PERTUNJUKAN sintren dari kelompok kesenian Wahyu Mugi Lestari Desa Penusupan, Cilongok damal acara Festival Unggulan Kecamatan di Lapangan Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Rabu(8/4). SATELITPOST/AGUS SETIYANTO

Ela-ela

Ela-ela rokok dawa tali sutra

Sintren siji lagi kepingin udud njaluk ning sapa

Kaki duda utange pira nini randa sing nyaurina

Nyaurina nggo sapa?

Nyaurina nggo Sintren siji sing lagi kepingin rokok dawa taline sutra

 

(Ela-ela / Ela-ela rokok panjang bertali sutra / Ada penari Sintren sedang ingin merokok, tapi minta rokoknya ke siapa / Kakek duda punya utang, tapi nenek janda yang membayar utang / Bayar utang kepada siapa? / Membayar utang kepada penari Sintren yang sedang ingin merokok panjang bertali sutra)

 

Sabtu (8/4) malam ratusan warga memadati Lapangan Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas. Mereka ingin menyaksikan Festival Kesenian Unggulan Kecamatan. Festival ini diikuti kelompok kesenian dari sembilan kecamatan di pinggir barat kabupaten itu.

Jauh hari sebelumnya, seorang pegawai Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas meminta SatelitPost untuk hadir di acara itu. Menurut pegawai tersebut ada kemungkinan satu di antara kelompok kesenian yang hadir adalah Sintren.

“Anda harus datang. Siapa tahu masih ada kelompok kesenian Sintren yang tampil. Kami tidak bisa memastikan apakah kesenian khas pantura itu masih eksis di Banyumas atau tidak,” ujar Carlan SSn, Kasi Tradisi Sejarah Purbakala Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Kamis 10 April 2017.

Menurut Carlan, Sintren merupakan kesenian tua sekaligus langka di Banyumas. Kesenian ini berasal dari pesisir pantura Jawa Tengah dan Jawa Barat yang menyebar ke Banyumas dan Cilacap. Orang-orang di pinggiran dua kabupaten tersebut, yang secara geografis dekat dengan budaya Sunda; Majenang, Gumelar, Wangon, dan Lumbir biasanya pernah melihat pertunjukan Sintren.

Ada perbedaan mendasar antara Sintren di Banyumas (selatan Jawa) dengan Sintren di utara Jawa. Di pantura penari Sintren selalu diperankan gadis belia yang belum haid, sedangkan di Banyumas tidak selalu demikian; Sintren juga diperankan oleh remaja laki-laki. Masyarakat Banyumas menyebutnya sebagai Sintren Lanang (Sintren Laki-laki) atau Lais (Laisan).

“Sintren atau Laisan ini biasanya dipentaskan bersama kuda kepang. Adaptasi ini biar penonton tidak bosan,” ujar Sikun Siswadi (65), dukun atau pawang Sintren, beberapa menit sebelum tampil di festival kesenian unggulan kemarin.

Sebelum pentas Sikun menyiapkan sejumlah peralatan. Antara lain kurungan kerucut dari bambu yang ditutup dengan kain hitam panjang. Kurungan ini dipercaya memiliki kekuatan gaib.

Sikun juga menyiapkan sesajen sebagai syarat untuk memanggil bidadari selama pertunjukan Sintren. Antara lain aneka bunga, minyak wangi, air putih, kopi, dan rokok siong. Rokok siong merupakan rokok lintingan seukuran jari kelingking laki-laki dewasa yang di dalamya berisi tembakau, kelembak, dan kemenyan. Dukun sintren seperti Sikun menyebut rokok ini sebagai rokok wangi.

Setelah semuanya siap, Sikun pun naik ke atas panggung. Dia duduk bersila membelakangi kurungan hitam itu. Tampah berisi sesaji di hadapannya mengelurkan bau wangi ke seluruh penjuru panggung. Seorang remaja laki-laki calon Sintren Lanang duduk diam di samping kanan Sikun.

Tak lama kemudian Sikun berdiri dan membuka kurungan tersebut. Remaja laki-laki itu dibimbingnya masuk ke dalam kurungan. Sikun kemudian kembali duduk bersila membelakangi kurungan yang di dalamnya sudah berisi si calon Laisan. Kali ini dukun Sintren itu memegang keris kecil, komat-kamit, dan berkonsentrasi.

Sekitar 15 menit kemudian Sikun beranjak dari tempat duduknya. Dia menyuruh seseorang untuk membuka kurungan itu. Ajaib, remaja laki-laki itu sudah berubah wujud menjadi seorang perempuan berkebaya lengkap dengan tata rias wajah mencolok nan anggun.

Si Laisan kemudian berdiri keluar dari kurungan. Dia berjalan beberapa detik di atas panggung sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam kurungan dan berubah wujud seperti semula. Penonton tidak melihat si Sintren Lanang itu menari apalagi merokok di atas panggung.

Si Sintren Lanang diperankan Aldi Setiawan. Siswa SMP PGRI 2 Cilongok ini mengatakan baru tiga kali menjadi Laisan. Saat berada di dalam kurungan ayam dan mencium bau kemenyan dia mengaku langsung tidak ingat apa yang terjadi. Aldi juga tidak mengetahui makhluk gaib yang mendandani dan merias wajahnya.

Sikun merupakan satu-satunya pawang Sintren yang tampil di festival kesenian unggulan kemarin. Dia memimpin kelompok kesenian Wahyu Mugi Lestari. Kelompok kesenian dari Desa Panusupan Kecamatan Cilongok ini bukan murni kelompok sintren, di dalamnya juga ada Kuda Kepang dan Ebek Gendhong.

“Maaf mas, tadi waktu yang disediakan panitia sangat terbatas. Jadi, tidak sempat ada adegan Sintren merokok atau minta rokok wangi,” ujar Sikun, di belakang panggung usai pentas. Menurut Sikun pertunjukan Sintren yang normal membutuhkan waktu paling sedikit dua jam, sedangkan acara festival kemarin hanya menyediakan waktu maksimal satu jam.

Daun Nipah, Kawung, dan Klobot

Empat hari sebelumnya, SatelitPost mewawancarai Wastim (60) seorang pawang Sintren di Dukuh Karangkemiri Desa Tlaga Kecamatan Gumelar. Tapi, pendiri kelompok Wahyu Budaya ini mengaku sudah dua bulan terakhir tidak lagi menggelar pertunjukan Sintren.

Sintrene wis masuk SMP, dadine ora gelem Sintrenan maning. Sing dadi Sintren biasane bocah wadon kelas telu atawa papat SD (penari Sintren-nya sudah masuk SMP, sudah tidak mau lagi menjadi Sintren. Penari Sintren biasanya anak perempuan yang masih duduk di kelas tiga atau empat SD),” ujar Wastim di rumahnya di RT 01 RW O4 desa setempat.

Dalam prosesi pementasan Sintren si penari harus benar-benar masih suci lahir batin; dalam arti secara fisik masih perawan dan secara psikologis lugu. Penari Sintren merupakan lakon utama dalam sebuah kelompok kesenian Sintren. Tanpa adanya si penari, dengan sendirinya kelompok kesenian Sintren berakhir.

Wastim sudah sejak kecil mengenal Sintren. Dia mempunyai sanggar berukuran 3X4 meter persegi yang digunakan untuk melatih anak-anak usia SD di dekat rumahnya berkesenian. Dari sanggar itulah ia banyak melahirkan penari Sintren.

Menurut Wastim jejak rokok wangi pada kesenian Sintren sudah ada sejak pertama kali kesenian ini muncul di Cirebon Jawa Barat. Setiap pentas pawang Sintren selalu menyediakan tembakau, kelembak, dan kemenyan. Ketiga rempah-rempah ini awalnya dibungkus menggunakan daun nipah yang banyak hidup di rawa atau daerah pertemuan antara aliran sungai dan laut.

Tapi pawang Sintren di Banyumas lebih suka menggunakan kawung ataupun kulit jagung kering (klobot) sebagai pembungkus racikan tembakau, kelembak, dan kemenyan. Kawung merupakan daun aren muda kering yang dipotong kecil-kecil seukuran papir (kertas rokok).

Setelah muncul rokok siong para dukun Sintren tidak lagi melinting tembakau, kelembak, dan kemenyan menggunakan kawung atau klobot. Mereka memilih membeli rokok siong di warung-warung pinggiran desa setempat. Rokok wangi dari Gombong Kebumen itu pun akhirnya menyatu ke dalam pertunjukan Sintren.

Penari Sintren yang sedang trance (kesurupan) sangat menyukai rokok jenis ini. Menurut Wastim setiap pawang Sintren pasti mengetahui kapan si penari Sintren sedang ingin merokok. Waktunya bisa di awal pertunjukan, saat menari, ataupun ketika si Sintren sejenak istirahat sebelum memulai babakan (babak) Sintren berikutnya.

“Ada Sintren yang menggunakan isyarat tapi ada juga yang secara langsung bicara kepada pawang. Kalau sukma antara Sintren dan pawang sudah menyatu, biasanya Sintren bisa langsung bicara minta rokok,” ujar Wastim.

Tentu saja si pawang ini tidak bisa menolak keinginan si Sintren. Dia akan langsung mengambil rokok wangi untuk diserahkan kepada si Sintren. Si penari Sintren pun merokok, klepas-klepus, bisa sampai habis sebatang ataupun hanya setengah.

Saat Sintren sedang merokok, para penyanyi (sinden) dan penabuh gamelan pun mengerti apa yang harus segera dilakukan. Mereka langsung menyanyikan lagu berbahasa Jawa berjudul Mbako-mbako. Tembang ini juga diyakini sebagai mantra magis.

Mbako-mbako..Sintren siji lagi ngudi..Ngudi apa? Sintren suci njaluk udud.. Mbako-mbako..

(Tembakau-tembakau..penari Sintren sedang punya keinginan..apa keinginannya? Si penari Sintren yang suci ini sedang minta rokok.. Tembakau-tembakau..)

Angger Sintren udude durung rampung lagune aja dilerenna (Kalau merokoknya belum selesai, lagunya jangan berhenti),” ujar Wastim sambil menyanyikan lagu Mbako-mbako tersebut.

Para sinden tidak hanya hafal satu judul lagu bertemakan Sintren dan rokok. Mereka juga biasa menyanyikan tembang lain berjudul Ela-ela yang liriknya tertulis jelas di awal tulisan panjang ini. Mbako-mbako dan Ela-ela merupakan dua judul tembang yang wajib ada di setiap pertunjukan Sintren.

Budiono Herusatoto di dalam buku Banyumas; Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak terbitan LKiS 2008, menulis secara rinci jejak rokok campuran tembakau, kelembak, dan menyan di dalam kesenian Sintren. Secara garis besar tulisan tersebut sebagai berikut:

Sintren adalah seni pertunjukan rakyat Jawa-Sunda; seni tari yang bersifat mistis, memiliki ritus magis tradisional tertentu yang mencengangkan. Tarian Sintren adalah tarian rakyat yang penuh gerak, lebih tegas, sesuai dengan detak-detak kendang dan bedug sehingga hampir mirip dengan tari Jaipongan, tari Topeng Betawi atau tari Banyuwangian.

Kenangan rakyat terhadap Sintren masih melekat sampai dengan tahun 1990, berkat adanya merek rokok siong yang bersimbol gambar Sintren (penari bedaya Srimpi) meskipun, bila dicermati, gambar penari Srimpi itu tidak mewakili gambar penari Sintren sesungguhnya. Busana penari Sintren berbeda jauh dengan penari Srimpi. Mata penari Sintren ditutup dengan sapu tangan putih yang dilipat, kemudian diikatkan ke belakang kepala serta memakai kacamata hitam.

Tarian Sintren terdiri dari empat babak. Di antara masing-masing babak, sang Sintren beristirahat untuk minum air putih, makan kembang telon, merokok siong yang disulutnya sendiri dengan pemantik api buka-tutup model kuno. Semuanya dilakukan dengan berlenggak-lenggok sambil duduk bersimpuh. (Agus Setiyanto)

————————-

 

Puji Dwi Darmoko

Lulusan Pasca Sarjana Program Studi Kajian Budaya UNS

Peneliti Sintren dan Dosen STIT Pemalang

 

 

Tembakau Simbol Kebebasan

News Analisis

Sintren adalan kesenian tari tradisional masyarakat Jawa Tengah di wilayah pantura. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Barat, antara lain di Pemalang, Pekalongan, Brebes, Banyumas, Kuningan, Cirebon, Indramayu, dan Jatibarang.

Ada yang berpendapat asal usul Sintren merupakan upacara pemanggilan ruh. Ini dilihat dari lagu-lagunya yang masih memiliki sifat magis religius dengan adanya adegan kesurupan (trance). Juga dilihat dari sifat permainannya yang dipimpin oleh seorang pawang atau dukun.

Keunikan dalam pertunjukan Sintren adalah penari yang semula berpakaian biasa dalam keadaan tubuh dan tangan terikat mampu menjelma (di dalam kurungan) menjadi gadis cantik berpakaian indah dan memakai kacamata hitam. Kaca mata hitam tersebut untuk menutupi posisi biji mata sewaktu kesurupan.

Pertunjukan kesenian Sintren tidak lepas dari jenis-jenis tembang. Tembang dalam kesenian ini merupakan tembang iringan yang mempunyai daya tarik sebagai mantra.

Satu tembang yang wajib dinyanyikan adalah Kembang Mbako. Tembang ini dinyanyikan saat adegan membuka kurungan yang pertama kali untuk meyakinkan penonton dengan melihat kondisi penari Sintren yang masih terikat tetapi telah berganti busana sampai Sintren masuk kembali ke dalam kurungan.

Syair tembang tersebut sebagai berikut:

Kembang Mbako

Kembang mbako tunggal tunggul kacang ijo

Kupu tarung loro loro Sintren metu rampyo rampyo

Tembang Kembang Mbako merupakan simbol kebebasan. Isi dari syair tembang ini menyimbolkan bahwa penari Sintren bebas menari setelah keluar dari kurungan dan juga melepas ikatan dengan bantuan roh yang dipercaya sebagai bidadari. (Agus Setiyanto)

 

 

Komentar

komentar