BOWO Leksono (dua dari kiri) dan Yuda Kurniawan (dua dari kanan) berfoto bersama kru Cinema Lovers Community (CLC) dan Armada Layar Tanjleb yang baru, beberapa waktu lalu.

PRIA berpeci hitam itu menggenggam mikrofon. Dari dalam kabin mobil pikap berbendera merah putih, ia mengumumkan sebuah gelaran tahunan Festival Film Purbalingga dalam bahasa Banyumasan. Gelaran tahunan ini kemudian menjadi penanda keberadaan komunitas yang hingga kini masih konsisten menyemai budaya literasi melalui layar tanjleb (layar tancap) ke berbagai pelosok desa.

Pria berpeci itu benama Bowo Leksono, pendiri sekaligus Direktur Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga. Sejak 2006, setiap tahun CLC Purbalingga terus-menerus menggelar Festival Film Purbalingga secara mandiri. Festival film ini menjadi ajang penganugerahan film terbaik karya pelajar se eks Karesidenan Banyumas yang meliputi Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara dan Kebumen. Tak hanya itu, dalam festival film ini CLC juga bergerilya memutar film-film karya pelajar ke desa-desa se eks Karesidenan Banyumas melalui program Layar Tanjleb. Melalui program ini, CLC membuka akses dan ruang diskusi untuk publik tentang isu-isu kekinian yang tengah dihadapi masyarakat. “Kami memulung isu-isu yang sedang hangat di media massa. Jika media hanya meng-cover permukaannya, kami coba mendalaminya melalui film,” ujar Bowo ketika ditemui di Markas CLC di Jl Puring, Purbalingga.

Sebelum berkarya, para pelajar ini mendapat pelatihan dari tim CLC. CLC menggelar workshop sinematografi di sekolah ke sekolah. Siswa diajari keterampilan membuat film mulai dari teknik menulis naskah, pengambilan gambar hingga editing. Inilah yang kemudian melahirkan ekskul sinematografi di sekolah-sekolah. Melalui ekskul ini, para pelajar mendapat ruang untuk berkarya. Beberapa film yang dihasilkan pelajar ini bahkan berhasil menyabet penghargaan hingga tingkat nasional. Dari tahun 2006 hingga kini, CLC Purbalingga telah memfasilitasi produksi film pendek pelajar SMP dan SMA sebanyak 245 film, 80 di antaranya memenangkan penghargaan festival film tingkat nasional.

Yuda Kurniawan, pendiri Rekam Doc, merekam perjalanan Bowo Leksono dan CLC dalam sebuah film dokumenter berjudul Balada Bala Sinema. Yuda mengatakan, kiprah Bowo dan kawan-kawan perlu didokumentasikan karena CLC satu-satunya komunitas di Indonesia yang mampu menjalankan seluruh fungsinya sebagai media literasi film. “Tak hanya memproduksi film-film pendek, tapi juga membuka ruang-ruang pemutaran, diskusi, workshop dan menggelar Festival Film selama satu bulan penuh selama 10 tahun secara mandiri tanpa bantuan dana dari pemerintah maupun swasta,” kata pria kelahiran Manggarai, Nusa Tenggara Timur ini.

Akhir November lalu, film dokumenter berdurasi 118 menit ini mendapat apresiasi di ajang 28th Singapore International Film Festival. Film dokumenter ini bahkan dikupas secara khusus dalam sebuah diskusi panel bertajuk “Indonesian Cinema After The New Order” dengan panelis yang terdiri dari Adrian Jinathan Pasaribu (Pendiri Cinemapoetica), Bowo Leksono (pendiri CLC Purbalingga), Herry Suryahadi (sutradara sekaligus produser) dan Yuda Kurniawan sendri. “Ini sekaligus sebagai bagian perayaan 50 tahun hubungan bilateral antara Indonesia-Singapura,” ujar lulusan Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Film dokumenter yang rencananya naik ke bioskop pada tahun 2018 ini juga membuat Kritikus film Eric Sasono meralat pendapatnya sendiri yang dituangkan dalam kata pengantar buku Katalog Film Indonesia yang ditulis JB Kristanto tahun 2007 silam. Dalam esai bertajuk “Budaya Sinema Milik Siapa?” (Jurnal Ruang,2017) Eric menilai “Balada Bala Sinema” menjadi bantahan terhadap premisnya sendiri yang menyebut budaya menonton di abad pergantian hanya milik kaum menengah ki kota-kota besar. Ini karena 80 persen bioskop berada di kota-kota besar, khususnya di pusat-pusat perbelanjaan seperti mal dan plaza. Namun apa yang dilakukan CLC menunjukkan budaya menonton juga milik masyarakat perdesaan. Terbukti ketika pemutaran layar tancap di desa-desa, ratusan bahkan ribuan warga desa itu tumpah ruah di ruang pemutaran sebagaimana terdokumentasikan dalam “Balada Bala Sinema”. “Budaya sinema tidak hanya bagian dari budaya konsumen di pusat perbelanjaan seperti plaza dan mal, melainkan sebuah budaya pedestrian: budaya yang dipenuhi para pelakunya yang berjalan kaki menuju ke dan pulang dari tempat pertunjukkan, bukan hanya didatangi oleh mereka yang berkendaraan pribadi atau menyewa taksi.” tulis dia.

Lebih jauh Eric menafsirkan film di mata pegiat komunitas sebagai gerakan sosial dalam bermedia. CLC misalnya, menggunakan medium film untuk menularkan kesadaran kritis pada publik terhadap isu-isu yang sedang dihadapi masyarakat. Dalam film “Lawuh Boled” misalnya, para pelajar mengkritik peliknya distribusi raskin yang kerap tak tepat sasaran. Atau film “Nyathil” yang berkisah tentang korupsi bantuan rehab rumah tak layak huni dan “Peronika” yang menggambarkan kegagapan masyarakat terhadap perkembangan teknologi komunikasi. Semua disajikan sebagai bagian dari upaya penyadaran bahwa ada ketimpangan yang harus segera disikapi. “Kebiasaan baru bermedia inilah yang kemudian berkembang sebagai sebuah budaya sinema baru, di mana sinema digunakan oleh suatu komunitas tertentu untuk membantu mereka memahami dan memengaruhi dunia sekitar mereka.”

Dalam mendistribusikan film ke tengah penonton, CLC memiliki armada Layar Tanjleb yang khas. Sebuah mobil pikap sewaan ditambah atap dari terpal di bagian bak terbuka untuk melindungi alat-alat dan kru dari hujan dan panas. Pada samping kanan dan kiri armada ini dibentangkan spanduk bertuliskan armada layar tanjleb beserta tema yang diangkat pada Festival Film Purbalingga tiap tahunnya. Tak lupa perangkat pengeras suara dipasang di atas atap kabin. Setelah sekian lama menanti, pada tahun ini CLC akhirnya memiliki armada dari hasil jerih payah sendiri, sebuah mobil box Daihatsu Grandmax. Bowo mengaku memilih kendaraan yang tak terlalu besar agar bisa menjangkau jalan-jalan desa yang sempit, terjal dan tak beraspal. “Kami akan coba untuk tahun depan,” kata Bowo.

Bagi CLC, armada ini bukan sekadar kendaraan pengangkut alat dan kru layar tanjleb. Semua bertaut membentuk kenangan yang selalu dirindukan. Armada ini sudah seperti rumah kedua yang penuh kenangan. Kenangan yang terukir selama 10 tahun perjalanan menaklukan cuaca dan medan terjal berliku menyemai budaya literasi di pelosok desa. Di sisi lain, armada itu membentuk citra sebagai komunitas film yang konsisten berkarya. Inilah yang ingin terus dijaga bersama armada yang baru dalam ikhtiar menyemai budaya literasi di tengah warga desa.(rudal afgani)

Komentar

komentar

BAGIKAN