BANYUMAS, SATELITPOST – Profesi petani kian hari kian ditinggalkan generasi muda. Kepala Dinas Pertainian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas, Widarso mengatakan bahwa masalah keengganan generasi muda menjadi generasi petani sangat kompleks, seperti faktor tren , minimnya keterampilan dan tak pastinya penghasilan dari bertani menjadi faktor generasi petani muda berkurang.

“ Faktor pertama yakni tren, generasi muda tidak merasa bangga kalau ia jadi petani,  mereka enggan, rasa ketertarikan  terhadap dunia sawah dan pertanian kecil, bahkan tidak ada,” katanya, Kamis (7/9).

Ia menambahkan bahwa pemuda sekarang jarang yang memiliki keterampilan dan keahlian bertani, sehingga sulit untuk melakukan usaha tani, juga penghasilan dalam pertanian tidak pasti. “Ya kan tetap membutuhkan keahlian dan keterampilan bertani, juga penghasilan bertani tidak menentu. Kalau lagi apes kan bisa gagal panen,” ujarnya

Lahan Pertanian di Banyumas, imbuhnya, sampai saat ini 32.000 hektare, lahan teknis 10.000 hektare, dan sisanya setengah teknis dan non teknis, lahan teknis  airnya terjamin sehingga menjadikan tanahnya bisa digunakan untuk tiga kali tanam.“ Di Banyumas lahan pertanian sampai 32.000 hektare, nah seharusnya pemuda juga bisa bertani tidak harus padi, tapi sayuran juga bisa. Peluangnya besar dan menguntungkan, karena sayuran itu harganya tidak stagnan. Apalagi kalau kita bisa membuat packing yang rapih dan higienis harganya bisa tinggi,  Kalau padi kan harganya tetap, kan beras makanan pokok,” katanya.

Menurutnya dinas sudah melakukan upaya pelatihan , penyuluhan agar pemuda mau terjun di bidang pertanian. “ Kami sudah mengupayakan membuat program , bahkan ada yang magang sampai ke Jepang, nah nanti diharapkan yang magang tadi bisa menyebarkan ilmunya dan  memberikan gebrakan-gebrakan baru di dunia pertanian,” ujarnya.

Ia berharap generasi muda tidak perlu khawatir dan takut meghadapi lapangan kerja, sebab pemuda bisa bekerja sebagai petani. “Coba kalau di pekarangan rumah kita ditanami saja dengan 20 pohon pisang itu kan lumayan ada hasil, kami siap membantu, kalau pemuda dan masyarakat mau, kita bisa adakan pelatihan dan penyuluhan lanjutan,” katanya.

Parjono petani Desa Purbadana, Kecamatan Kembaran, Banyumas mengatakan, faktor mengapa generasi muda enggan bertani  karena pengeluaran tidak sebanding dengan penghasilan. “Pengeluaran dan penghasilan tidak seimbang, apalagi kalau gagal panen kan petani hancur,” katanya.

Ia berharap  pemerintah lebih memperhatikan masalah petani  dan  generasi muda ke depan bisa menemukan peralatan-peralatan canggih, agar lebih mudah dalam bertani dan bercocok tanam. “Meskipun petani  sekarang sudah jarang peminatnya, tapi saya  optimis generasi muda mendatang bisa menemukan peralatan yang bisa memudahkan kerja petani, kerjanya bukan hanya otot tapi juga pakai otak,” ujarnya.

Diana,mahasiswa IAIN Purwokerto berrpendapat penyebab dari enggannya generasi muda untuk bertani dikarenakan sebagian masyarakat menganggap bahwa profesi petani itu tidak bergengsi dan kurang menjanjikan. “Sebagian masyarakat menganggap bertani itu kurang menjanjikan dan kalau pemuda menjadi petani dianggap kurang sukses, ya pemuda kita jadi down duluan lah,” ujarnya. (cr)

Komentar

komentar

BAGIKAN