dipasarkan di pasar lokal.

“Kami tidak hanya berusaha mempertahankan kualitas gula kristal saja, tapi juga memperbanyak kuantitas dan partisipasi petani dalam membuat kristal. Sebab harga gula kristal cenderung lebih stabil dibandingkan harga gula cetak, ” kata Bagus Itsnain, Penyuluh dan Pengawas Produksi gula kelapa dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lingkungan Hidup (LPPSLH).

Ia mengatakan, harga gula kristal di petani saat ini berkisar Rp 13.000 sampai Rp 14.000, harga tersebut terpaut jauh dengan harga gula kelapa cetak yang saat ini di petani hanya Rp 7.000 sampai Rp 8000.

Dukungan peningkatan kuantitas dan kualitas gula kristal di Banyumas juga datang dari lembaga internasional GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit) dari Jerman untuk Indonesia.

Sejumlah bantuan diberikan kepada petani gula kelapa di Banyumas. Pada Rabu malam (7/6) GIZ secara seremonial memberikan alat produksi pembuatan gula kelapa petani gula kepala Di Desa Babakan Kecamatan Karanglewas.

“Ini bagian dari program Saft (standart in asean food trade). Peningkatan perdagangan tingkat asia dalam ekspor impor produk pangan, ” kata Airlangga Adi Putra, perwakilan GIZ Indonesia. (kim)

 

Komentar

komentar

LEAVE A REPLY